Si Kulit Bundar yang Belah Dua

Mahfud Ikhwan
Salah satu pendukung Selecao mengibarkan bendera negaranya, Brasil, dalam salah satu pertandingan di negeri Samba. Foto: Pixabay

Dalam rangka Copa America 2016 dan Euro 2016 yang segera digelar, redaksi SUROBOYO.id juga menerima tulisan bertema sepak bola. Sebagai penyemangat bagi arek Suroboyo, redaksi memuat tulisan penulis sepak bola sekaligus novelis Mahfud Ikhwan. Tulisan ini sudah dimuat di Jawa Pos, 1 Juni lalu. Tapi, beberapa bagian tulisannya harus dipotong. Berikut ini adalah versi lengkapnya. 

BOLA itu bundar. Demikian pemeo popular di kalangan penggemar sepakbola Indonesia. Itu benar jika diberlakukan umum, untuk semua jenis bola. Bola golf bundar. Bola tennis juga bundar. Dan masih banyak lagi. Tapi jika kita benar-benar merujuk kepada bola sepakbola, bola yang dimainkan 22 orang dan disoraki jutaan mata yang menontonnya, benda yang ditemukan oleh tiga orang Argentina (Tossolini, Valbonesi, dan Polo) sebelum dipabrikasi oleh perusahaan Jerman setelah ditemukannya teknologi 32 panel oleh kiper Denmark yang juga tukang sepatu, Eigil Nilsen, percayalah bahwa “si kulit bundar” itu sebenarnya belah jadi dua. Tak main-main, pembelahnya adalah Samudera Atlantik.

Tak setua terbelahnya benua purba Pangaea, yang membuat Eropa dan Afrika terpisah dengan Amerika. Tapi belahnya si kulit bundar nyaris setua sejarah sepakbola modern kita.

***

Ketika pada Oktober 1894, Charles Miller, pemuda Brazil peranakan Inggris, turun di pelabuhan Sao Paolo setelah mudik dari sekolahnya di Southampton, penyelenggaraan Piala FA sudah memasuki tahun ke-25-nya. Aston Villa memenangkan gelar liga pertamanya dan menjadi klub Inggris terhebat hingga mengujung abad, sementara Liverpool baru saja menjuarai divisi dua. Sepuluh tahun lebih awal, di dua sisi Sungai La Plata, dua imigran Inggris lain, kebetulan keduanya guru, yaitu William Leslie Poole dan Alexander Watson Hutton, masing-masing mengajari Uruguay dan Argentina bermain bola. Saat itu, FA (Football Association) setidaknya sudah berumur lebih dari 20 tahun.

Sebenarnya, para imigran Ingris itu tak benar-benar ingin mengenalkan sepakbola kepada negeri-negeri baru mereka di Amerika Latin. Mereka lebih tampak ingin pamer. Klub-klub sepakbola pertama di Brazil, Argentina, dan Uruguay didirikan oleh orang Inggris, tapi hanya untuk dan oleh mereka sendiri. Dan oleh karena itu, seperti diceritakan Galeano, di waktu-waktu awal, orang Argentina menganggap sepakbola sebagai “permainan gila dari orang Inggris gila”. Jika ada sedikit niat baik, maka itu adalah niatan yang sama dengan yang dibawa para penjajah Eropa 500 tahun sebelumnya: mengenalkan nilai-nilai hebat Barat dan menebar moralitas Kristen.

Namun, tak  menunggu lama, benda bulat dari kulit itu menggelinding dan kemudian lengket dengan kaki kurus dan korengan anak-anak setengah Indian dan keturunan bekas budak Afrika itu. Dari Rio hingga Rosario. Meminjam kalimat David Goldblatt untuk konteks Brazil, sepakbola “menyebar dengan kecepatan dan energi berkembang biak yang lebih mematikan dibanding hama atau wabah sampar.” Sepakbola segera menjadi “ibu peri baik hati” bagi para bocah mulato dan kulit hitam di Amerika Latin, demikian tulis Galeano.

