Membahas Hujan di Malam Hujan pada Malam Puisi Sidoarjo

Hadirin dalam acara Malam Puisi Sidoarjo

Berita Surabaya – Masio jenenge SUROBOYO.id, bukan berarti website kesayangan umat ini tidak rela memberitakan kabar lain dari luar daerah, Rek. Ingat, kita ini tetap penduduk Indonesia dan masyarakat dunia.

Nah, artikel kali ini bakal membahas tentang acara Malam Puisi Sidoarjo. Gelaran bulanan ini bisa dibilang sebagai gerakan rutin, sedulur-sedulur kota Delta. Meski memang, sing teko merunu yo gak wong Darjo thok, Rek.

Tiga hari sebelum tutup tahun 2016, Malam Puisi Sidoarjo ke-rolas digelar. Seperti biasa, dalam event ini, ada buku yang dibahas dan didiskusikan. (Asline, bukune penulis SUROBOYO.id Rio F. Rachman Balada Pencatat Kitab yo lagi diantrikan untuk dikupas di sana. Tapi, penulis kae, konon sik repot nyiapno buku cerpen Merantau).

Pada Sabtu (28/12) itu, yang ditelaah adalah buku puisi R. Giryadi. Opo Judule? Usaha Mencintai Hujan. Memang benar, sudah banyak penyair yang memakai kata ‘hujan’ sebagai rangkaian judul buku puisi.

Koyok tho, Sapardi Djoko Damono dan Afrizal Malna. Tapi toh, Lik Gir, sapaan lelaki mbois lulusan Universitas Negeri Surabaya ini, tetap memberikan kata ‘hujan’ dalam buku puisinya. Setiap penulis tentu memiliki cara pandang dan kenangan yang berbeda tentang hujan, maupun hal yang sama lainnya.

Lhah dalah, opo mergo temane udan, lha kok pas bukune dibedah, yo pas udan pisan. Masio kondisi bengi iku udan, tak menyurutkan semangat para penikmat puisi untuk hadir di acara Malam Puisi Sidoajo 12 di Kamus Quliner, Kedung Kendo-Candi, tersebut.

Di antara hadirin, nampak beberapa nama seperti Fauzi Baim (penyebar virus membaca dengan jamu), M. Ivan Aulia Rokhman (FLP Surabaya), Rizal Kyota Hamzah (FLP Sidoarjo), Vivid Habib (FAM Surabaya), serta nama-nama lain yang kakean nek disebut siji-siji.

Sebelum Bincang Proses Kreatif itu dilaksanakan, dibacakan sejumlah puisi oleh beberapa orang. Ada yang membaca karyanya sendiri alias narsis dewe, ada juga yang sengaja membacakan buku Lik Gir yang dijadikan objek malam itu. Misalnya, Ferdi Afrar (Ketua Malam Puisi Sidoarjo) dan Rizka Amalia (Guru SD sekaligus penulis asal Sidoarjo), yang membaca puisi ‘Pelayaran Perahu Kecil’ dan ‘Pohon Tua’.

Giryadi (kiri) dan Ferdi Afrar
Giryadi (kiri) dan Ferdi Afrar

Dalam obrolan asyik di malam syahdu itu, Lik Gir menguraikan, apapun profesi seseorang, jangan sampai menghalangi diri untuk menulis puisi. Sebagai contoh, dirinya sendiri yang berasal dari ranag seni rupa. Pas kuliah nok Universitas Negeri Surabaya (Unesa), dia mengenal sastra, khususnya puisi, dari sederek sastra koyok tho: Tengsoe Tjahyono (dosen Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia), Wawan Setiawan (dosen Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia), Tjahjono Widarmanto (alumnus JBSI), dan Aming Aminoedin.

Di sisi lain, Ferdi Afrar berharap, gerakan Malam Puisi Sidoarjo bisa lestari dan berkelanjutan. “Supaya kita bisa berbahagia melalui puisi dan sastra,” papar lelaki yang juga penyair, tukang layout, dan entah mengapa, suka memakai topi tersebut. (*)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here