Ngaso #24: Pejabat Korupsi

Belum lama ini, salah satu hakim Mahkamah Konstitusi yang mantan politisi kena kasus korupsi. Ditangkap tangan oleh lembaga anti rasua Indonesia bernama KPK. Apa kepanjangannya? Kebacut nek gak eruh!

Topik ini jadi bahasan hangat di Warkop Mas Jo. Cak Ri Cs saling lempar pendapat dan saling sok tahu. “Siapa tahu dia tidak bersalah. Pas habis ditangkap, di depan pintu keluar KPK, yang juga pintu masuk itu, pejabat itu berkilah tidak kenal Si A, apalagi duitnya!” kata Wak Kopleh. “Tapi, bukannya semua pejabat yang ketangkao KPK juga berdlih banyak?” sahut Cak Gonggong dengan dahi berkerut.

Beberapa detik mereka hening untuk menyeruput kopi susu masing-masing. Entah mengapa, hari itu, mereka, Saragun, dan Cak Ri, tidak ada yang memesan kopi. Mau variasi minuman, demikian dalih yang dicetuskan.

“Ini beda. Pejabat ini religius,” kata Wak Kopleh. “Saking religiusnya, seingatku, pas waktu itu diumumkan kalau namanya diangkat jadi menteri, dia langsung sujud syukur,” kata Cak Ri. “Kamu ngece, nyindir, atau satir?” Saragun menimpali sambil ngunyah kerupuk udang sebungkus limangatusan. “Maksudmu?” kali ini Cak Ri yang jidatnya mengernyit.

“Lhah, orang baik kok pas dapat jabatan malah bersyukur. Seharusnya, kan ketakutan. Dulu, pas Umar bin Abdul Aziz diangkat sepupunya yang bernama Sulaiman menjadi raja, Umar menolak habis-habisan. Pas Umar bin Khaththab diminta Abu Bakar meneruskan kepemimpinannya pun, si Singa Padang Pasir itu menolak mati-matian. Bahkan diceritakan, dia sampai menangis sesenggukan sepanjang malam,” Saragun menjelaskan beserta cerita sejarah masa silam.

“Walah! Kamu bukan orang Islam tapi kok paham sejarah Islam, Gun?!” Wak Kopleh terperanjat. Kawan-kawannya keheranan. “Dulu pas SMP, saya sempat satu tahun sekolah di Muhammadiyah,” kata Saragun. “Saya suka baca sejarah-sejarah pemimpin Islam di masa silam yang heroik, patriotik, perutnya rata karena banyak puasa, dan tidak gila jabatan. Saya tahu banyak ulama Islam yang menghindari Umaro alias pemerintah. Bahkan, saya tahu, tiap hari Ali bin Abi Thalib berkurban kambing muda, sementara dia makan roti kering yang dicelup dengan air,” ckckckckc, Saragun layak disebut Ustad Solmed KW2.

“Ya mudah-mudahan saja yang salah terbukti salah, yang benar terbukti benar. Biar adil hidup ini,” papar Mas Jo. “Tapi, walaupun gak dapat keadilan di dunia. Yakinlah, di akhirat juga keadilan yang sempurna itu,” Sarugun menambahi.

“Yaaaa Salaaaam! Koen kesambet wali liwat koyoke, Gun!” Cak Gonggong merasa aneh dengan ucapan sok agamis dari Saragun. “Koen koyoke mulai seneng Islam. Ape melbu Islam koen yo!?” entah, kali ini Cak Ri berkelakar atau serius. Karena, wajahnya terlihat datar.

“Untuk mengagumi Islam, seseorang tidak perlu menjadi Islam. Untuk berbuat baik, seseorang tidak perlu banyak berdalil. Karena secara prinsip, jiwa kita selalu ingin dan rindu kebajikan,” Wak Kopleh mulai berkhutbah. “Nek sing ngomong Wak Kopleh, aku gak kaget. Dheke kan mari munggah kaji. Terus, pancen hobi ceramah,” urai Cak Gonggong.

Tiba-tiba hujan turun. Langsung deras mengguyur. Malam itu, sejak senja, langit memang mendung benar.

 

BACA JUGA:

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here