Layanan PKPR dengan Psikolog Berkompeten dan Kontribusi dari Konselor Sebaya

Suasana layanan PKPR di salah satu sekolah yang ada di kawasan Tambakrejo. Para siswa tampak antusias menjalani aktifitas ini.

 

Masa anak-anak dan remaja tergolong rentan dan patut menjadi perhatian. Baik dari orang tua, masyarakat, maupun pemerintah. Bertolak dari perspektif tersebut, Puskesmas Tambakrejo yang berada di bawah koordinasi Dinas Kesehatan (Dinkes) Surabaya merumuskan terobosan di bidang pelayanan pada anak-anak dan remaja. Khususnya, di usia 10-19 tahun.

Apalagi, peristiwa yang cukup menyesakkan dada pernah terjadi di wilayah kerja puskesmas ini. Pada 2014, terjadi tindakan pelecehan seksual terhadap anak-anak/remaja (usia sekitar 10-13 tahun) oleh seorang guru agama. Korban berjumlah sekitar 20 orang.

Persoalan lainnya, kebiasaan sebagian penduduk di daerah ini masih kurang baik. Perjudian, mabuk-mabukan, dan perilaku negatif lain masih dijalankan. Keadaan diperparah dengan strata ekonomi yang tergolong menengah ke bawah. Kombinasi kondisi sosial-ekonomi yang memrihatinkan ini menjadikan atensi pada anak-anak/remaja mutlak diperlukan.

Puskesmas membuka layanan PKPR. Yakni, Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja. Program kerjanya beragam. Termasuk, menangani problem para pasien/korban pelecahan seksual. Sekadar catatan, kawasan Tambakrejo termasuk padat penduduk. Jumlah anak-anak dan remaja di kawasan ini berdasar data 2014 sebanyak 7.433 orang anak-anak/remaja usia 10-19 tahun.

Salah satu fokus PKPR adalah “merehabilitasi” fisik dan psikis anak-anak/remaja yang pernah menjadi korban pelecehan seksual. Dalam programnya, layanan ini mengerahkan psikolog khusus dan konselor yang seusia dengan pasien. Konselor yang dimaksud, telah lebih dulu mendapat pelatihan khusus dari eksponen masyarakat bernama SEBAYA Kota Surabaya. Jadi secara prinsip, PKPR bersifat sinergis dengan banyak pihak. Termasuk, dengan masyarakat sekitar dan sekolah-sekolah di wilayah kerja puskesmas. Sejumlah MoU dibuat sebagai bentuk komitmen dalam pelaksanaan layanan ini.

PKPR merupakan layanan komprehensif dengan strategi berkesinambungan. Yang meliputi upaya promotif, preventif, kuratif, rehabilitatif dan mencakup semua bentuk layanan kesehatan atau medis. Sedangkan layanan dengan psikolog berkompeten dengan kontribusi dari konselor sebaya bertujuan untuk memberikan layanan yang ramah anak-anak/remaja. Sebab, psikolog maupun konselor sebaya pasti memiliki nilai plus di aspek pendekatan dengan sasaran. Mereka memiliki teknik komunikasi yang brilian untuk bisa menyelam dalam jiwa anak-anak/remaja.

Layanan ini mudah diakses. Layanannya bisa personal maupun kolosal. Termasuk,  memberikan pendampingan kepada korban/pasien pasca mengalami trauma fisik dan psikis karena kasus pelecehan seksual. Selain itu, kegiatan ini juga bertujuan untuk menurunkan jumlah kasus serupa. Di dalamnya, terdapat pula penyuluhan yang antara lain berisi tentang bagaimana agar terhindar dari kejadian tersebut. Sebagai bentuk pencegahan dan langkah antisipatif.

Tren Positif

Bisa dibilang, terobosan ini sudah menampakkan hasil positif. Buktinya, semua kasus pelecehan seksual yang pernah ada di Tambakrejo terselesaikan dengan paripurna. Indikatornya, para korban/pasien mau melanjutkan sekolah  (tidak mogok sekolah). Mereka kembali bergaul dengan keluarga dan tetangga seperti biasa. Kondisi fisik dan psikis pun berkembang sehat dan normal yang dapat dilihat dari rekam medis dan buku monitoring masing-masing. Selain itu, tidak ada lagi kasus pelecehan seksual di institusi pendidikan/ sekolah yang muridnya pernah mengalami pelecehan seksual. Sistem pelaporan melalui pemberdayaan masyarakat berjalan optimal. Tim PKPR kerap mendapat umpan balik masyarakat melalui media telepon, sms dan pesan di kotak saran serta form pelaporan kasus pelecehan seksual. Artinya, inovasi ini sudah berjalan pada jalur yang benar.

