Misteri Kenakalan Sapi Wiyung

sapi wiyung
Sapi Wiyung. Foto: SUROBOYO.id

Berita Surabaya – Selasa sore lalu (12/7), tim SUROBOYO.id memotret kenakalan sapi wiyung. Gerombolan ternak yang siap beleh untuk Idul Qurban itu melangkah santai di tengah jalan tembus Balas Klumprik. Yang absurd, mereka bukan kucing, tapi kok ngotot berlenggak-lenggok seolah lagi jalan di catwalk. Jaaaaahat #Cinta mode on

Ruas itu menghubungkan Jalan Raya Wiyung dengan sejumlah lokasi strategis. Koyok tho, perumahan Pondok Maritim, Bangkingan, SMPN 34, SMPN 59, Kebraon dan lain sebagainya.

Nah, saat foto tersebut di-upload di fan page pesbuk website Mbois dan Guyub ini, sejumlah komentar bermunculan. Tampaknya, para pemberi komentar yang layak diacungi jempol karena wawasannya cukup luas terkait “legenda” maupun “mitos” kawanan sapi tersebut, memang pernah mengalami hal serupa dengan warga Wiyung lain: kenak “ampas-ampas” dan macet-macet.

Dalam kesempatan ini, tim SUROBOYO.id berupaya merangkum fakta, misteri, desas-desus, dan imajinasi tentang sapi wiyung. Data dikumpulkan dari banyak sumber. Termasuk, dari obrolan di Facebook fan page yang ramai hingga dini hari tadi.

“Dualisme” Kepemilikan?

Tidak hanya kampus atau tim sepak bola saja yang tersandung isu dualisme kepemilikan. Sapi Wiyung juga demikian. Beredar kabar, pemilik sapi ini adalah lelaki berinisial S yang kerap disapa Sugik. Orang yang berdomosili di Kramat (nek gak salah masuk kelurahan Jajar Tunggal, Wiyung).

Gosip lain menyebutkan, Sugik sekedar penggembala sapi. Sedangkan Si owner adalah tentara yang memiliki pamor di Kota Pahlawan. Tapi logikanya, kenapa tentara justru merusak ketertiban dengan membiarkan sapinya di jalanan? Kan nggak mbois.

Nah, kalaupun Sugik sekadar penggembala, mengapa dia tidak pernah terlihat duduk di atas punggung salah satu sapi sambil meniupkan seruling bambu? Layaknya penggembala sapi yang ada di desa-desa nusantara yang terpotret di media massa.

Bukan Veteran Perang

Pernah ada yang bilang, Sugik ini adalah veteran perang Timor Timur. Namun, asumsi itu dibantah oleh kawan di pesbuk. Menurutnya, Sugik tergolong bukan kaum sepuh layaknya pejuang yang gagah berani di masa lampau. Dia bahkan menggambarkan sosok Sugik: berambut gondrong, gempal, sepotongan Agung Hercules.

Ini mungkin benar. Agung Hercules kan pemilik bakso barbel. Bakso itu ada hubungannya dengan sapi. Karena, dagingnya dari sapi. Pertanyaannya, apa hubungan Agung dengan Sugik?

Dua Sapi Tewas Dibacok

Nah, saking sumpeknya warga dengan geng sapi Wiyung, ada yang nekat membacok dua sapi hingga tewas. Kami tahu, bahasa membacok dan tewas itu tidak cocok untuk sesosok sapi. Tapi tidak mengapa. Ini justru diksi yang dalam satu titik: menarik dipakai.

Ya, mudah-mudahan kabar itu benar dan memberi sedikit efek jera. Meski sejatinya, hingga kini, sapi-sapi masih berkeliaran dengan asoy geboy. Mungkin, mereka tidak punya perikesapian. Sehingga, tidak peduli dengan kematian kawannya.

Sapi dijemput ke Bojonegoro. Lah dhalah, mbalek maneh

Sebagian kalangan menganggap pemilik sapi punya kesaktian tertentu. Atau paling tidak, jaringan bisnisnya kuat. Sehingga konon, pada suatu malam, tanpa sepengetahuan pemilik atau penggembalanya yang mungkin lagi nonton Liga Spanyol, sebuah truk menjemput (baca: mencuri) sejumlah sapi untuk dibawa ke Bojonegoro.

Namun, beberapa hari kemudian, sapi-sapi yang terpisah dari kawanan itu, mbalek maneh. Entah, diantar oleh siapa.

Yang besar lamban, yang kecil lincah.

Saran kami, kalau kebetulan dulur sekalian beriringan dengan sapi Wiyung. Mengalah saja. Kemarin, sempat ada pengendara yang ngaplok sapi. Tapi apa? Sapi ne yo mbidek ae. Dan salah-salah, hewan itu justru menyerang balik.

Yang patut diketahui, sapi besar biasanya lamban. Malas jalan. Mangkane, wong-wong sing males iku biasane dilokne: dasar sapi! Sedangkan, sapi kecil atau berukuran tanggung, umumnya lincah dan lading berlari. Sapi model ini layak diwaspadai. Hati-hati nubruk!

Apakah negara kalah?

Ini pertanyaan penting. Menurut penelurusan kami, sapi wiyung itu pernah “ditahan atau dilokalisasikan” di dekat Mapolsek Wiyung (waktu itu masih berlokasi di depan Graha Sampurna). Juga, di masukkan ke sebuah lokasi yang memiliki pagar penghalang di tepi barat Kali Makmur (kali dekat Weta/sekitar gogor), selatan jalan besar, habis jembatan.

Namun, apa daya. Mereka lepas lagi. Padahal, mereka tidak punya akal dan bukan manusia seperti predator penjahat anak Anwar alias Rizal yang baru kabur dari Salemba.

Kalau dirunut, sudah berulang kali ganti Kapolres, Kasatlantas, Camat, dan bertahun-tahun Kasatpol PP menjabat, problem sapi ini belum sepenuhnya rampung. Pertanyaannya, apakah ada pembiaran? Atau, apakah negara kalah? Wallahu’alam.

BACA JUGA: 

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here