Marhaban Yaa Raja Salman; Yakinlah, Mereka Datang untuk Berdakwah

sumber: Serambi Indonesia Aceh Tribunnews / http://aceh.tribunnews.com/2017/02/22/selain-bertemu-jokowi-raja-arab-saudi-juga-akan-berlibur-di-bali

Berita Surabaya – Mungkin ada yang bilang kalau rombongan Al Mukarom Raja Salman ke Indonesia untuk urusan diplomatik dan berlibur. Tapi saya meyakinkan diri, mereka datang untuk berdakwah. Kalaupun mereka ingin berdiplomasi ria atau berlibur, itu sekadar wasilah atau sarana. Ghoyah atau tujuannya, tetap dakwah untuk menegakkan kebenaran.

Kenapa?

Karena Raja Arab adalah pemimpin di negara yang menjadi lokasi dua tanah suci. Artinya, orang-orang pemerintahan di sana, termasuk Raja dan “PNS” para pembantunya, sangat religius. Mereka pasti pengikut Nabi, seperti halnya murid-murid di masa paling unggul serupa Salman Al Farisi dan Abu Dzar Al Ghifari, yang kerap dikirim Nabi ke luar kawasan buat berdakwah.

Dakwah merantau ke luar daerah ini juga sudah dilakukan Imam Syafii, “gerombolan” Fethullah Gulen (semoga Tuhan memberi mereka hidayah dan keselamatan dunia akhirat), Jema’ah Tabligh, dan wali songo yang menurut sebagian ustadz anyaran perlu diperdebatkan keberadaannya.

Keyakinan final: Mereka, Raja Salman dan orang-orang Arab itu, datang untuk berdakwah.

Pesawat dan jadwal penerbangan yang luar biasa, hotel mahal itu, dan tangga berjalan yang konon kompatibel, tentu sekadar kedok. Karena, mungkin, sekali lagi mungkin, kalau mereka datang dengan armada dan style yang kelewat sederhana, nanti jatuhnya malah ujub. Na’udzubillah!

Tuduhan atau dugaan dari pihak-pihak kurang bertanggungjawab yang bilang kalau mereka sekadar mau berlibur atau bermewah-mewah bareng jelas anggapan keliru. Karena, sebagai orang yang berasal dari Negeri “pelayan dua tanah suci”, mereka jelas tidak mau berbuat bid’ah dolalah. Berlibur dan bermewah-mewah, jelas sebuah bid’ah.

Ali bin Abi Thalib yang luhur dan pasti antisantet itu, sehingga kalaupun ada penyihir yang ingin iseng, pasti bingung mau menyantet dari sebelah mana, atau Umar bin Khaththab yang bahkan Iblis saja malas berpapasan dengannya itu, kabarnya tidak suka berlibur dengan gaya seperti itu.

Raja Salman dan penggawa-penggawanya pasti pernah mendengar sebuah riwayat (mudah-mudahan saya tidak salah kutip, kalau salah kutip, ya maklum, pemula), saat seorang baduy Afrika meminta Hasan membungkuskan makanan sedekah lauk kambing muda, untuk kemudian diberikan pada seorang pria yang lagi menggembala di dekat pintu kota. Karena, pria itu dilihatnya hanya memakan roti kering yang dicelup pada air, memprihatinkan! Lantas, Hasan yang di rumahnya selalu mengadakan hajatan sedekah kambing muda itu berkata sambil menangis, “Orang itulah (Ali bin Abi Thalib), yang bersedekah daging kambing muda di sini, setiap hari, untukmu dengan semua,”

Orang-orang Arab itu pula pasti tahu, bagaimana perdebatan Umar dan seniornya, Abu Bakar,  pada sebuah malam, di mana Umar menolak mati-matian sambil sesenggukan, wacana pemberian jabatan khalifah padanya setelah senior itu mangkat kelak.

Dari itu semua, dari fakta betapa dekatnya genetik orang-orang Arab dengan Nabi yang saya akan khidmati sampai mati dan hidup lagi, saya yakin, dan berprasangka baik: kedatangan mereka ke Indonesia pure buat dakwah. Label atau artifisialnya terserah saja, yang penting esensinya buat dakwah, mengajak pada jalan kebaikan.

Marhaban yaa Raja Salman

Semoga Tuhan memberi Engkau, Presiden Kami, Negara Kami, Orangtua Kami, dan Kami, ampunan yang tak bertepi.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here