Maka, belum tak sampai sedeka kemudian, sepakbola telah menjebol batas-batas ras dan sosial yang awalnya dibawa bersamanya. Ia melenting dari pagar-pagar sekolah kulit putih, masuk ke gang-gang sempit di perkampungan miskin di Sao Paolo atau Buenos Aires. Ia merangsek keluar dari klub-klub sport ekslusif para pendatang Eropa ke kalangan buruh pelabuhan dan kuli kereta api di Montevideo. Di kondisi sosial politik negara-negara Amerika Latin yang rasis dan segregatif, sepakbola menjadi wahana demokratisasi yang paling ampuh.

Sebelum nyaris seabad kemudian seorang mulato Argentina bertubuh boncel mengkadali mereka dengan kaki (dan tangannya), orang-orang Inggris belum-belum sudah menyesali diri karena telah membawa sepakbola di Benua Amerika. Seperti dikutip Galeano, pada 1915 Sports, koran berbahasa Inggris di Brazil, pernah menulis: “Sebagian dari kita yang memiliki posisi yang jelas di masyarakat harus rela bermain bersama para kuli, dengan sopir… Olahraga kini cuma jadi derita, pengorbanan, dan bukan lagi penghiburan.”

Saat para aristokrat Inggris dan Prancis masih ribut bagaimana sebaiknya menulis dan mengeja nama asosiasi sepakbola dunia, seakan ingin mendahului, negara-negara Amerika Latin sudah menyepakati sebuah kompetisi antarnegara pada 1916. Turnamen yang akan kita saksikan perayaan ke-100 tahunnya sebentar lagi ini adalah kompetisi sepakbola antarnegara tertua—jika tak menghitung Home Nation di Inggris Raya. Ketika Amerika Latin telah menyelenggarakan lima kali kejuaraan, Eropa, dengan mengatasnamakan dunia, baru mempertandingkan sepakbola di Olimpiade Paris 1924.

Meskipun berlayar ke Eropa dengan uang hasil gadaian, dan membiayai penginapan dari mengamen pertandingan, juga sempat diremehkan, Uruguay tak terbendung menjuarai turnamen sepakbola lintas benua pertama. Pada penyelenggaraan berikutnya, masih di Eropa, dua tim Amerika Latin, Argentina dan Uruguay, bertemu di final Olimpiade 1928—final yang mereka ulangi lagi dua tahun kemudian di Piala Dunia 1930. (Dan perlu diingat, dua gelar dunia pertama Italia (1934 dan 1938) tak akan terjadi tanpa para oriundi dari Argentina.)

***

Anak-anak sedang berada di tribun menonton pertandingan. Foto: Unsplash.
Anak-anak sedang berada di tribun menonton pertandingan. Foto: Unsplash.

Pada 1904, Asosiasi Sepakbola Internasional (FIFA) didirikan di Eropa dan sampai lebih dari setengah abad kemudian mereka menganggap bahwa itu hanya milik mereka. Negara-negara luar benua cuma nebeng saja. Mungkin karena itu, negara-negara Eropa baru merasa butuh asosiasi sendiri setelah 1954, yakni dengan berdirinya UEFA. Bandingkan dengan Conmebol di Amerika Latin yang berdiri sejak 1916.

Gelaran Piala Dunia pun dianggap punya mereka. Memakai alasan kualitas, kuota tim-tim Eropa di Piala Dunia sangat timpang dibanding kawasan lainnya. Seperti ditulis McBall, Eropasentrisme bahkan semakin menggebu saat kepemimpian Stanley Rous (Presiden FIFA 1961-1974). Tentu ada musabab selain perang kalau mereka baru menyelenggarakan kejuaraan antarnegara Eropa tahun 1964, meskipun Henry Delaunay, pria Prancis yang namanya diabadikan di nama tropi Piala Eropa, telah mengusulkannya sejak 1927.

