CATATAN GURU: Kejahatan Seksual, Pengetahuan, dan Pendidikan

Sumber: Pixabay

Belakangan ini Indonesia dikejutkan dengan maraknya berita kekerasan seksual yang dilakukan oleh remaja. Yang menjadi korban bukan hanya remaja, bahkan sebagian masih dalam usia anak-anak. Dalam sejumlah kasus, balita pun menjadi korban!. Mencuatnya fenomena ini membuat kita bertanya-tanya, sebegitu parahkah perlakuan jahat terhadap anak-anak yang notabene merupakan generasi penerus bangsa yang justru membutuhkan perhatian untuk tumbuh dan berkembang secara optimal baik fisik, mental, maupun sosialnya?.

Sebagian pendapat mengatakan bahwa degradasi moral remaja Indonesia disebabkan karena hilangnya pendidikan moral yang tergantikan dengan kemajuan teknologi. Pendidikan kita akhir-akhir ini lebih mengutamakan mutu kecerdasan intelektual tanpa diimbangi dengan kecerdasan emosional. Hal ini berdampak pada kebejatan-kebejatan yang cenderung dilakukan pelajar Indonesia. Sebagian orang menyalahkan guru sebagai pendidik yang gagal dalam mengatasi pergeseran dekonstruktif tersebut. Lantas, apa yang sejatinya mesti dibenahi?

Peran Orang Tua

Kasus-kasus kejahatan seksual terjadi karena lemahnya pengawasan orang tua. Apalagi, pada zaman modern seperti ini, banyak orang tua yang sibuk sehingga tidak mempunyai cukup waktu bersama anak. Kondisi demikian dimanfaatkan oleh predator seksual untuk melancarkan aksinya. Karena itu, orang tua harus terdidik dan mengenal baik pengetahuan tentang kejahatan seksual.

Pengetahuan kejahatan seksual yang dimaksud adalah mengenal siapa saja yang berada di lingkungan anaknya. Termasuk, mengenal dan mengetahui tanda jika anaknya mengalami kejahatan seksual. Pasalnya, anak yang mengalami kejahatan seksual tidak serta merta akan menceritakannya. Butuh proses dan pendekatan kepada anak agar mau bercerita. Bila anak sebelumnya ceria mendadak menjadi pendiam, malas sekolah, dan mempunyai ketakutan yang berlebihan, hal ini harus dipahami oleh orang tua.

Peran Pendidikan

Sempat gencar diberitakan media massa, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mengajukan usul agar pendidikan seks harus masuk dalam kurikulum. “Orang tua tidak memahami pengetahuan tersebut. Oleh karena itu, satu-satunya jalan, pemerintah melalui kementerian yang memfasilitasinya melalui kurikulum sekolah”, ucap Erlinda, salah satu pengurus KPAI seperti dilansir salah satu situs berita.

Memang tidak bisa dipungkiri, remaja tidak bisa terlepas dari kenakalan-kenakalan dalam usianya. Masa remaja merupakan masa transisi dari masa anak-anak menuju masa dewasa. Tetapi, model kenakalan remaja pada zaman dulu dengan sekarang sudah mengalami pergeseran jauh. Di masa kini, kenakalan remaja lebih cenderung dalam permasalahan-permasalahan seksual. Hal ini bisa kita dapatkan ketika nongkrong di warung kopi, pembahasan yang menjadi topik utama adalah bagaimana seorang remaja dalam menjalin hubungan pacaran. Mereka cenderung mengarah pada kegiatan seksual dalam berpacaran.

KPAI berpendapat bahwa dalam menanggapi pendidikan seks harus mengubah cara berpikir. Selain itu, makna pendidikan seks sangat luas, tidak hanya berkisar masalah jenis kelamin dan hubungan seksual. Lebih dari itu, di dalamnya ada perkembangan biologis seluruh tubuh manusia, hubungan antar manusia (antar keluarga, teman, pacar, dan perkawinan), kemampuan personal (termasuk di dalamnya tentang nilai, komunikasi, negosiasi, dan pengambilan keputusan), perilaku seksual, kesehatan seksual, aborsi, kekerasan seksual, serta budaya masyarakat tentang seksualitas dan agama.

Peran Guru

Guru sebagai orang tua kedua yang berada di sekolah, hendaknya turut andil dalam pencegahan dini kejahatan seksual yang pada anak (siswa). Sebagian besar guru pastinya berharap bahwa permasalahan seksual yang terjadi pada remaja di Indonesia mendapatkan titik terang. Paling tidak ada usaha pencegahan dan pemahaman terhadap remaja bahwa perbuatan itu tidak patut dilakukan. Pendidikan seks secara utuh tidak perlu dimasukkan dalam kurikulum secara penuh, melainkan dasar-dasar moral yang lebih utama dikembalikan seperti kurikulum lama.

Tindakan kewaspadaan dini terhadap kejahatan seksual anak ini bisa diaplikasikan melalui pembiasaan-pembiasaan atau penumbuhan karakter siswa setiap harinya di sekolah. Tindakan yang dimaksud bisa berupa pembiasaan pelaksanaan ibadah, perilaku sopan santun terhadap guru dan teman, pengenalan perilaku menyimpang beserta dampak-dampaknya, atau pembiasaan-pembiasaan lain yang berperan dalam penumbuhan perilaku siswa. Sehingga kita semua berharap pertumbuhan moral anak akan terkendali dari peran serta semua faktor yang dekat dengan anak-anak. Guna menekan terjadinya kejahatan seksual yang mungkin terjadi.—

* Artikel ini pernah dimuat di Harian Bhirawa, 31 Oktober 2016. Materi pada buku “Coretan Guru Desa”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here