Ngaso #25: Mental Gratisan

Seperti biasa, Sidul selalu berapi-api bila berbicara dengan Cak Ri. Mungkin, karena mahasiswa Ilmu Politik itu menganggap dirinya lebih pandai dari kakak iparnya yang berprofesi serabutan sebagai pekerja kasar tersebut. Jadilah dia merasa bebas lepas tak terkendali kalau lagi ngomong.

Kali ini, dia nggacor soal kawan-kawannya yang hobi mencari gratisan dan minta traktir. “Mahasiswa kok mentalnya tiga-tiga,” kata dia. Sekadar informasi, tiga-tiga atau 33 adalah kata lain dari pengemis, berdasar buku tafsir mimpi yang ngehits di era SDSB sampai masa boomingnya togel. Ada yang tidak tahu apa itu SDSB? Silakan cari tahu sendiri!

Sidul yang saat baru datang langsung disuguhi Ning Tin kopi ireng itu mengeluhkan yang terjadi padanya pas ulang tahun dua minggu lalu. Kawan-kawannya minta traktiran. Dengan terpaksa, ditraktir jua beberapa teman itu untuk makan di restoran menengah. Sebulan sebelumnya, imbuh Sidul, kolega-kolega itu juga minta buku puisinya secara gratisan.

“Buku puisimu diterbitkan oleh siapa? Judulnya apa?” tanya Cak Ri. “Saya terbitkan secara indie, Cak. Judulnya, Kisah-Kisah Cinta Tak Sampai,” jawab Sidul. “Kok alay begitu! Kamu pasti kebanyakan gumbul cabe-cabean di kampus,” Ning Tin yang baru menidurkan Jojo ikut nimbrung.

“Entahlah. Yang jelas, buku puisi 60 halaman itu kujual hanya Rp 20 ribu. Tapi, kawan-kawanku tetap minta gratisan. Dasar mahasiswa yang tak suka menghargai karya orang lain! Kalau gak minta gratisan, paling nyari fotokopian dengan harga miring. Jiwa-jiwa pembajak!” seru Sidul.

“Jangan emosional. Kupikir, semua mahasiswa memang suka efisiensi dan efektifitas. Itu lumrah. Nah, kalau kamu tidak suka mental mereka, ya kamu jangan ikut-ikutan seperti itu. Kalau perlu, kamu langung nasehati mereka. Ojok nggrundel neng guri!” Cak Ri ceramah. “Lha iyo, nek koen rasan-rasan thok wanine, ya barti mentalmu yo tempe!” Ning Tin ngegongi.

“Mbuhlah. Pokoke, kalau nanti mereka ulang tahun atau menerbitkan buku, aku harus minta traktiran dan gratisan juga! Titik!” ujar Sidul setengah berteriak.

Lhah dalah! Cak Rid an Ning Tin geleng-geleng hamper serempak.

BACA JUGA:

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here