Ngaso #10: Tanjung Balai, Makam Fiktif, dan Do’a untuk Negeri

tenaga kerja asing

Isu-isu negatif yang bergentayangan di media massa sungguh menyesakkan dada. Cak Ri dan konco-konco cangkruk di Warkop Mas Jo merasa sedih. Walaupun mereka di Surabaya, tetap menaruh perhatian pada saudara-saudara di Tanjung Balai yang sempat ada problem horizontal, maupun di Jakarta yang dilanda rumor makam fiktif.

“Semoga dulur-dulur di sana tidak mudah terprovokasi. Dan, pelaku-pelakunya, ndang dihukum setimpal!” kata Wak Kopleh merujuk peristiwa Tanjung Balai.

Di Surabaya, lanjut dia, saat tahun 1945 di masa mempertahankan kemerdekaan, semua orang tumplek-blek jadi satu. Meski berbeda latar belakang agama, suku, dan pandangan politik. Tanpa persatuan itu, selesailah negeri ini. “Maka itu, provokatornya mesti ditumpas!” ungkap dia berapi-api layaknya sedang orasi demonstrasi.

Pemecah-belah anak bangsa, imbuh Saragun, memang mesti diberantas ke akar-akarnya. Bagaimana caranya? Selain dengan menindak pelaku yang sudah terbukti melakukan pidana, memberikan penyuluhan atau pemahaman yang tepat pada pentingnya persatuan juga harus digelorakan.

Lihatlah saat ini, ujar lelaki yang berlatar non-Islam itu, sejumlah kelompok muslim saja saling tuding. Padahal, mereka berada dalam satu agama. Ada orang-orang lulusan kampus Arab Saudi yang tiba-tiba datang ke Indonesia dan mengkritisi cara beribadat orang-orang lulusan pondok. Ini kan terkesan kurang baik.

“Terdapat begitu banyak persamaan dalam ritual keagamaan Islam. Ada begitu melimpah esensi ibadah yang menentramkan. Lhah kok ngurusi yang sifatnya kontroversi?!” kata dia yang justru terdengar seperti orang sok tahu bagi kawan-kawannya. “Gun, kamu kok tahu soal agama Islam, seh?” Cak Gonggong menampakkan wajah heran.

Saragun menyeruput kopi hitam Bondowoso yang baru dua hari dijual di warkop tersebut. Lantas, dia menjelaskan sekelumit jawaban yang ditagih Cak Gonggong.

“Islam itu agama mayoritas di Indonesia. Mau tidak mau, saya ikut-ikutan melihat perkembangan agama ini. Kan juga tidak ada salahnya? Yang belajar kan saya sendiri, otak-otak saya sendiri, energi-energi saya sendiri. Yang beropini, mulut saya sendiri. Kalau tidak sepaham dan mau menangkis perspektif saya, silakan, asal tidak anarkis,” seloroh dia. Cak Gonggong sekadar mengangguk.

Dia lalu menuturkan soal makam fiktif di Jakarta yang membuat ironis. “Perkara kematian kok dimain-mainkan. Bagaimana kalau nanti yang suka main-main itu dimain-mainkan malaikat di alam kubur?! Baru tahu rasa!” ungkap dia.

“Mudah-mudahan hal serupa tidak terjadi di Jawa Timur. Padahal kalau dipikir-pikir, manusia itu kan tidak tahu nanti mati di mana. Tidak menutup kemungkinan pula, mati tanpa bekas,” Mas Jo tiba-tiba menimpali. “Omonganmu kok dadi horor ngono, Mas Jo,” Cak Ri nyeletuk. “Tapi, benar kan?” sergah Mas Jo.

Yang jelas, urai Cak Ri, tiap negara itu pasti punya masalah. Sama seperti saban manusia pun mesti memiliki problem sendiri-sendiri. Sebagai warga yang baik, kudu benar dalam menyikapi persoalan di masyarakat.

“Jangan ngawur, emosional, apalagi mengedepankan ego kelompok atau golongan dan meninggalkan akal sehat. Yang terpenting, selalu sempatkan berdo’a untuk tanah air ini,” kata Cak Ri yang lantas meminum kopi susunya.

Sampean kok moro-moro dadi bijak ngene?,” Wak Kopleh menuding Cak Ri. “Kadang kalau saya kesambet lelembut yang baik, omongan saya jadi brilian, Wak,” ungkap Cak Ri. Kawan-kawannya tersenyum.

BACA JUGA:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here