Ngaso #21: Dikepung Asing?

tenaga kerja asing

Adik ipar Cak Ri sambang rumah. Lelaki yang biasa disapa Sidul itu banyak ngoceh tentang isi kuliah umumnya beberapa hari yang lalu. Yakni tentang: Indonesia yang dikepung asing!

“Kata pemateri kuliah saya waktu itu, Indonesia ini diincar dan sudah disusupi intel dan pihak negara lain. Bukan sembarang diintervensi. Tapi sudah mengakar pada lini kebijakan nasional. Multi aspek. Bisnis, politik, ekonomi, budaya, dan lain sebagainya,” ungkap mahasiswa jurusan ilmu politik itu berapi-api.

Kenapa Indonesia ditarget? Ya jelas banyak yang mau menguasai bumi yang kaya ini. secara kultur dan religiusitas, khazanah Indonesia pun tak dapat diragukan. Segala rumpun bisa diterima dengan baik dan membaur dalam naungan Bhineka Tunggal Ika.

Parahnya, yang memasukan orang-orang asing itu adalah orang-orang Indonesia yang suka duit. Tamak. Sudah kaya, mau makin kaya lagi. Padahal, mulutnya satu, perutnya kecil, “Duburnya juga ya segitu-gitu. Umurnya ya paling banter 70 tahun. Tapi rakusnya minta ampun!” mahasiswa semester dua itu makin bersemangat.

Orang-orang Indonesia yang loba, imbuh Sidul, tentu saja terdiri dari elemen pemangku kepentingan. Saat ini, tatkala negara diteror dengan berbagai aksi, yang tak hanya berupa bom, para pengkhianat negara itu berpesta dari hasil jual negara. Teror sekarang ini banyak modelnya. Bisa berupa penguasaan caupan bisnis/perekonomian, penyelundupan narkoba, pengrusakan sumber daya di tanah maupun di laut, hingga perampokan hasil alam.

“Sudah ada banyak mata-mata asing, yang berpaspor Indonesia di negara yang kita cintai ini, Cak. Mereka itu haram duitnya!” seru Sidul.

“Kamu tidak usah meluap-luap begitu,” kata Cak Ri.

Tak lama, Ning Tin membawa dua cangkir kopi hitam. Jojo tertidur pulas di kamarnya. Baik Cak Ri maupun Sidul menyingur bau kopi masing-masing. Tidak diseruput. Tampaknya, mereka sekadar ingin menikmati aroma wedang itu.

“Kamu hati-hati kalau ngomong. Jangan asal tuding,” tiba-tiba Ning Tin nimbrung. “Kalau tidak sembarangan, bukan mahasiswa nom-noman,” Cak Ri seperti membela Sidul.

“Saya sekadar muak dengan cecunguk-cecunguk berdasi. Orang-orang pintar apatis dan materialistis. Mereka yang menjual negara, kenapa tidak sekalian menjual ayah dan ibunya?!” Sidul sepertinya benar-benar marah.

“Coba tuang sedikit kopimu ke lepek. Lalu mulai diseruput. Ini asli dari Aceh. Dapat dari tetangga yang baru saja ke sana bulan lalu,” Cak Ri mencoa menenangkan adik iparnya.

Sidul meminum kopinya sedikit. “Nanti aku kembali lagi, menghabiskan kopi,” tuturnya lantas mulai beranjak. “Mau ke mana kamu?” Ning Tin setengah berteriak. “Ke Warkop depan. Di sini kan gak boleh merokok,” papar dia. (*)

BACA JUGA:

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here