Ngaso #22: Ucapan Natal

tenaga kerja asing

Hiruk-pikuk di sekitar natal tak hanya soal cemara atau film “Home Alone” yang sudah entah berapa ratus kali diputar di televisi. Belakangan, atau juga mungkin sudah sejak lama, perdebatan soal halal-haram mengucapkan natal di kalangan muslim ikut jadi isu sexy. Bahkan, tercuat pula materi yang cukup anyar: topi sinterklas!

Ya, sebagian orang Islam mewanti-wanti perusahaan yang suka menyuruh karyawannya pakai topi sinterklas yang imoet-imoet warna merah dan putih terkombinasi itu. Kalau karyawannya islam, tidak boleh ada suruhan pakai topi seperti itu, kira-kira demikian warning sebagian ormas, yang mengklaim sekadar menegakkan perspektif Majelis Ulama Indonesia.

“Saya nggak ngurus soal ucapan natal atau topi sinterklas. Yang saya sayangkan, kalau umat Islam debat kusir soal ini. Energi terkuras. Dapat apa? Ya dapat saling sinis antar umat Islam sendiri, kan?!” urai Wak Kopleh mengawali perbincangan di Warkop Mas Jo.

Kawan-kawannya sekedar manggut-manggut. “Tanpa mengucapkan selamat natal pada Saragun, dan tanpa pakai topi sinterklas, saya yakin, Saragun tahu betapa saya bertoleransi dan mencintainya,” lelaki paro baya itu melanjutkan. “Saya yakin, Wa. Tapi tolong, diksi mencintai itu diganti. Misalnya, dengan kata berteman akrab. Bukan apa-apa, nanti kalau salah sangka, bisa-bisa Wak Kopleh dituduh hombreng atau biseks. Ya, kalau Wak Kopleh saja yang disangka hombreng, kalau saya juga kenak awu anget dituduh demikian, kan saya rugi banyak,” Saragun menyergah, teman-temannya terkekeh, Wak Kopleh melengos sambil nyeruput kopi susu di cangkir.

“Tapi, Wak Kopleh juga tidak boleh nyinyir dengan saudara-saudara muslim yang menganggap, ucapan natal itu boleh-boleh saja, lho” Cak Ri menimpali.

“Lho, saya sangat tidak keberatan. Monggo kerso,” terus Wak Kopleh yang baru naik pada tahun hijriyah silam.

Problemnya, kata Wak Kopleh, mereka yang mengatakan “haram” mengucapkan selamat natal itu, seakan memberi wanti-wanti ancaman pada yang berseberangan dengan mereka. Misalnya, mereka mengucapkan: silakan kalian ucapkan, sesungguhnya, manusia akan menerima balasan dari apa yang dilakukannya. Atau bisa juga: monggo yang mau ngucapno, tapi tanggung dewe-dewe akibatnya.

Kalimat-kalimat seperti itu, ungkap Wak Kopleh, nada dan aromanya nyinyir, sinis, dan menakut-nakuti. Kenapa tidak diganti dengan kalimat yang lebih sejuk: semoga kita semua mendapat petunjuk dari Tuhan tentang yang mana yang benar dan yang mana yang salah. Atau bisa pula: Semoga Tuhan mengampuni kekhilafan saya maupun anda selama hidup di dunia.

“Bayangkan, kalau semua yang selalu bersilang pendapat mengakhiri perbicangan dengan do’a, sungguh menyegarkan. Jangan pernah merasa paling sucilah jadi manusia ini. Jangan merasa sudah paling dekat dengan sabda nabi. Lha wong masih doyan makan kenyang, masih doyan ngorok sak uwen-uwen, masih suka jelalatan kalau lihat lawan jenis,” Wak Kopleh seperti tak punya rem di mulutnya.

“Luar biasa perspektifmu, Wak. Semoga kita semua selalu dilindungi Tuhan,” Cak Gonggong berucap datar. “Aamiin,” sahut Mas Jo.

Warung kopi diprediksi sepi dalam tiga atau empat hari. Karena banyak warga yang lagi mudik, libur natal.

 

BACA JUGA:

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here