Kenapa Olahraga Penting? Gawe Silaturahmi, Rek!

Balsem bisa dibawa bila diperlukan

Nyaris tiap seminggu sekali, atau dua minggu sekali, saya ikut olahraga bulu tangkis kawan-kawan di komplek kampung pemukiman yang saya huni sekarang. Kawan-kawan itu, usianya sekitar 7 atau 10 tahun lebh muda dari saya. Saya 29 tahun, mereka rata-rata masih 19 sampai 22 tahun, dan belum rabi. Meskipun, di muka bumi ini, banyak pula yang umurnya masih 19 tahun tapi sudah rabi dan punya anak.

Tapi, fokus saya kali ini bukan soal rabi atau gak rabi. Melainkan tentang betapa hebatnya hobi berolahraga dalam memerkuat silaturahmi.

Dengan berolahraga bersama, saya jadi lebih kenal dengan kawan-kawan yang lebih muda itu. Karena, olahraga, seperti pula agama, tidak memandang usia. Siapa saja, bisa melakukannya. Asalkan, sesuai porsi.

Di samping bulu tangkis, tiap sore, nek pas onok musuhe, saya juga kerap main ping pong neng gone omahe Pak RT. Beda dengan tatkala bulu tangkis, pas ping pong ini lawan saya umumnya kerabat-kerabat senior. Mereka kalau main ping pong, bolanya diseset-seset alias diplintir-plintir.

Ingat, ini cuma istilah. Bukan bolanya yang digenggam lalu diplintir, namun mukulnya yang “diisi” atau “diteknik” sehingga lari bola jadi tidak “polosan” atau tidak lurus.

Lagi-lagi, di meja ping pong pula, saya jadi lebih kenal dengan bapak-bapak sekitar rumah. Bahkan, dengan bapak-bapak dari RT yang berbeda.

Olahraga sudah mendekatkan semua orang dari berbagai latar belakang usia. Karena dalam berolahraga, fokusnya permainan fisik itu. Asal bisa, masio gak enak utowo gak lihai, ya antar satu orang dengan orang lain, dapat tetap menjalin komunikasi.

Olahraga beda dengan cangkrukan, Rek. Nek cangkruk, koen kudu nggolek bolo sing satu visi dan misi. Biyasane seumuran.

Misal, koen jik enom, gak mungkin neng nggone warkop mbahas tentang anakmu sing ape njaluk sekolah atau nyuwun sepedah. Lha wong, bojo ae koen gurung nduwe. Sedangkan nek koen wes tuwek, cangkruk bareng konco-konco, ya gak mungkin bahas tentang tugas kuliah. Lha wong peno wes nduwe anak papat!

Kiro-kiro ngono. Dan demikianlah, beda ruang publik atau materi komunikasi saat berolahraga dan saat cangkruk. Saat olahraga bersama, masing-masing orang bisa diakrabkan dengan permainan yang lagi dijalani.

Intine, selain yasinan atau tahlilan, olahraga bareng di kampung adalah media terbaik untuk mengakrabkan diri dengan lingkungan. Di kawasan Wiyung, ada banyak lapangan bulu tangkis. Meh kabeh gedung serbaguna nduwe lapangan badminton. Nek kampungmu gak nduwe gedung serbaguna, jajalo parani kampung sebelah.

Paling yo mbayar sewo Rp 30 ewu sak jam. Nek sing ain wong papat, barti mek Rp 7,5 ribu, Rek. Nek aku she biyasane neng Pratama. Soale, nek kampungku gak onok lapangan badminton. Nek gak nok Pratama, arek-arek biyasane nyewo nok Hi Qua Lidah.

Joss lah pokoke. Selalu giat berolahraga, ya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here