Malam Puisi Sidoarjo nan Makin Eksis dan Eksotis

Tentu tulisan iki latepost. Tapi gak popo, Lur. Sing penting, semangatnya 45! Berikut catatan kami tentang Malam Puisi Sidoarjo, edisi Maret.

Berita Surabaya – Malam puisi Sidoarjo (malpus) semakin eksis dan seksis. Berkolaborasi dengan Teater SAE (dari Universitas NU Sidoarjo), menghadirkan penulis nasional, Dadang Ari Murtono untuk membedah karyanya yang berjudul Ludruk Kedua di aula pusdiklat LP Ma’arif dan dipenuhi oleh pengunjung yang tidak kurang dari 100 orang. M

Malam itu merupakan malam pertunjukan seni racikan musik akustik, teater, bela diri pencak silat, pembacaan puisi, hingga bedah buku tumpah ruah menjadi satu.

Moderator acara sekaligus penggagas malam puisi di Sidoarjo, Ferdi Afrar mengungkapkan Ludruk Kedua merupakan buku yang sudah didiskusikan di beberapa kota di Jatim seperti di Surabaya, Mojokerto, Jombang, dan Malang. Merupakan kehormatan bagi Sidoarjo untuk disinggahi sastrawan muda yang kiprahnya patut diperhitungkan di Jatim ini. Pasalnya selama ini Sidoarjo masih senyap dari hangar bingar kegiatan seperti ini.

“Apa yang diimpikan malpus pelan-pelan bisa terwujud, untuk menjadi bagian dari perkembangan sastra di Jatim, terlebih Indonesia,” ucapnya.

Impian dan harapan malpus selama ini memang ingin Sidoarjo menjadi Kota Literasi yang memunculkan banyak penulis. “Sidoarjo menjadi daerah yang mendukung atmosfir menulis berikut jaringan-jaringannya semisal toko buku, pelatihan menulis, hingga penerbitan,” katanya.

Perihal kolaborasi dengan universitas, tidak menutup kemungkinan malpus akan bekolaborasi dengan universitas lain, hanya saja bergantung pada pihak universitas. “Bergantung mereka, mau atau tidak,” imbuhnya.

Disisi lain perwakilan dari teater SAE, Haedar mengatakan bentuk kolaborasi ini ada karena selama ini Unusida memiliki keinginan untuk bisa melahirkan penyair-penyair baru yang mampu membanggakan Sidoarjo serta melahirkan sastrawan muda yang produktif. “Sekaligus sebagai forum komunikasi dan silahturahmi antar seniman dan sastrawan yang ada di Sidoarjo karena malpus banyak diminati kawula muda khususnya mahasiswa,” ungkapnya.

Pada kesempatan itu Teater SAE menampilkan pertunjukan Jumpritan Rembulan karya Wiwin Fidiana. Menceritrakan tentang permainan anak-anak yang sudah lama tidak muncul terlebih popular di era sekarang ini. Dengan latar kondisi pedesaan yang indah seperti sawah membentangyang kini sudah ditanami beton.

(dinukil dari reportase Neng Novela)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here