Kelicinan Joao Havelange dari Brazil, yang menggandeng Pele keliling dunia untuk mengail dukungan pencalonannya sebagai Presiden FIFA dari negara-negara non Eropa, benar-benar menjadi ancaman nyata. Ketika Havelange berhasil menggulingkan Rous di Frankfurt, sejarah dan peta sepakbola berubah untuk selama-lamanya. Punya ikatan unik dengan negara-negara “kecil”, Havelange bertanggung jawab atas maraknya kejuaraan-kejuaran kelompok umur dan mekarnya Afrika. Dengan bertambahnya peserta Piala Dunia secara signifikan, Havelange juga memberi harapan—yang dulu dikunci oleh birokrat konservatif macam Rous—kepada lebih banyak negara.

Tapi Havelange juga punya dosa. Selain membawa Pele keliling dunia, ia juga membawa serombongan bakul ke dalam sepakbola. Tanpa Adidas, Coca Cola, dan lainnya, ia tak akan bisa jadi Presiden FIFA. Dan kepada merk-merk itu, juga terutama kepada televisi, nyawa sepakbola diserahkan. Tak mengherankan, selain dua gol sensasionalnya, Piala Dunia 1986 Mexico juga dikenang karena kemarahan Maradona dan koleganya akibat dipaksa bermain pada jam 12 siang demi pemirsa televisi di Eropa.

Dosa lainnya adalah karena ia mengkader Sepp Blatter, orang Swiss yang tak pernah menendang bola, yang oleh Galeano disebut “selirnya Havelange”. Meneruskan visi Havelange, Blatter menjual sepakbola sampai di level tak terbayangkan. Ia sebisa mungkin mengisi nyaris semua tanggalan di kalender dengan jadwal pertandingan, baik di tingkat klub maupun timnas. Korupsi dan keserakahan yang menimbun FIFA di pengujung kepengurusan Blatter tak bisa dilepaskan dari visi Havelange. Juga eksploitasi habis-habisan para pemain bintang yang dibayar mahal di klub-klub elit Eropa. Untuk yang disebut terakhir itu, tak ada yang lebih dirugikan selain tim-tim nasional dari Latin Amerika sendiri, tempat para pemain terbaik di dunia dilahirkan dan akan terus dilahirkan.

Kini tak ada lagi tim nasional yang menggondol pemain dari tim nasional lain, seperti yang dulu sering dilakukan Italia dan Spanyol terhadap pemain-pemain dari Amerika Latin. Tapi, yang sekarang terjadi mungkin lebih buruk. Setelah kompetisi yang padat dan panjang, pemain-pemain seperti Messi, Neymar, Suarez, Willian, Godin, Sanchez, Vidal, pulang ke negaranya dengan punggung linu, kaki pincang, dan mata bosan. Tak terhindarkan, pola lama bahwa Eropa mengeruk bahan mentahnya dan menyisakan remah-remahnya untuk Amerika Latin kembali terjadi.

***

Terpisah seperlima luas dunia, belahnya si kulit bundar beririsan dengan sejarah penjajahan, prasangka ras, perlawanan (budak melawan tuan, murid melawan guru, gelap melawan terang), dan kemudian perbudakan lagi. Tapi seperti terbelahnya Laut Merah bagi kaum Israel, terbelahnya si kulit bundar ini adalah sebuah berkah.

Ya, berkah. Terutama untuk kita, bangsa yang tergila-gila dengan sepakbola tapi tak memiliki sedikit pun kemampuan untuk mengurusnya. Dan karena hanya dimuat mual oleh sepakbola kita sendiri, menemukan siaran Piala Eropa dan Copa Amerika secara hampir bersamaan seperti meneguk es degan di buka puasa pertama. Segar… dan enak di perut. Dan untuk itu, mari berterimakasih kepada Havelange dan Blatter atas dosa yang mereka lakukan terhadap sepakbola.

Kemegahan pasti akan didapat pada gambar-gambar dari Paris atau Marseille. Tapi jika ingin melihat pesta dan drama (ingat colekan Jara ke bokong Cavani tahun lalu?), maka pelototi siaran dari Chicago atau Seatle. Dan karena ini Ramadan, jangan lupa tarawih dan tadarusnya. Dan tentu saja puasanya.

Tulisan Mahfud Ikhwan ini juga bisa dinikmati di belakanggawang.blogspot.co.id 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here