KOMUNITAS: Catatan Masika ICMI Jawa Timur dari Diskusi Publik “OASE BANGSA”

Gus Sholah dan Cak Januar. Insya Allah, dua-duanya sama-sama ganteng dan pinter

BERITA SURABAYA – Rabu, 8 Maret 2017, Wakil Ketua Masika ICMI Jawa Timur Januar S. Kaimuddin, ST., MT yang akrab disapa Cak Januar menghadiri undangan Radio Suara Muslim Surabaya pada diskusi publik “OASE BANGSA” dengan tajuk “Menggagas Pemimpin Berkualitas” di Hotel Mercure Surabaya.

Ada beberapa tanggapan Cak Januar yang saat itu mewakili Masika ICMI Jawa Timur, terkait sejumlah poin dari para pemateri (Prof. Daniel M. Rasyid dan Gus Sholah atau KH Sholahuddin Wahid) yang hadir saat itu. Secara prinsip, ujarnya, pengantar yang disampaikan oleh pemateri berkaitan dengan bagaimana teori kepemimpinan tersebut dengan melakukan pendekatan historis pada tokoh-tokoh bangsa Indonesia.

Yang menarik adalah ulasan Prof. Daniel M. Rasyid yang menyampaikan pendekatan dengan figur kepemimpinan pada Nabi Muhammad SAW. Prof. Daniel mengkongklusikan empat hal:

  1. Silaturahmi (Relating with people)
  2. Make a sense (experience)
  3. Menawarkan mimpi (visioning)
  4. Bekerja bersama-sama mencapai mimpi tersebut (innovating)

Menurutnya, yang menjadi perhatian adalah bukan pada bagaimana melahirkan pemimpin tapi bagaimana menciptakan lingkungan yang menumbuhkan kepemimpinan. “Jadi pekerjaan besar yang harus kita buat bukanlah mencari formulasi untuk mencetak pemimpin  tetapi bagaimana menciptakan kepemimpinan masa depan untuk generasi emas Indonesia di masa mendatang”, ujar alumni ITS ini seperti dilansir dalam press rilis yang dilayangkan pada redaksi SUROBOYO.id.

Pemikiran lain adalah terkait dengan apa yang disampaikan oleh Gus Sholah yang dalam paparannya menyentuh sisi historical bangsa Indonesia. Menurut Cak Januar, selama ini yang menjadi model percontohan bangsa adalah sejarah nusantara.

“Tapi ini nusantara, bukan Indonesia. Sedangkan Indonesia berbeda dengan Nusantara. Kita belum menemukan model (formulasi) dalam konteks bangsa Indonesia,” kata dia.

Kalau melihat apa yang telah dilakukan oleh para pendiri bangsa, mereka telah menyiapkan suatu ruang untuk mewujudkan mimpi dan cita-cita bangsa Indonesia. Ruang tersebut adalah kemerdekaan.

Tidak ada yang dapat dilakukan (4 pendekatan konklusi Prof. Daniel) jika bangsa tidak merdeka. Berbicara tentang kemerdekaan, Cak Januar menganalogikannya pada kondisi bagaimana Islam datang melalui Nabi Muhammad SAW dengan membawa risalah Al-Qur’an yang kemudian lahir generasi terbaik dunia yang tercatat dalam sejarah yakni 3 generasi emas Umat Islam.

Untuk dapat mengajarkan para sahabat dan menyebarkan Islam, Rasulullah butuh kebebasan (merdeka). Untuk itu, Rasulullah memilih untuk berhijrah ke Madinah, yang kemudian Madinah menjadi pusat dimulainya peradaban emas Islam yang melahirkan 3 generasi emas umat Islam tersebut.

Pertanyaannya, bagaimana Rasulullah menyiapkan generasi emas ini? Dan dimana tempatnya? Singkat kata, jawaban pertanyaan pertama adalah Rasulullah mengajarkan tentang aqidah, sedangkan jawaban untuk pertanyaan kedua adalah Masjid.

Jadi, satu-satunya relevansi yang paling jelas dan sesuai dengan kondisi bangsa Indoensia saat ini (mayoritas umat Islam) untuk menjadi referensi model pembangunan generasi emas Indonesia adalah bersumber dari Islam itu sendiri. Dan masjid sebagai pusat peradabannya.

“Allah SWT dengan rahmat-Nya telah memilih bangsa-bangsa sebagai simbol kejayaan Islam. Bangsa Arab sudah pernah dipilih, bangsa Persia sudah pernah (Syam), Bangsa Turki juga sudah pernah (Ottoman), waktunya kita bangsa Indonesia menjemput Rahmat Allah untuk memenangkan Islam dengan generasi emasnya dimulai dari Indonesia untuk dunia”, ujarnya saat menutup resume reportase. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here