Ngaso #16: Berprasangka Baik

tenaga kerja asing

Cak Ri dan keluarga kecilnya sepakat jalan-jalan ke kompleks kampus di kawasan Lakarsantri. Kebetulan, di sana terdapat perguruan tinggi yang asri dan mepet sawah. Enak dibuat santai-santai bagi keluarga. Cak Ri dan Ning Tin berniat ngasih makan Jojo.

Tentu, bukan dengan suket-suket yang ada di sana. Melainkan, mereka bawa sendiri makanan Jojo berupa bubur yang bercampur sayur-mayur. Dilengkapi segelas air putih. Karena kalau tidak minum, Jojo biasa cegukan seperti Masha dalam salah satu episode Masha and The Bear.

Jojo sudah pandai berjalan. Meskipun usianya baru menginjak sepuluh bulan lebih. Dia juga sudah etes ngoceh. Dengan berkelakar tapi sebenarnya serius, Cak Ri kerap berujar, “Jojo ini cerewet seperti Ibunya,” demikan kebenaran itu disampaikannya dengan lagak bercanda, supaya tidak terjadi perang dunia di rumah tangga.

Tiga anak manusia itu terlihat begitu guyub dengan kesederhanaan. Mereka bukannya bergaya hidup sederhana. Tapi ya, hidup mereka memang sederhana. Jadi, gak perlu gaya-gayaan. Itu kenyataan.

Yang bisa bergaya hidup sederhana itu hanya mereka yang kaya. Lalu, memilih bergaya sederhana. Kira-kira begitu.

Namun kesantaian hari itu melahirkan topik pembicaraan ringan tapi rodok ruwet kala Jojo tiba-tiba memungut sampah. Sampah bukan sembarang sampah. Tapi, sampah bungkus obat batuk.

Tidak ada yang aneh, hingga Jojo dapat sampah itu dua kali. Lalu, menyerahkannya pada Cak Ri.

Maksud Jojo, biar Cak Ri membuang sampah yang ditemukan Jojo di pekarangan rumput salah satu sudut kampus itu di tempat yang semestinya. Pekarangan rumput itu berada di seberang jalan depan gedung Fakultas Pendidikan.

Cak Ri membawa bungkus obat batuk itu dan memasukkannya ke kresek hitam. Sambil berjalan menuju lokasi ditemukannya sampah-sampah tersebut. Maka terlihatlah, bungkus obat batuk itu ternyata lebih dari empat helai.

Kira-kira, mungkin begini penampakan bungkus obat batuk yang ditemukan Cak Ri dan keluarga
Kira-kira, mungkin begini penampakan bungkus obat batuk yang ditemukan Cak Ri dan keluarga

“Iki arek-arek ngoplos omben-ombenan mesti. Diolpos ambek obat batuk,” celetuk Cak Ri. “Lha kok isok?” Ning Tin menimpali. Yang kemudian, melap mulut dan pipi Jojo yang sudah rampung makan bubur campur sayur.

“Mana mungkin orang batuk main ke pekarangan seperti ini. Minum obat batuknya banyak lagi. Jadi kesimpulannya, di tempat ini, yang puntung rokoknya juga tampak berhamburan di sekeliling, pasti dipakai mabuk-mabukan ABG labil,” kata Cak Ri sok kayak detektif.

“Heh, di sini kan ada satpam,” seru Ning Tin. “Di dunia ini juga banyak polisi. Tapi toh, penjara selalu penuh,” sahut Cak Ri.

“Gak usah berburuk sangka. Siapa tahu ada orang yang sakit batuk menahun, yang buang koleksi bungkus obatnya ke sini,” urai Ning Tin. “Lhah itu kan juga buruk sangka. Berarti kamu berpikir, ada orang yang suka buang sampah di sini,” seloroh Cak Ri.

“Ya, mungkin tempat ini dianggap tempat sampah. Selain ada bungkus obat batuk dan puntung rokok, kebetulan juga ada bekas barang dalaman kayak itu,” ujar Ning Tin seraya menunjuk bungkusan hitam yang robek. Dan dari robekannya, beberapa sampah serupa tercecer.

Alamak! Sampah serupa yang dimaksud ternyata pembalut yang pastinya sudah terpakai. “Mungkin tempo hari di sini banjir besar. Jadi, sampah-sampah terbawa arus ke sini,” Ning Tin berupaya berprasangka baik. “Ya mungkin saja. Dan mudah-mudahan saja memang demikian,” kata Cak Ri. Mereka lantas menuju sepeda motor matic kesayangan. Lalu beranjak pulang.  (*)

BACA JUGA:

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here