Mengenal Ponzi Scheme; Belajar dari Kasus Madoff Hingga Pandawa Grup

Kasus Madoff terbongkar sekitar tahun 2008 dan ikut menggoncang wall street saat itu. Madoff itu sendiri adalah nama orang, yaitu Bernard L Madoff. Siapa tuh bernard l madoff, dia pernah menjadi “non-executive chairman” NASDAQ. Artinya dia termasuk “pelaku pasar” terkemuka di wall street. Perusahaannya sudah ada sejak 1960 bernama Bernard L Madoff Investment Securities LLC, perusahaan pialang dan perusahaan yang mengelola dana-dana warga kaya.

Perusahaan madoff tsb punya reputasi baik karena memberikan keuntungan yg tinggi bagi investor, akan tetapi pada 2008 kedok perusahaan terbongkar. Saat puncak krisis ekonomi AS pada tahun itu, perusahaan tidak lagi bisa memberikan keuntungan. Bahkan, kemudian ketahuan semua dana investasi, termasuk milik sutradara kondang Steven Spielberg, ludes. Total dana investasi yang lenyap lebih dari 50 miliar dollar AS (kompas.com;26/03/2014).

Kegagalan perusahaan madoff tersebut dikarenakan madoff melakukan praktek ponzi scheme yang dilakukannya sejak 1980. Dia bikin semacam penipuan berkedok investasi, skemanya secara umum sebagai berikut yakni mengumpulkan uang dari investor dengan iming-iming bunga tinggi, dimana pembayaran bunga tinggi ke investor tersebut pakai uang investor baru. Maka hal ini tentu mengharuskan madoff menargetkan kuantitas investor atau dana investasi yg baru harus lebih banyak dibandingkan sebelumnya, yang lambat laun Ponzi Scheme ini membentuk sebuah Piramida yg akan runtuh ketika tdk mampu lagi mengumpulkan lbh banyak lagi. Atau dengan kata lain ibarat balon yang terus menggelembung menanti waktunya utk meletus.

Hal kasus madoff tersebut bisa terjadi karena pasar wall street memungkinkan terjadinya praktek spekulasi dan terkadang diselingi dengan praktek judi bila kita ingat film the wall street (1980-an), sehingga tidak heran orang kaya di AS senang dengan iming-iming bunga tinggi ala madoff tersebut. Sayangnya baru-baru ini hal tersebut terulang kembali di Indonesia yang mencoreng dunia perkoperasian melalui sepak terjang Pandawa grup yang sampai merugikan hingga miliaran rupiah, modusnya sama dengan madoff yakni iming-iming bunga tinggi, Pandawa menawarkan bunga 10% per bulan bayangkan jika setahun berarti 120℅, siapa yang tidak tergiur dengan keuntungan sebesar itu (bbc.com;19/02/2017). Namun perlu diingat berlaku pula high risk high return, maka bisa diduga resiko yang dapat terjadi ternyata benar-benar terjadi.

Sehingga belajar dari kasus madoff hingga Pandawa grup tersebut ujung pangkalnya karena terdapat unsur riba, judi, gharar dan ihtikar/penimbunan didalamnya akibatnya merusak sistem yang seharusnya memberikan kemaslahatan menjadi kemudharatan. Unsur riba : baik madoff maupun Pandawa grup menjanjikan keuntungan dengan bunga fix di depan tidak peduli apakah perusahaan mengalami kerugian ataupun keuntungan. Bunga adalah riba karena didalamnya mengandung unsur uang sebagai alat komoditas bukan sebagai alat tukar / murni transaksi.

Unsur gharar atau penipuan : baik madoff maupun Pandawa grup tidak memberikan informasi yang jelas atau lengkap mengenai usahanya seperti laporan keuangan perusahaan, tidak memberikan informasi keuntungan didapat dari mana dan tidak adanya kejujuran dalam melakukan praktek investasinya, banyak melakukan “Window dressing” atau pemalsuan-pemalsuan dokumen hingga dinilai layak oleh investor.

Unsur ihtikar/penimbunan : karena harta tidak diproses untuk mendapatkan keuntungan melalui sektor riil melainkan diputar hanya diantara investor saja, dengan membayar bunga investor lama menggunakan uang dari investor baru. Maka uang yang seharusnya bisa dijadikan modal mengalir (flow concept) menjadi tertimbun diantara orang-orang kaya saja (stok concept), akibatnya yang kaya makin kaya dan yang miskin makin miskin.

Solusi atas kasus madoff dan Pandawa grup bila anda seorang investor maka berinvestasilah di pasar modal syariah, mengapa pasar modal syariah? Karena didalamnya telah diatur bagaimana agar terhindar dari resiko-resiko spekulasi dan judi dalam pasar uang, karena uang dalam pasar uang syariah benar-benar ditujukan sebagai modal yang akan dialirkan kepada sektor-sektor yang riil, halal, dan baik. Meski demikian moral hazard bisa saja terjadi karena manusia didalamnya, maka untuk mitigasi moral hazard tersebut berikut antara lain hal yang perlu diperhatikan investor sebelum terjun ke pasar modal syariah :
1. Mengetahui terlebih dahulu jenis investasi apa yang akan diikuti lalu memilih instrument investasi (riil atau finansial)
2. Mengetahui resiko yang mungkin saja dialami ketika menjalankan bisnis investasi. Maka mitigasi dari resiko dengan menggunakan portofolio investasi yaitu menginvestasikan harta tidak hanya dalam 1 bidang saja. Karena jika mengalami kerugian akan besar kerugian yg dialami. Sebar harta kedalam beberapa bidang investasi agar jika salah satu mengalami kerugian bisa ditutupi oleh keuntungan di bidang yg lain.

Melalui aktivitas di pasar modal syariah adalah solusi islam menghadapi penipuan berkedok investasi karena menghapus sistem riba, dan menghapus sektor ekonomi non riil karena saham yang dibeli benar-benar ditujukan untuk memutar roda ekonomi di sektor riil bukan memutarkan uang di pasar uang lagi. Demikian semoga bermanfaat sedikit ulasan artikel ini.

Wallahu’alam bis showab

#iB Umsida Inside #Literasi keuangan syariah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here