KABAR RANTAU: Plus-Minus Pengalaman Sinau di India

Dinda di salah satu spot wisata di India, mere mere meta hua

Nama saya Dinda Lisna Amilia. Panggil saja, Dinda. Sudah sekitar sebulan lebih saya berada di Negeri Shah Rukh Khan. Apa yang saya lakukan? Saya sedang menjalankan perintah Nabi Muhammad, Rek: menuntut ilmu.

Kenapa harus jauh-jauh merantau? Karena beginilah yang dianjurkan panutan saya, Imam Syafi’i (pemimpin mahzab dalam Islam yang berpikiran bening dan berkelakuan santun. Ehm bukan paman saya lho ya, karena kebetulan, paman saya namanya juga itu. Iya, itu).

Dan, saya yang pernah aktif jadi wartawati sebuah surat kabar nasional ini sudah mulai kerasa punya kesibukan di sini. Karena kuliah sudah mulai, ditambah kesibukan-kesibukan lain. Yang bikin happy, saya juga punya kegiatan baru lagi.

Saya jadi pengurus PPI India bidang media dan publikasi (mau bidang apalagi? Haha), dan juga masuk Biro Pers PPI Dunia. Jadi lumayan lah biar kelihatan sibuk kayak di Surabaya dulu.

Ehh, jadi gini, setelah mampir ke beberapa kota di India saya semakin menyadari kelebihan dan kekurangan India dibanding Negara kita. Saya akan merangkumnya dalam bentuk point ya, based on my travel experience. Di samping karena lagi males nulis banyak juga.

Poin Plus

  1. Transportasi yang Murah

Saya dan empat teman saya (empat Indonesia, satu Sudan) berangkat ke Pune pada hari Senin, 1 Agustus dari stasiun kereta api Bangalore. Perjalanan dari Bangalore ke Pune sekitar 18 jam dengan kereta. Mysore dan Bangalore terletak di state Karnakata. Sedangkan tujuan kami, Pune dan Mumbai terlertak di state Maharashtra.

Penampakan salah satu sudut kereta murah meriah
Penampakan salah satu sudut kereta murah meriah

Mungkin pemerintah India menyadari kalau perjalanan antar state di India itu sangatlah jauhnya. Jadi solusinya menawarkan sleeper train kelas general. Jangan bayangkan sleeper train ini kelas eksekutif lho, Rek. Kalau di Indonesia sih kelasnya koyok Logawa atau Sri Tanjung, Cuma bedane ada bangku yang bisa dibuat tidur tok.

Harganya juga murah nemen. Tiket Bangalore-Pune Cuma sekitar Rs 600 atau sekitar Rp 120 ribu padahal jarak tempuhnya sangatlah jauh, estimasti waktu perjalanan ae 18 jam, as I said.

  1. Konten Tempat Wisata yang Lebih Berisi

Aslinya sih, tempat wisata di India gak kalah karo Indonesia. Saya beri contoh dua hal, pertama saat di Pune, kami berkunjung ke Darshan Museum yang bercerita soal salah satu founding father India, yaitu Sadhu Vasvani, salah satu tokoh India di bidang pendidikan.

Sadhu Vasvani itu professor di bidang filsafat, tokoh pergerakan dalam kemerdekaan India, dan juga sangat giat campaign vegetarian.

Dedikasinya untuk India yang membuat identitasnya dimuseumkan. Yang membuat saya dan teman-teman terkesan, pertunjukannya disajikan dalam bentuk diorama berjalan. Jadi, penonton yang berjalan dari satu studio ke studio lainnya untuk melihat perjalanan Sadhu Vasvani ikut membesarkan India. Sangar!

Diorama-nya nggak besar-besar banget kok. Antar studio juga dibagi antara studio 2D dan 3D. Tapi kalau dipikir, sebenarnya ide-nya sangat sederhana. Memunculkan rasa nasionalisme dengan menonjolkan tokoh menjadi salah satu konsep pariwisata mereka.

Saya jadi membayangkan museum semacam ini ada di Blitar, menghadirkan cerita perjuangan Bung Karno. Untuk masuk museum dan menikmati pertunjukan ini, GRATIS. Kami hanya dimintai tolong untuk me-review tempat mereka di TripAdvisor.

Rupanya, itu strategi mereka rupanya untuk menarik wisatawan. Eh, sayangnya kami nggak boleh foto selama pertunjukan berlangsung. Jadi nikmati deskripsi saya saja ya semoga paham, haha.

Contoh kedua, saat di Mumbai, saya dan teman-teman saya ikut one day tour keliling Mumbai. Tour ini punya koneksi dengan backpacker hostel tempat kami menginap. Jadi seharian kami keliling. Termasuk lewat rumah Shah Rukh Kan, Amitab Bachan, Salman Khan (ini bagian penting gak seh diceritakno?) :p.

