Ngaso #19: Kemeruh

tenaga kerja asing

Jadi orang tidak boleh sok tahu. Apalagi, sok pintar dan sok alim. Sudahlah, jadi orang biasa saja. Urus urusan yang diketahui saja. Kalau tak paham tapi suka njeplak, jadinya bakal runyam. Demikianlah yang disampaikan Wak Kopleh yang baru naik haji bulan lalu itu. Dan pendapat itu, diamini oleh kawan-kawannya di Warkop Mas Jo.

Saragun, satu-satunya kawan karib yang non-Islam, diam seribu bahasa. Bukan apa-apa, tapi tampaknya Wak Kopleh tengah menyindir dia. Maklum, Saragun baru saja ngomong tentang tafsir salah satu surat dalam kitab suci orang Islam. Ayatnya, tentang kepemimpinan.

Cak Ri Cs, tidak menghardik Saragun. Ya, itu tadi, hanya Wak Kopleh yang menceramahinya lewat tamsil retorik. “Baik, aku yakin, pasti kalian menyalahkanku yang kemeruh ini. Tapi kan, manusia bebas berpendapat,” tangkis Saragun.

Aneh memang tingkahnya kali ini. Betapa tidak, lha mbok sudahi saja percakapan tentang kesoktahuan. Jangan melah membuat statement yang potensial memunculkan polemik. “Bebas ya bebas. Tapi kalau bebas tanpa pengetahuan, ya sama seperti hewan kan. Mereka bebas, tapi mereka tahu apa?!” Wak Kopleh terdengar frontal.

Saragun mengangguk. Tampaknya, dia sadar kalau keliru. “Baiklah, sebagai ucapan maaf, kopi kalian kali ini kutraktir semua,” Saragun akhirnya menyerah juga. “Terimakasih, Gun. Tapi, tidak perlu mentraktir juga kalau sekadar ingin mengucapkan maaf. Kami ini kawanmu, kami tidak pernah matrealistik. Kamu tahu itu,” kata Cak Gonggong.

“Bukan, bukan, saya tidak pernah menuding kalian materialistik, kalian tahu itu. Lhah kok, jadi sensitif begini suasananya. Kalian terlalu serius,” Saragun berucap sambil mengernyitkan dahi. “Tidak ada yang serius, Gun. Kami biasa saja. Kita semua sudah sering bercakap-cakap soal agama. Bahkan tak jarang, membercandai agama kita sendiri. Nah, mungkin kamu saja yang terlalu sensitif hari ini,” Cak Ri berujar.

Dia menguraikan, Wak Kopleh menegur pun sebenarnya bukan barang anyar. Terlebih, saat dia baru pulang haji. Siapapun ditegurnya. Jadi, Saragun sejatinya tidak perlu minta maaf atas kesalahannya yang berujung teguran dari Wak Kopleh. Apalagi, sampai mengucapkan sepuro dengan mentraktir kopi.

“Mungkin kamu terbawa suasana absurd sebagaian otak dulur-dulur di Jakarta, Gun. Yang lagi Pilgub. Yang lagi asyik demo. Yang mencoba menjatuhkan calon lain yang beda agama. Pertanyaannya sejatinya gampang, mereka ke mana saja selama ini, kok tidak bisa mencetak calon pemimpin yang seagama dengan mereka? Jangan-jangan mereka terlalu sibuk kerja, ndalil, dan melakukan hal-hal yang seolah-olah penting. Tapi lupa, ada Pilkada lima tahun sekali,” Mas Jo nimbrung.

“Wes ta, Jo. Gak usah ikut cawe-cawe urusan kawan-kawan di Jakarta yang mau Pilgub. Do’akan saja, mereka dapat yang terbaik. Mudah-mudahan barokah. Nah, karena saat Saragun mau traktir kopi justru dipermasalahkan dan dicurigai, saya ambil alih saja. Kali ini, saya yang traktir kalian,” Wak Kopleh bersuara. Kawan-kawannya sepakat. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here