Pengalaman Mudik di Bungurasih: Numpak Bis Gawe Nebus Duso

Mudik
Yoiki suasanane Bungurasih, Rek. Foto: Halloindo.com

Njenengan sudah memberikan kesempatan pada saya untuk menebus kesalahan pada sesama penumpang bus.

Markidik! Mari kita mudik. Sekarang mungkin sudah waktunya arus balik. Ya, ini memang harinya mudik dan balik. Ribet-ribete numpak bis.

Saatnya mengunjungi handai taulan di tanah kelahiran. Nah, saya ingin berbagi pengalaman tentang per-mudik-an.

Sebenarnya pengalaman saya ini tidak saya alami pada saat mudik atau juga pas ikut arus balik seperti sekarang. Tapi ya mirip mirip lah dengan situasi mudik di mana saya harus naik kendaraan umum, berebut tempat, berjubel-jubel, melancarkan aksi saling dorong, bergelantungan di bus, sampai kejepit di depan pintu.

Hanya demi satu tujuan: sampai di rumah dan ketemu dengan keluarga.

Ada dua pengalaman yg menarik yg mau saya share buat pembaca SUROBOYO.id di sini.

Pengalaman 1

Waktu itu saya baru lulus kuliah di Universitas Negeri Surabaya. Seorang teman merekomendasikan sebuah pekerjaan di Bojonegoro. Untuk sampai ke sana dari tempat tinggal saya, Tulungagung, saya harus naik bus ke Jombang, transit, trus oper bus ke Babat, transit lagi, baru oper bus Babat- Bojonegoro.

Nah, pengalaman “menarik” ini terjadi di bus kedua, yaitu Jombang-Babat.

Seperti perjalanan dengan bus pada umumnya, asongan dan pengamen selalu menjadi pendamping perjalanan para “busers” (baca: pengguna bus).

Lah, di bus ini satu pedagang yg unik. Dia tidak menawarkan makanan atau minuman seperti asong-asong yang lain. Dia berjualan burung bicara! Ya, dia memperagakan bagaimana burung kecil di tangan nya itu bisa bicara “selamat pagi”, “halo” dan kata-kata sederhana lain.

Seorang ibu yang membawa anaknya dan kebetulan duduk di sebelah saya terlihat sangat antusias dan begitu tertarik dengan burung kecil ini. Berkali-kali ia mencoba melakukan instruksi dari si penjual dan berbunyilah si burung kecil ini persis, sesuai instruksinya.

Dan, mulailah drama transaksi dan tawar menawar antara si ibu dan penjual terjadi.

Awalnya saya tidak merasakan kecurigaan sama sekali. Tapi ketika muncul pihak ketiga, yaitu seorang bapak yg menjadi penawar kedua, pikiran dan hati saya mulai tidak tenang.

Saya merasa ada yang salah dengan bapak ini. Beliau terlihat begitu ngotot untuk membeli itu burung, tapi ngancam si ibu juga. Akhirnya mereka berdua (penjual dan si bapak ini) seakan justru berkomplot dan memojokkan si ibu bahwasanya kalo sampe ga dibeli sama dia, dia akan menyesal.

Saya kurang begitu ingat kalimat pastinya bagaimana, tapi kurang lebih si bapak bilang seperti ini:

“Ini sebentar lagi saya mau turun nih, kalo ibu ga segera ambil keputusan, beli ato enggak, saya bawa turun nih burung.”

Dan itu yang terus menerus dia katakan kepada si ibu, dari mulai si ibu nawar itu burung sampe sepanjang jalan, eh, tapi dia ngga turun-turun. Dan si ibu pun semakin galau (bahasa kekiniannya kan begitu).

Sampai sampai si ibu tu nelpon suaminya. Cerita tentang burung “hebat” ini bla bla bla.

Saya sebenarnya mau ngasih tau itu ibu, ati-ati jangan-jangan ini modus penipuan. Tapi sumpah (oh, Tuhan ampuni kepengecutan saya waktu itu) saya tidak punya nyali sama sekali.

It was my first time to travel to Bojonegoro and I was alone and I didn’t even know the route at all.

Saya benar-benar takut kalo mereka adalah komplotan yg sudah “kawakan” di wilayah situ. Saya khawatir, kalo saya beri tau si ibu, justru modus kejahatan akan beralih pada saya.

Dan benar saja, setelah ibu tadi jadi membeli itu burung, kedua orang (penjual dan si bapak penawar) turun dari bus. Dan kehebatan si burung pun ikut “turun” bersama mereka.

Si ibu berkali kali menjentikkan jarinya, bersiul, mengundang si burung utk berbicara. Namun yang keluar hanyalah suara “tuk tuk tuk” (anak ayam) saja. Si ibu berteriak, saya ditipu, saya digendam dan meledaklah tangisnya.

Saya, tanpa terasa ikut meneteskan air mata. Menyesali kepengecutan saya.