Yang lebih penting, adalah salah satu destinasi dalam city tour. Namanya Jawaharlal Nehru Center (JNC). Semacam Taman Pintar kalau di Jogja, atau Jatim park kalau di Malang, Jawa Timur.

Lima sekawan yang hobi jalan-jalan. Tapi yang utama, tetap belajar. Yang lebih utama lagi, jalan-jalan sambil belajar. Ojok sampek jalan-jalanmu, ngganggu belajarmu. tapi juga, jangan sampai belajarmu, ngganggu jalan-jalanmu. #halah
Lima sekawan yang hobi jalan-jalan. Tapi yang utama, tetap belajar. Yang lebih utama lagi, jalan-jalan sambil belajar. Ojok sampek jalan-jalanmu, ngganggu belajarmu. tapi juga, jangan sampai belajarmu, ngganggu jalan-jalanmu. #halah

Awalnya nih, saya dan salah satu teman saya, mas Syafi benar-benar yang underestimate. Karena secara fisik, bangunannya jauh lebih bagus Taman Pintar atau Jatim Park. Tapi tunggu sampai masuk ke dalam. Rupanya materi mereka lebih lengkap dan berbobot.

Contohnya, yang paling saya suka adalah area global warming. Jadi dalam satu ruangan berisi aneka maket 3D yang bisa digerakkan yang bercerita dari A-Z soal global warming.

Teman saya dari Sudan, enjoy banget sama semua bagian dari JNC. Karena dia anak sains, S2-nya jurusan Fisika, dia banyak eksplore ke area-area sains. ’’Jabir, we had so many like this man, in Indonesia,’’ kata mas Syafi ke Jabir yang minta foto di sana-sini, hahaha.

Dan untuk masuk kesini sangat murah, mek Rs 50 atau sekitar Rp 10.000, Rek! Yes, murah nemen ya.

  1. Bacaan Berbahasa Inggris

Satu hal yang membuat saya yakin menerima beasiswa ini, yaitu banyaknya media di India yang berbahasa Inggris. Saya tertarik untuk mencari tahu lebih banyak soal itu. Secara bahasa, media disini dibagi jadi dua, yaitu media berbahasa inggris, dan media berbahasa lokal.

Kalau media nasional seperti The Times of India atau Hindu Times, bisa dipastikan berbahasa Inggris. Tapi media lainnya, banyak juga yang berbahasa lokal. Sebab, semua state di India punya bahasa yang berbeda.

Oke, mungkin di India Utara, hampir semua berbahasa Hindi. Namun di India Selatan dan sekitarnya punya bahasa berbeda. Misalnya di state saya tinggal yaitu di Karnataka, bahasanya adalah Kannada (dobel N, jadi bisa dipastikan beda sama bahasa Kanada J).

Saat ke state Maharashtra, bahasanya switch menjadi Marathi, yang benar-benar beda. Bahkan tulisan Sanskrit (seng koyok hanacaraka iku lho) juga beda L. Selain media, sebagian besar buku yang dijual di toko buku bekas atau baru, juga berbahasa inggris.

Alhamdulilah, ini benar-benar kesempatan untuk memenuhi bucket-list bacaan saya. Dan untungnya lagi, buku disini sangat murah.

Buku kuliah, buku novel semuanya murah *terharu*. Terakhir saya beli buku-nya George Orwell yang Animal Farm kondisi baru itu Rs 60 saja (sekitar 12 ribu). Bayangno nang Indonesia, untuk mengakses buku berbahasa inggris dari toko yang terdekat itu harganya juga gak murah. Dan kalau di perpus kampus, jangan ditanya. Alhamdulilah alhamdulilah buku yang saya cari masih tersedia.

Pancen seh, beberapa referensi dalam silabus kuliah belum ada. Tapi it doesn’t matter kalau harga buku murah bisa beli ciiiiint.

  1. Standart untuk Harga

Di sini, kita gak akan menemukan harga sebuah barang yang sama dengan harga timpang di dua tempat. Sebab pemerintah India punya kebijakan yang namanya Maximum Retail Price (MRP).

Ini adalah ketentuan harga jual maksimal untuk suatu produk. Cap MRP ada di semua produk yang dijual di supermarket hingga toko-toko kecil. Jadi kalau belanja di supermarket mana pun, gak usah wedi mereka untunge kakean. #kemaruk

Selalu ada MRP. Benar-benar tertib administrasi. Ehm, bener gak sih istilahe?!
Selalu ada MRP. Benar-benar tertib administrasi. Ehm, bener gak sih istilahe?!
  1. Against Plastic Bag Everywhere

Saya tahu Indonesia juga dalam proses mengurangi penggunaan kantong plastik. Seperti di state tempat saya tinggal di Karnakata, aturan ini baru dimulai sejak awal tahun ini. Tapi di sini tidak hanya di toko-toko besar, toko pinggir jalan yang kecil juga ikutan.

