Ngaso #20: Idealisme

Cak Ri lagi duduk-duduk di halaman rumah saat Cak Gonggong mampir sambil bawa pisang goreng beberapa potong di tas kresek kucel warna hitam. Halaman rumah? Iya, Cak Ri memang duduk di halaman, dengan alas kardus.

Biasa saja. Kadang dia memang suka yang agak nyeleneh. “Belajar mbambung yo, Cak,” sapa Cak Gonggong. “Aku melok, ya,” sambungnya yang lantas duduk di sebelah Cak Ri.

Tentu saja, kawan tersebut langsung menawari gedang yang baru dibelinya entah dari mana itu. Mereka nyam-nyam berdua, hingga akhirnya Ning Tin nyuguhi Cak Gonggong, dan pastinya Cak Ri, kopi dingin. Kenapa dingin? Ya, karena memang tadi dia buat kopi dalam ceret kecil. Kopi itu belum habis.

“Gak papa ya, Cak Gonggong, kopinya dingin,” kata Ning Tin yang lagi nggendong anak itu. “Halah, ogak popo, Ning,” selorohnya landai. Ning Tin berlalu, tampaknya ke tempat tetangga.

Angin sepoi berembus sore itu. Pohon mangga memberi keteduhan yang fantastis. Keduniawian yang surgawi ternyata cukup sederhana.

“Cak Ri, tadi malam ada orang yang mau minum bir di Warkop Mas Jo,” bisik Cak Gonggong. “Lantas?” selidik kawan di sebelah. “Jelas dikaplok sama Mas Jo. Terus orangnya gak terima. Terus Mas Jo bilang: Kok bisa gak terima. Bukannya tadi jelas-jelas sudah saya kaplok. Masak kaplokannya mesti saya ulang? Biar kamu benar-benar merasa sudah menerima kaplokan,” Cak Gonggong menirukan Mas Jo. “Wah intinya, tadi malam warkop ramai sekali,” tambahnya.

Cak Ri tadi malam memang tidak keluar rumah. Bahkan, baru sore ini dia menghirup udara di luar. Kepalanya pening sehari penuh. Kayaknya masuk angin.

“Wah, kok Mas Jo emosional gitu?” Cak Ri heran. “Mungkin, karena yang mau minum bir itu masih ABG. Terus, dia itu sudah bawa dua botol bir bintang. Sudah di taruh di meja. Lalu, minta gelas kosong ke Mas Jo,” Cak Gonggong bicara seperti tak bisa dihentikan. “Kami semua heran. Ini kampret anak siapa. Baru juga jam setengah sebelas sudah mau mabuk. Ini anak goblok banget. Parahnya, dia sama dua temannya kompak. Tiga serangkai!” urainya komplit.

Setelah menyeruput kopi dingin dengan gelas plastik kecil, kayaknya itu gelas milik Jojo, Cak Gonggong mbleyer lagi. “Pas satu bocah dikamplok, yang dua ngeluarkan gir sepeda sama pisau lipat yang biasa dipakai kalau lagi naik gunung. Ya, melihat itu, Mas Jo tambah naik pitam. Diambilnya pemotong es batu bergerigi dekat termos,” papar Cak Gonggong. “Lhah, kok Mas Jo bisa segendeng itu ya. Biasanya, dia bijaksana!?” Cak Ri menyeruput kopinya lewat mug bergambar logo Unair pemberian adik iparnya.

“Yang jelas, pas keadaan begitu panas. Wak Kopleh bisa mengendalikan suasana. Mas Jo ditenangkan Saragun. Sedangkan tiga anak bau kencur itu diajak ngobrol sama Wak Kopleh. Tidak lama, mereka bergegas pergi,” kata Cak Gonggong. “Sebentar, aku masih heran, kenapa Mas Jo bisa semarah itu?” Cak Ri masih diliputi rasa penasaran.

Mendung mulai menggelayut. Hujan memang masih jauh, tapi naga-naganya, gerimis mau mampir. Ning Tin dan bayi setahun sebulan yang digendongnya melangkahkan kaki ke rumah. Percakapan dua sekawan kembali bergulir.

“Wak Kopleh dan Saragun sukses menenangkannya. Dia gampang kok untuk ditenangkan. Pas kami tanya, karena sumpah, kami juga heran, dia menjawab ringan: ini soal idealisme, saya tidak suka warung saya dipakai judi atau minum bir,” urai Cak Gonggong menirukan Mas Jo.

Lalu, kata Cak Gonggong, Mas Jo juga bilang: untuk sebuah idealisme, emosi dan keberanian selalu siap menjadi pembela. Bahkan, bisa jadi lebih dari itu!

Rintik hujan mulai turun. Dua sekawan itu pulang ke rumah masing-masing. Kardus bekas dibiarkan tetap di halaman. (*)

BACA JUGA:

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here