Menggelorakan Semangat Kewirausahaan

Berita Surabaya – Ada begitu banyak negara yang sudah masuk ke Indonesia untuk melakuan invasi tanpa mengangkat senjata. Mereka hadir di negeri ini, bahkan dalam beberapa kasus hingga mendominasi, lewat jalur bisnis. Tak ada yang salah, karena hukum maupun etika perdagangan nasional dan internasional memberi ruang.

Ada pun bidang yang dikuasai para pemain asing di lini ekonomi dan perdagangan internasional itu beraneka rupa. Mulai dari teknologi, pertanian/perkebunan, alutsista, seni/budaya, kesehatan, pendidikan dan lain sebagainya. Nusantara sudah menjelma jadi pasar. Dijadikan wadah eksplorasi para pemasok, waralaba, dan pebisnis dari luar negeri.

Lihatlah di sekitar, tak dapat dihitung jumlah supermarket, hotel, kafe/restoran, kedai kopi, merk kendaraan, merk perabot rumah tangga, sampai makanan/minuman kemasan yang berasal dari negeri seberang. Bahkan, nyaris semua software komputer di era serba digital ini merupakan pabrikan asing. Belum lagi bila melihat begitu banyak nama perusahaan tambang atau pengembang properti yang jelas bukan domestik.

Bagaimana bisa mereka menjelajah sedemikian kuat di banyak sisi muka bumi, dengan aneka bidang yang semuanya dibutuhkan publik? Selain memiliki ketajaman intelejensi atau kepintaran dalam disiplin ilmu tertentu, mereka juga memiliki semangat kewirausahaan yang tinggi. Ada motivasi mengembangkan pasar dan terus inovatif terhadap barang atau jasa yang ditawarkan. Apapun bidangnya, mental kewirausahaan merupakan kunci utama untuk menjadi “pemain” kelas dunia.

Sekadar berotak cerdas, akan mencetak seorang pemikir, dosen, pakar, atau staf ahli pemerintah yang paling puncak. Sedangkan bila dilengkapi dengan semangat kewirausahaan yang tinggi, orang tersebut akan dengan kreatif “menjual” pemikirannya di lingkup yang lebih luas: bukan “menjual” negaranya, atau sekadar menyusu dari anggaran rakyat untuk menutup kebutuhan hidup pribadi.

Penyelenggara beasiswa plat merah, seperti Lembaga Pengelola Dana Pendidikan, Kemenristekdikti, Kemenag, maupun kementerian, lembaga, dan BUMN yang memiliki bermacam model pembiayaan pendidikan bagi masyarakat, mesti bisa mengarahkan awardee atau penerima beasiswa, agar terus menggelorakan semangat kewirausahaan dalam diri. Ini merupakan modal penting dan fundamental guna membentuk pribadi mandiri dan bercita-cita besar bagi bangsa.

Di zaman serba rumit oleh silang sengkarut perpolitikan dan berita hoax pengadu domba di media massa, setiap orang mesti memiliki mimpi memandirikan bangsa. Yakni, melalui upaya-upaya pemberdayaan diri dan masyarakat. Cara yang paling mutlak adalah mengasah kemampuan mempromosikan potensi yang ada dengan semangat bisnis dan intuisi cerdik untuk kesejahteraan bersama.

Bila tidak memiliki semangat kewirausahaan, Steve Jobs mungkin sekadar jadi seorang karyawan brilian di sebuah perusahaan komputer, Andrew Darwis (KasKus) hanya bakal jadi seorang penghobi “klik share atau ketik: amin” dengan banyak follower di media sosial, sedangkan Azrul Ananda cuma seorang anak emas pemilik perusahaan koran. Faktanya, dengan insting wirausaha yang terus diasah dan dikembangkan, mereka mampu menjalankan usaha di bidang masing-masing, sesuai kesukaan, dan sukses menjaga keberlanjutan serta “pengguritaan” bisnis masing-masing. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here