Andai saja, saya tadi mampu bilang: jangan beli bu. Atau setidaknya ati-ati bu. Mungkin saya bisa mencegah hal itu terjadi.

But I was just too coward, I chose my own safety over others’. And I can’t believe that’s the way I survive myself.

But, honestly, I really didn’t have any choice. I needed to save myself.

But, yaa sudahlah. Yang jelas, saya menyesal tidak bisa membantu ibu itu tapi saya tidak punya banyak pilihan.

I just let go what I can’t control and I hope God will forgive me for that..

Pengalaman 2

It was Saturday. Jam 4 sore. Kebayang kan suasana terminal Purabaya ato yang lebih dikenal dengan terminal Bungurasih, Surabaya. Penuhhhh orang dengan back pack, tentengan kardus kanan kiri dan berlarian kesana kemari untuk dapetin bus.

Hari itu, saya baru aja selesai training di sebuah lembaga di Surabaya. Sama seperti pekerja-pekerja dari luar Surabaya, saya mau pulang dan melepas kangen dengan keluarga di rumah. Dan seperti mereka juga, saya juga berlarian kesana kemari untuk berebut bus.

Di tengah “pelarian” saya, mendekatlah seorang ibu dengan sebuah helm di tangan dan secarik kertas di tangan yang lain.

“Mbak saya minta tolong sms-in nomer ini.”

“Hah?”

“Anu mbak, saya ngga tau naik bus apa.”

“Lah, ibuk mau kemana?”

“Jombang..saya ngga pernah naik bus sebelumnya, saya biasanya pulang bareng suami saya naik motor.”

“Lha..sekarang suaminya mana?”

“Kemaren suami saya pulang duluan, ngurusi anak saya yg mau masuk sekolah.”

“Terus…”

“Ya ini (sambil menyodorkan secarik kertas kepada saya) aku ditinggali nomer ha-pe ini. Katanya kalo sdh di terminal minta tolong orang untuk sms.”

“Hah, (mlongo) wes kene, tak telpuno bojomu.”

Lalu saya telpun suami ibuk ini dan saya tanya sama dia si ibuk suruh naik bus apa dan turun dimana. Karena si ibuk juga ga tau harus kemana pas saya tanya.

“Oke buk…wes pokok’e ibuk ikut saya saja, nanti turun dimana tak kasih tau di jalan. Jombang, kan? kebetulan kita searah kok.”

“Oiya mbak…makasih lo mbak.”

“Iya..ga papa.”

Kemudian mulailah kami berdua mondar mandir, lari kesana kemari untuk dapat bus. Until we got one. Heading to Tulungagung.

Di dalam bus, kami tidak bisa selalu berdekatan karena kondisinya sangat tidak memungkinkan. Dari 50-60 bangku bus yang tersedia, terdapat (saya yakin) sekitar 80-an penumpang yang terangkut oleh bus yàng kami tumpangi. Itu pun bus patas.

Setiap posisi kami bergeser agak berjauhan, mata si ibuk selalu sibuk mencari saya. Dan ketika mata kami sudah saling bertemu saya beri kode ke dia: tenang bu. Dan terpancar kelegaan dari mata beliau.

Lalu hampir sampailah pada tempat beliau harus turun, saya bilang:

“Buk…bentar lagi njenengan turun, saya telpunkan suaminya ya?”

“Iya mbak.”

Setelah terdengar nada sambung saya berikan ha-pe saya kepada beliau. Dan mereka bercakap…lalu ditutuplah ha-pe saya.

“Iya mbak..benar katanya..bentar lagi saya turun.”

“Ya udah…ibuk sekarang mendekat ke pintu, bilang ke pak kernet kalo mau turun yaa.”

“Ow…kalo mau turun gitu ya mbak? Ga bisa nunggu disini aja?”

“Ga bisa buu…nanti malah kebablasen.”

“O…yaudah. Makasih banyak lo mbak yaa.”

“Ya, sama-sama.”

And there she goes. Off the bus. Safely.

Dan beberapa saat kemudian, ada pesan di ha-pe saya berbunyi: terimakasih mbak, saya sudah drumah dengan selamat.

Saya masih di bus saat itu. Saya tidak sempat berkenalan dengan ibuk tadi. Di ha-pe saya, nomer bliau saya namai: Ibuk Jombang ketemu nang bis.

Buk, saya yang berterimakasih. Njenengan sudah memberikan kesempatan pada saya untuk menebus kesalahan yang pernah saya lakukan pada sesama penumpang bus.

Tulisan ini saya persembahkan untuk semua pemudik yang menggunakan jasa transportasi umum. Sangat penting kon kabeh kudu ati-ati dan waspada. Tapi, tetaplah berlaku baik pada orang di sekitarmu, Rek.

Selamat mudik dan balik. Be save and be good.

BACA JUGA:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here