Pendekatan kreatif dan inovatif di sini terlihat dari teknis penyelesaian masalah yang melibatkan peran psikolog secara lebih intensif. Plus, melibatkan konselor sebaya secara situasional. Sebab, teman seusia pasti lebih gampang menyampaikan pesan positif pada seseorang.

Mekanisme layanan ini adalah menerima laporan, menindaklanjuti dengan menurunkan tim medis dan psikolog secara intensif, serta melakukan pendampingan berkelanjutan. Pendampingan dilakukan sampai korban/pasien sukses keluar dari kondisi Traumatic dan Anxiety Disorder.

Psikolog menjadi ujung tombak layanan ini. Dalam pemeriksaan medis pun, keberadaannya tetap dibutuhkan untuk menenangkan pasien/korban. Meski memang, pihak-pihak lain juga berperan sentral. Pendampingan atau penyuluhan secara personal oleh psikolog bisa dilakukan di rumah, sekolah, atau tempat lain yang dianggap nyaman.

Kepolisian juga punya tugas untuk menegakkan hukum bila memang sudah terjadi pelecehan seksual. Ketegasan diperlukan untuk memberi gambaran pada keluarga yang bersangkutan bahwa persoalan ini ditanggapi serius oleh Polri. Yang jelas, semua pihak mesti kompak untuk melakukan layanan integratif. Sumbangsih masyarakat untuk aktif melaporkan kejadian atau kasus seksual pun selalu ditunggu dan bakal segera direspon.

Penyuluhan Sekolah

Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, PKPR aktif melakukan penyuluhan ke sekolah. Dengan demikian, makin banyak pihak yang paham apa itu pelecehan seksual. Termasuk, bagaimana cara menghindari dan melaporkannya pada pihak berwenang.

Dalam perjalanannya, mantan korban/pasien yang sudah sehat fisik dan psikisnya diminta untuk ikut menyebarkan informasi tentang pentingnya mewaspadai kejahatan ini. teman, keluarga, dan tetangga sekitar pun diharapkan ikut melakukan gethok tular. Tujuannya, menggelorakan semangat perang terhadap pelecehan seksual anak-anak/remaja.

Puskesmas Tambakrejo sendiri memiliki posyandu remaja. Di sana, para anak-anak/remaja bisa mencurahkan isi hati tentang persoalan yang menimpanya. Tak terkecuali, problem medis. Pihak posyandu akan berupaya mengentaskan masalah tersebut. Termasuk, dengan merekomendasikan layanan PKPR sebagai alternatif wadah mencari solusi.

Apa yang sudah dilakukan Puskesmas Tambakrejo ini berpotensi diadopsi oleh puskesmas lain di Surabaya. Tak terkecuali, soal kebutuhan psikolog yang sepatutnya dimiliki tiap puskesmas. Meski memang, secara keseluruhan, teknis pelayanan PKPR ini masih butuh penyempurnaan. Sebagai contoh, peran konselor sebaya yang hanya dalam tahap situasional, semestinya diperluas. Dengan demikian, hubungan antara anak-anak/remaja Tambakrejo dan konselor akan lebih akrab. Bakal ada rasa saling menjaga dan peduli sejak dini.

Pelatihan khusus konselor oleh SEBAYA Kota Surabaya juga bisa ditargetkan merata untuk mereka yang berada di wilayah Tambakrejo. Harapannya, segala proses penyelesaian masalah dan pemulihan (bila korban/pasien mengalami gangguan fisik maupun psikis) dapat menjadi lebih mudah dan terbuka.

Di sisi lain, program layanan ini terus berupaya meningkatkan keterlibatan keluarga dan tokoh masyarakat dalam menyebarluaskan informasi. Termasuk, sosialisasi tentang keampuhan metode yang dilaksanakan. Plus, penyuluhan terkait bagaimana mengakses layanan PKPR ini. Nantinya, akan dilakukan survey identifikasi kepuasan dan kebutuhan masyarakat terhadap PKPR. Tujuannya, mendapat masukan berharga yang aplikatif untuk pembenahan program. (*)

(dikutip dari buku “Inovasi Pelayanan Publik Kota Surabaya 2014-2015” yang dibuat oleh Bagian Organisasi dan Tata Laksana Pemkot Surabaya, 2016)

 

BACA JUGA

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here