Merayakan “Segalanya Serupa Rambutmu” di Malam Puisi Sidoarjo

Berita Surabaya – Gemericik air hujan tak berhenti semenjak petang lalu, namun rintik air yang membuat raga menggigil tersebut tidak membekukan suasana senda gurau dan semakin menambah keakraban bagi teman-teman penulis puisi, baik dari sidoarjo maupun dari surabaya berkumpul di Kamus quliner foodcourt, desa sugihwaras kecamatan candi, sidoarjo.

Malam semakin pekat, tetapi kenangan itu masih melekat. Takkala dari setiap penulis puisi membacakan karya mereka didepan khalayak banyak. Tanpa ragu rangkaian kata yang saling menyapa satu sama lain seakan memanggil nurani dan khayal kita akan sebuah makna dan peristiwa yang terwakili melalui tulisan sederhana namun mengetuk jiwa penikmat sastra.

Acara selasa, 17 januari 2017 adalah sebuah acara rutin yang diselenggarakan oleh komunitas malam puisi sidoarjo yang diprakarsai oleh Ferdi Afrar dan kawan-kawan penikmat puisi dari berbagai kalangan. Baik muda maupun tua, pria maupun wanita yang ada di sidoarjo sekaligus meluncurkan buku kumpulan puisi karya teman-teman penulis di sidoarjo. Sebuah buku tanda perayaan satu tahun malam puisi sidoarjo eksis di tanah kahuripan.

Selain pembacaan puisi oleh masing-masing penulis, masih ada acara inti berupa membedah kultur sastra yang disampaikan oleh bapak W. Haryanto, seorang pakar seni sastra dan teater di jawa timur. Beliau memaparkan tentang sejarah yang melatari terbentuknya budaya dan ciri khas yang menonjol sekitar kawasan pusat di surabaya maupun kawasan satelit seperti gresik yang identik sebagai kawasan pesisir pantai jawa, mojokerto yang sarat akan unsur tradisi jawa terutama tradisi warisan keagungan sejarah kerajaan majapahit, dan sidoarjo yang sangat khas dengan identitasnya sebagai kota industri yang didirikan oleh belanda di masa lampau.

Dari pembagian diatas menjadi pakem yang tak lepas dari karya-karya seniman setempat. Walau begitu, seiring dengan berjalannya waktu telah terjadi perubahan yang terjadi dimasyarakat terutama di kawasan sidoarjo. Kondisi dimana masyarakat kini adalah masyarakat urban yang selalu bergerak dan tak sepenuhnya warga asli meskipun masih banyak yang terpatok oleh bingkai tersebut.

Caption: Suasana Diskusi Buku Puisi di Sidoarjo, 17 Januari 2017 silam
Caption: Suasana Diskusi Buku Puisi di Sidoarjo, 17 Januari 2017 silam

Tetapi tak disangka pula, bila pakem yang menjadi trademark tersebut mulai pudar seiring dengan berkembangnya teknologi dan informasi yang bersifat global. Oleh karena itu kawan-kawan yang ada di komunitas malam puisi sidoarjo mencoba memotret bukti sejarah dan peristiwa yang ada di masyarakat sidoarjo dalam kumpulan puisi berjudul “Segalanya Serupa Rambutmu”. Setidaknya 32 penyair asal Kota Delta mengisi kumpulan tersebut.

Buku “Segalanya Serupa rambutmu” menjadi “kado manis baik bagi malam puisi sidoarjo maupun bagi sidoarjo sendiri karena telah menjadi saksi perkembangan zaman yang dilalui oleh tanah jenggala tersebut. Melalui tulisan sederhana namun penuh pesan diharapkan mampu memberi wawasan dan warisan penting bagi anak cucu kelak.

Seusai acara inti, tibalah waktu perpisahan. Seluruh peserta baik dari sidoarjo maupun surabaya berkumpul dalam satu panggung untuk sesi. Kini acara tersebut telah usai, tetapi bukan berarti telah usai pula persahabatan ini. Karena setiap akhir bulan malam puisi sidoarjo akan tetap ada setiap bulannya menyampaikan pesan indah nan membekas dibenak tiap insan. (*)

Baca Juga: Membahas Hujan di Malam Hujan pada Malam Puisi Sidoarjo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here