KOLOM SASTRA: The Boss and The Secretary

sumber: pixabay

Suatu sore, ketika si bayi torek tidur karena kecapekan mengejar ayam liar seharian, saya menerima sebuah wa dari teman baik. Isinya meminta saya untuk bantu-bantu mengajar. Hore! Singkat cerita, seminggu kemudian, saya dapat jadwal sharing session tentang Romantic Literature.

Sekedar memperjelas, saya bukan dosen, hanya bantu-bantu teman: semacam perewangan. Saya ibu rumah tangga biasa yang bangun sebelum muadzin azan subuh, masakno sarapan bayi, bojo karo morosepah.

Selain itu, biasanya ngetik terjemahan di sela-sela bayi torek tidur. Tawaran ngajar ini lumayan rek, kerja di luar. Bosan di rumah terus.

Lanjut, ternyata saya mendapat jam siang. Panas sekali Surabaya, untung AC telah ditemukan dalam kehidupan kita. Selesai perkenalan, seperti biasa, saya menceritakan sebuah kisah pendek. Kisah ini terinspirasi  oleh cerita teman saya, seorang stand up comedian unyu, cantik, berhijab, cukup terkenal dari jogja.

“There are two people; the secretary and the boss. The boss orders the secretary to deliver a mysterious bag to the client. When the secretary asks what is inside that bag. The boss answers, “Money.” Before arriving to the client’s door, the secretary is tempted to open the bag. Finally, the secretary can’t resist the desire to steal a look inside. Surprise surprise! There is no money inside, just paper! So, what is really happening?”

Gak usah diterjemahno yo rek, arek suroboyo kan pintar-pintar, jangankan bahasa inggris, bahasa hati ae paham.

Sebagai tanggapan atas cerita yang sangat sangat sangat pendek tersebut, saya ‘mekso’ mahasiswa memberikan solusi dan akhir cerita. Beberapa jawaban arek-arek kiro-kira koyok ngene:

“She has to report to the boss about the problem. I think the boss gives her that task to test her. He want to find out whether she is trustworthy or not.”

“I think the money has been stolen somewhere, and she doesn’t realize about this. She has to report this to both her boss and police.”

“The secretary just has to continue to finish the task by giving the bag to the client and close her eyes about what will happen next.”

Seneng mahasiswa sudah memberi respon. Karena apa, kemudian saya dengan lantang berteriak, “You are trapped? By whom? Your own mind!” halah macak kereng titik. Kita pretheli detail cerita saya tadi; dalam cerita tersebut, hanya ada penyebutan ‘the boss’ dan ‘the secretary’.

Apakah saya mengatakan bahwa si boss lelaki? Apakah saya mengatakan bahwa si secretary perempuan? Tidak! Lalu kenapa jawaban yang muncul secretary diganti dengan “she” and “her”?

Macak kereng maneh; “Kita sudah belajar feminism dari salah satu teori sastra yang mengajarkan bahwa perempuan dan lelaki sama. Ada sebuah penjara virtual dalam otak kita. Mari kita bebaskan pikiran kita dari penjara tersebut. The boss bisa saja perempuan, dan the secretary bisa saja lelaki. Dan sebaliknya. Belajar sastra bukan hanya belajar teori, tapi juga mengaplikasikan nilai-nilai positifnya dalam kehidupan kita sehari-hari,” orang sekelas terdiam, begitu pula saya. Tampaknya, kami sama-sama lapar. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here