Ngaso #15: Selamat Haji

Cak Ri Cs sejatinya menyesalkan ceramah pada Jumat malam, waktu tasyakuran menjelang naik haji yang disuarakan Wak Kopleh. Betapa tidak, seharusnya momen itu dijadikan sarana pria paro baya tersebut untuk sekadar meminta maaf pada para tetangga. Lhah dalah, kok malah dheweke berpetuah panjang kali lebar soal ibadah haji.

Awalnya, Wak Kopleh menyitir omongan KH Masdar Farid Mas’udi yang kabarnya pernah mewacanakan haji dalam tiga bulan. Syawal, Zulkaidah, dan Zulhijah. Wak Kopleh bilang, alasan al mukarom Masdar yang konon mau merelevankan ibadah haji agar Arab tidak sesak itu justru tidak relevan saat ini.

“Jadi, Pak Masdar itu pandangannya kurang jauh. Haji itu, saat ini, biar dibuat tiga bulan pun, tetap saja membuat mekkah penuh. Jadi, alasan nyelenehnya itu justru termentahkan sendiri,” kata Wak Kopleh di hadapan para tetangga yang sebagian sudah lapar karena sengaja belum makan malam selepas isya, biar bisa lahap menyantap daging domba muda dan ayam panggang yang disiapkan sohibul bait.

Wak Kopleh mengatakan, saat ini, Mekkah dan Madinah selalu penuh sesak sepanjang tahun karena orang berbondong-bondong umroh. Imbasnya, selain pundi-pundi uang Arab Saudi makin gembul karena uang visa dan transaksi hotel dan restoran, bandara-bandara di negara-negara Islam pun selalu sibuk.

Coba saja, kata Wak Kopleh kelewat sok tahu, lihat Juanda. Nyaris tiap hari ramai seperti pasar. Terminal dua dibuka pun, ternyata sekadar memperluas pasar itu.

“Saya lebih suka pandangan Pak Kyai Ali Mustapa Yakub almarhum. Lewat esainya berjudul Haji Pengabdi Setan, dia menjelentrehkan bahwa intinya: bisa jadi orang yang suka berhaji berkali-kali, yang punya andil membuat sesak Arab Saudi pas musim haji itu, sejatinya bukan mengabdi pada Allah SWT. Tapi, mengabdi pada hawa nafsunya. Mengabdi pada setan!” ungkapnya bersemangat.

Alamak! Apa pula dia ini, batin Cak Ri. Belum tentu pendengarnya pernah membaca artikel itu. Yang ada, pendengarnya makin mendengar bunyi perut keroncongan karena terlalu lama menunggu ceramah aneh tersebut.

“Persoalan haji itu harus ditelaah sampai akar. Sampai pada pola pikir. Tidak bisa hanya menggunakan solusi praktis kasat mata dan hitung-hitungan matematis. Kalau semua bersandar pada pandangan mata dan akal semata, ya siap-siap kita disebut orang liberal yang ngawur,” papar dia kemudian.

Untung saja, di akhir kalam-kalam itu, Wak Kopleh kemudian menghaturkan permohonan maaf. Tidak hanya atas kesalahan-kesalahannya selama ini. Namun juga, atas ceramahnya yang barusan dia sampaikan. Jadi, paling tidak, dosa dia tidak banyak-banyak banget saat menjejakkan kaki di tanah suci.

Pas acara ramah tamah, Cak Ri menghampiri Wak Kopleh. Di belakangnya, ada Saragun dan Mas Jo. Sementara Cak Gonggong sibuk mencari daging domba muda di meja prasmanan.

“Wak, semoga jadi haji mabrur. Tapi kali lain, gak usah kementhus begitu ceritdepan orang-orang tentang haji kayak tadi. Kutip sana, kutip sini. Padahal kan, sampean sendiri tidak paham-paham benar,” seloroh dia seraya menyalami calon haji dengan ONH Plus tersebut.

Ben kethok pinter sithik. Tapi kan, yo pas di akhir, saya sudah minta maaf. Mudah-mudahan, tetap barokah,” ringkas Wak Kopleh sambil tertawa sedikit. Yang lalu bersalaman dengan Saragun dan Mas Jo.

Hari Minggu, Wak Kopleh berangkat. Cukup dua minggu, dia yang berangkat dengan sponsor khusus itu akan kembali lagi ke Surabaya. Mugo-mugo mabrur, Wak!

BACA JUGA:

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here