Ciak Cumi Hitam Jalan Waspada, Bikin Lidah Bergoyang Gembira

kuliner Surabaya

Berita Surabaya – Kuliner Surabaya memang tak pernah habis untuk dieksplorasi. Bahkan, seorang teman dari Jakarta pernah bilang, di Surabaya semua PKL pasti makanannya enak!

Padahal, iya kalo PKL-nya jualan makanan. Kalau jual kroto. Apa ya masih enak? Enak bagi manuk prenjak mungkin yes.

Nah, pada Kamis, 21 Juli lalu, saya ciak nasi cumi Jalan Waspada. Ini termasuk salah satu kuliner Surabaya yang lejen. Lokasinya persis di belakang mall Pasar Atum. Jangan kuatir kehabisan, warung ini buka 24 jam!

Apa yang istimewa dari nasi cumi hitam ini?

Di Jawa Timur, cumi-cumi biasanya dimasak dengan bumbu hitam. Bumbu tersebut berwarna seperti itu bukan karena ketetesan tinta printer bajakan yang dijual dengan suntiknya. Tapi karena pengaruh tinta hitam alami yang ada di dalam hewan laut tersebut.

Memang, warna hitam bukan warna yang eye catching untuk kuliner. Kesan pertama, jelas tidak menggoda. Apalagi bagi orang-orang luar Jawa Timur. Tidak banyak yang terbiasa dengan makanan berwarna keling.

Tapi warga Surabaya sudah terbiasa dengan warna hitam. Masakan berwarna hitam banyak yang mereka lahap. Mulai dari rawon, rujak cingur, cumi hitam itu tadi, dan kalau lagi kentekan duwek kadang-kadang senengane nggado petis!

Nah, nasi cumi ini termasuk yang berada dalam “daftar hitam kuliner Surabaya”.

Jangan takut dulu dengan warnanya yang hitam. Sebab, di balik hitamnya penampakannya, mengandung misteri kelezatan yang luar biasa.

kuliner Surabaya
Caption standar: penampakan nasi cumi Jalan Waspada. Jangan sampai keliwatan karena mirip PKL biasa. Caption alternatif: Seseorang yang diduga jomblo makan nasi cumi sendirian. Bagi dia, makanan adalah sumber kebahagiaan utama karena galau juga butuh tenaga!

Harus diakui, cumi berwarna hitam bukan hal yang spesial. Ibu-ibu di sepanjang pantura Jawa Timur hampir pasti memasak binatang bertentakel itu dengan bumbu yang sama. Mulai dari Tuban, Lamongan, Gresik, hingga Surabaya.

Tapi, nasi cumi Jalan Waspada tetap spesial. Bumbu hitamnya beda. Jika masakan cumi umumnya encer, tidak demikian halnya dengan nasi cumi Jalan Waspada.

Bumbunya tidak encer. Lebih pekat, kental, dan lebih kaya rempah. Bumbu hitamnya juga tidak “meng-kuah” seperti umumnya cumi hitam. Tapi lebih menempel pada daging cuminya.

Tekstur daging cumi juga lebih lunak dan empuk. Seempuk bantal yang kapuknya sudah mberodol-mberodol karena terbiasa digigit saat nonton sinetron Anak Jalanan.

Nah, di nasi cumi Jalan Waspada, ada unsur-unsur masakan yang kamu harus tahu. Selain cumi sebagai lauk utama, ada peyek udang, mie kuning, tahu bali, dan kelapa yang menyerupai serundeng. Oya, kemudian satu lagi, sambel sak ndulit.

Dari semua unsur-unsur yang membangun nasi cumi Jalan Waspada tersebut, semuanya berpadu dengan sangat ciamik. Peyek udangnya lembut, tidak keras, meski bukan berarti melempem.

Ibaratnya, lunak di luar. Garing dan lembut di dalam.

Yang bikin agak kurang mantep sebenarnya sambelnya. Sebagai masakan made in Madura, sambal yang ditoletkan di nasi cumi Jalan Waspada ini kurang spesial. Pedasnya juga tidak menggigit. Bahkan, level pedasnya masih kalah sama klien yang marah-marah karena garapan telat.

Prei sambel, nasi cumi ini jelas-jelas haucek sing cing ping!

Memang, ada yang bilang porsi nasinya terlalu mini. Tapi sebagai orang yang gak suka makan terlalu banyak (mangan titik tapi bolak balik!), porsi nasinya cukup.

Ini porsi “berhenti sebelum kenyang”. Khas sunnah Nabi lah. 😀

BACA JUGA: 

 

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here