Menebak Profesi Agus Yudhoyono Setelah Kalah Pilkada

agus yudhoyono
Agus Harimurti Yudhoyono. Foto: Kompasiana.com

Agus Harimurti Yudhoyono, putra sulung dinasti Cikeas ini akhirnya dengan berani juga bernyali mencalonkan diri di Pilkada. Entah apa yang membuat beliau dengan gagah meninggalkan pangkatnya mayornya untuk terjun di dunia politik.

Dunia politik yang kejam. Tapi kita juga belum tahu juga, kejam mana dunia militer atau politik?

Memilih dunia politik berarti Agus dengan berani melepaskan jubah militernya. Aturan baru internal TNI mengatur bahwasannya seorang TNI harus menanggalkan pangkat militernya jika ikut Pilkada. Agus harus ikhlas pendidikan militer yang sudah enyamnya sejak SMA harus pudar.

Obrolan tentang pilkada akhir ini memang seperti topik panas yang tidak juga dingin. Media beradu rating karena topik ini memang begitu menjual. Begitu juga obrolan warung kopi, terjebak membahas pilkada Jakarta sulit untuk dihindari. Perbedaan pendapat antar rekan mengenai pilkada sering menemukan persengitan.

Setuju atau tidak toh kita bisa lihat kemarin anak sulung dinasti Cikeas itu akhirnya kalah pilkada. Dimulai dari quick count hingga real count paslon nomer satu harus dapat menerimanya dengan lapang dada. Presentase pemilihnya anjlok dibawah para pesaingnya.

Di sela obrolan warung kopian itu kita kadang suka berkhayal. Satu-dua celetukan sering muncul diantara ratusan obrolan. Dan salah seorang rekan saya yang suka menganalisa politik memulai obrolan. Dia menerka apa profesi Agus selepas kalah pilkada, demikian hasil analisisnya:

1. Penyair

Seorang penyair adalah orang yang tidak pernah kehabisan kata-kata. Oleh karena itu mungkin Agus adalah sosok yang tepat untuk menjadi penyair. Selain itu buah jatuh tidak jauh dari pohonnya.

Ayahnya yang juga pernah menerbitkan buku puisi bisa jadi akan diteruskan Agus. Warisan bakat dari sang Ayah mungkin bisa diteruskan oleh sang anak. Disela waktunya mungkin Agus akan belajar sajak tentang mawar dan rembulan dari ayahnya.

2. Ketua Partai

Usia memang tidak bisa berbohong. Susilo Bambang Yudhoyono tahun ini akan berusia 67 tahun. Umur yang tidak muda lagi untuk seorang pelatih sepak bola, apalagi ketua partai.

Teman saya yang menganut teori analisis ala Cak Lontong ini menafsir jika Partai Demokrat adalah politik dinasti. Kalau begitu bisa dibilang Agus harus mempersiapkan jiwa dan raganya untuk menjadi ketua partai.

3. Ketua Ikatan Agus Se-dunia

Untuk mendompleng suara untuk memuluskan politiknya Agus perlu dukungan banyak pihak. Keuntungan memiliki nama ‘Agus’nya itu bisa dibilang keberuntungan. Secara langsung beliau dapat mendaftarkan diri sebagai anggota Agus-Agus Bersaudara. AHY bisa bersanding dengan jajaran elit Agus seperti Agus Magelangan, Agus Hadi Sujiwo Tejo, atau Ringgo Agus Rahman.

4. Dalang Wayang Beber

Harus kita ketahui wayang beber adalah kesenian asli Pacitan. Dan Pacitan adalah kota kelahiran sang ayah Susilo Bambang Yudhoyono. Untuk melestarikan wayang beber yang bisa dibilang hampir punah diperlukan seorang tokoh. Tokoh yang mampu mempromosikannya dikalangan umum.

Melihat elektabilitasnya di Pilkada kemarin bisa digunakan Agus untuk mempromosikan wayang beber Pacitan. Meskipun kelahiran Bandung, Agus tidak perlu rendah diri untuk belajar wayang beber. Tapi belajar wayang beber Agus perlu bertapa lama di sanggar-sanggar di lereng gunung untuk sah sebagai dalang.

5. Penyanyi Pop

Membayangkan diri melihat Agus di layar kaca sebagai penyanyi pop itu sah-sah saja. Karena sosok seperti Agus cocoknya adalah musik pop. Bukan metal, rock, ataupun jazz. Pop adalah musik populer yang memiliki banyak massa. Bisa menguasai teknik-teknik dasar menyanyi pop, Agus pasti dapat mempunyai massa yang tidak sedikit. Tapi belum diketahui apakah Agus menyukai musik dangdut atau tidak.

6. Mencalonkan Diri ke pilkada Jawa Timur

Analisis rekan saya ini mulai nggenah. Partai Demokrat yang berdiri sejak tahun 2001 itu banyak menang di Jawa Timur. Selain itu sang ayah yang juga putra Jawa Timur bisa memberi kemudahan. mudah-mudahan menang.

7. Kembali ke dunia militer

Ilmu yang sudah ditimba Agus semenjak 1994 di SMA yang berbasis militer pasti tidaklah sedikit. Meskipun pasti kehilangan pangkat mayornya toh tidak ada yang mustahil di negeri ini. Agus pasti secara tidak langsung bisa lagi menjadi seorang mayor.

Bisa dibilang berani atau gegabah itu masalah persepsi kita. Menang atau kalah dalam pilkada toh Agus adalah jawara di hati Anisa Pohan. Menanggalkan jabatan mayor bukanlah kerugian, toh Agus adalah jawara di hati gadis shampoo 2001 itu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here