Ngaso #26: Sithik-Sithik Bid’ah, Sithik-Sithik Politis

Konon, menurut sejumlah literatur yang belum diterbitkan, kemajuan teknologi informasi dan komunikasi membuat manusia gampang dan bebas menuangkan pendapat. Khususnya di internet melalui media sosial yang tanpa batas itu.

Cak Ri CS tidak suka main internet. Selain karena mereka Gaptek, mereka merasa hidup ini terlalu indah untuk dilewatkan terlalu banyak di hadapan layar HP, PC, ataupun layar TV. Itu juga yang menyebabkan mereka jarang nonton sinetron.

“Wong gak paham agomo, isok ngapirno uwong liyo. Wong sinaune jurusan manajemen ato sastra Arab, isok mengkritisi kebijakan politik pemerintah. Luar biasanya, kan?! Itulah yang terjadi saat ini,” kata Wak Kopleh berapi-api.

“Banyak yang menjadi luar biasa gara-gara kemajuan teknologi. Banyak yang menjadi macan fesbuk. Harimau twiter. Singa instagram. Dan yang tak kalah penting, jadi Raja Copas, copy paste!” kali ini, adik ipar Cak Ri, Sidul, ikut cangkruk.

“Omongan ustadz sing senengane ngomong bid’ah bid’uh, dicopas kono kene. Padahal, sing nyopas tidak pernah benar-benar membaca kitab-kitab agama yang jumlahnya sekian banyak. Tidak pernah mondok, atau belajar agama secara khusus dalam tempo yang lama. Belajarnya sekadar bulat-bulat lewat website si ustadz atau youtube para lulusan Madinah,” tambah Sidul.

Dia lupa, Cak Ri CS tidak tahu apa itu artinya Copas. Karena sudah kadung semangat nyocot, dia nyocot terus seperti takkan berhenti semalam suntuk. Koyok Sepur ke Bandung-Surabaya.

“Benar. Kerap kali, banyak orang yang karena kesibukan ngurus duniawi alias kerja siang malam, jadi malas mbaca Yasin. Masalahnya, yasinan malah mereka bid’ahkan. Duh! Melarang taklid buta, padahal diri sendiri taklid buta,” sahut Mas Jo. Diiringi anggukan Cak Ri, Cak Gonggong, dan Saragun yang sejatinya tidak pernah ikut yasinan karena bukan orang Islam.

“Tak hanya soal agama, soal politik juga. Sing nyalahno wong cino muji wong Arab, muji wong cino nyalahno wong Arab, padahal masjid ngarep omah gak mok benehno, urusan di lingkup RW mung isok ngelokno penguruse. Menungso kemrungsung!” ungkap Wak Kopleh.

Warkop Mas Jo seperti menjadi agakpanas. Semua yang ngomong lagi emosi, entah mengapa. Ngomak-ngamuk karepe dewe.

“Penyebabnya, Media Sosial dan internet yang membuat semua orang lihai bicara dan informasi menjadi liar. Eh bukan juga, sih. Penyebabnya, ya mungkin karena kita sendiri yang malas introspeksi,” papar Sidul.

Cak Ri, Cak Gonggong, dan Saragun seperti males ngomong. Hari itu, mereka ikut mendengarkan saja. Tampaknya, emosi mereka masih terkendali. Jadi, ya buat apa ikut-ikutan terbakar.

 

 

BACA JUGA:

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here