Ngaso #1: Rumah Baru

Cak Ri bahagia. Keinginannya untuk memiliki rumah sederhana terkabul. Dia baru saja membeli rumah baru. Memang, bukan dengan uang hasil memeras keringat sendiri. Tapi tetap saja, dia merasa ini berkah tak terkira.

Moro-moro, seorang yang mengaku kerabat jauh tak dikenal datang. Bilang, kalau tanah kakeknya di desa laku. Lhah dalah, kapan kakeknya punya tanah?! Yang membuatnya yakin dengan orang itu adalah hapalannya tentang silsilah keluarga.

“Yakinlah,Mas. Saya ini dulur sampean. Jangan hanya karena ayah sampean dan sampean sendiri sudah puluhan tahun ber-KTP Surabaya, lantas menganggap tidak punya keluarga di desa,” ungkap orang tersebut.

Hal utama yang membuat Cak Ri jadi tak membantah sebenarnya karena dia dikasih uang banyak. Bisa buat beli rumah elek-elekan di dekat Driyorejo. Tapi toh, masih masuk Surabaya, kotanya tercinta.

Terlebih, segala administrasi penjualan tanah dan pembelian rumah juga beres. Semua dilakukan dengan baik di instansi pemerintah terkait. “Nek rejeki yo wes ngene iki. Tidak terbayang datangnya dari mana. Gak siyo-siyo aku solawatan sehari seratus kali,” kata Cak Ri. “Mas, jangan begitu. Solawatan ya solawatan. Tapi gak usah bilang kalau gak dapat rumah solawatanmu siyo-siyo,” ujar istrinya, Ning Tin. “Aku gak bilang begitu,” tampik Cak Ri. “Omonganmu mau intine yo ngono,” sahut istrinya.

Rumah tersebut berada di perkampungan yang belum padat. Tapi, orang-orang di sana benar-benar majemuk. Ada yang Islam, Kristen, Budha, Hindu, mungkin ada yang atheis tapi tidak mengaku. Ya, atheis-atheis pengecutlah. Mungkin juga ada yang Islam pengecut. Maunya Islam, tapi gak mau hidup ikut cara Islam. Masih suka mendem, selingkuh, dan main judi.

“Sudahlah, jangan ngurusi agama orang. Lha wong agamamu saja belum beres kamu kerjakan,” begitu kata Ning Tin menasehati Cak Ri, kalau suaminya itu mulai nggerundel tentang agama.

Lalu, mereka bersama Jojo jalan-jalan keliling perkampungan tersebut. Sampai di depan sebuah rumah yang di depannya ada anjing dirantai, Cak Ri menghentikan motor matic. Pemilik rumah tersenyum. “Mau numpang lihat anjing, Pak. Saya mau melatih anak saya yang masih tujuh bulan ini biar tidak takut anjing kayak bapaknya,” pamit Cak Ri disambut anggukan pemilik rumah. Sementara anjingnya mulai dan terus menggonggong. Maklum, belum kenal.

Pas sudah beberapa hari dan beberapa minggu sering bertemu, anjing tersebut sudah kenal dengan keluarga Cak Ri. Tiap disambangi, dia tidak njenggong sama sekali. Tapi, kalau ada orang lain yang lewat, dia njenggong kayak manusia bodoh yang banyak omong.

Asline aku gak seneng karo asu. Rasane pengen tak racun kabeh ae asu neng dunyo iki. Tapi, pasti nanti aku dimarahi tuhan. Lha wong sing nyiptakno tuhan,” celetuk Cak Ri pada suatu ketika. “Jojo lho seneng anjing, Mas,” urai Ning Tin yang waktu itu lagi ndulang anak perempuannya di halaman alias jalan ciut depan rumah.

Mangkakne iku, aku sengaja melatih dia supaya senang anjing. Biar hatinya tidak penuh benci kayak aku. Tapi, ya dia tetap tidak kubolehkan memelihara anjing,” ringkas Cak Ri lantas menciumi anaknya yang sudah mulai hobi mengoceh seperti Ning Tin.

BACA JUGA:

1 COMMENT

Leave a Reply to Dulurmu Cancel reply

Please enter your comment!
Please enter your name here