Saya pernah kesal, saat beli pepaya di pinggir jalan, si uncle-nya bilang, ’’Next time bring your bag’’. Seng nggarai mangkel, bliyo ngomong ngono dengan nada-nada tinggi. Maklum masih mental orang Indonesia nih saya. Cenderung meremehkan masalah ginian. Hiks.

Bahkan beberapa kali belanja di supermarket, saya lupa nggak bawa tote bag. Alhasil harus beli tote bag, harganya Rs 20 (sekitar 4000). Uang sakmono gawe tote bag terus ya sayang juga. Akhirnya saya seriusin kemana-mana bawa tote bag.

  1. Makanan Sehat

Di sini buah-buahan sangat melimpah dan murah. Selain itu, banyak sekali makanan asli India yang menyehatkan. Koen ngerti kari ta, Rek? Kari di sini tidak hanya terbuat dari santan lho. Banyak yang salah kaprah mengira semua kari India terbuat dari santan.

Kari yang di sini disebut sambar, bisa kental seperti itu karena campuran susu yang telah difermentasi, namanya curd, semacam yoghurt gitu. As I said juga, India terkenal dengan susu dan yoghurt yang melimpah.

Buah adalah gaya hidup sehat. Di tanah rantau Dinda, banyak buahnya lho...
Buah adalah gaya hidup sehat. Di tanah rantau Dinda, banyak buahnya lho…

Karena itu, banyak sekali makanan yang terbuat dari susu disini. Dan makanan sehari-hari orang Karnakata adalah roti. Roti chapati, parota, dan semacamnya. Semua dibuat dari tepung gandum. Sebagian besar adonan roti disini menggunakan gandum. Karena itu secara penampakan lebih tidak menggoda, hehe.

Tapi kan yang penting manfaatnya.

Saya yang di Indonesia jarang sekali makan olahan gandum, di sini awalnya aneh emang pas harus membiasakan. Tapi pas uda biasa, jadinya gaya, kalau nggak roti gandum, aku gak sido tuku, hahaha. 

Orang hindie hindie menawari Dinda makanan khas kono. Ya, karena ditawari, alhamdulillah, terimakasih acha acha.
Orang hindie hindie menawari Dinda makanan khas kono. Ya, karena ditawari, alhamdulillah, terimakasih acha acha.

Poin Minus

 1. Tempat Wisata yang MAHAL untuk FOREIGNER

Sesampainya di Pune, saya dan teman-teman mencari penginapan, istirahat sebentar, dan lanjut jalan. Tujuan kami ke fort alias benteng peninggalan jaman kolonial. Nama bentengnya Shaniwar Wada.

Di situ saya mulai menyadari satu hal seng nggarai bete kalau jalan-jalan ke India adalah harga tiket untuk foreigner yang jauh lebih mahal daripada untuk turis lokal. Menurut teman-teman di sini, harga yang jauh timpang itu BERLAKU di semua tempat wisata di India. Harga untuk foreigner bisa JAUH LEBIH MAHAL. Mbokkk!

Meskipun punya sejumlah poin minus, makanan di India, memang berpenampilan menarik dan memikat selera.
Meskipun punya sejumlah poin minus, makanan di India, memang berpenampilan menarik dan memikat selera.

Di Shaniwar Wada, turis lokal hanya Rs 15 doang, sedangkan foreigner Rs 200. Tapi jangan khawatir, salah satu teman saya terkenal punya tampang orang lokal. Jadi dia yang maju duluan untuk beli lima tiket untuk kami.

Namun pas melewati penjagaan, teman saya dari Sudan nggak lolos. Akhirnya khusus Jaber dia harus bayar Rs 200. Pancen apes. Tapi gapopo lah, kami masih bisa menghemat beberapa ratus rupee. Horeee.

Itu masih di Shaniwar Wada. Belum di tempat lain yang lebih femes. Contohnya, seperti Taj Mahal. Kata teman saya, harga tiket untuk foreigner di Taj Mahal mencapai Rs 700 (sekitar Rp 130 ribu). Sedangkan untuk lokal, nggak sampai Rs 100 (Rp 20 ribu). Adoh banget bedane.

  1. Terlalu Fungsional

Sebenarnya menempatkan sesuatu pada tempatnya itu bagus. Tapi kalau berlebihan, kesannya kurang baik. Dan di sini, sebagian besar infranstruktur dan SDM-nya kadang terlalu strict. Misalnya, dalam hal transportasi endaraan umum di India (kecuali untuk kelas eksekutif) termasuk kotor kalau dibandingkan Indonesia. Khususnya kereta dan bus. Perawatan secara fisiknya kurang.

Sleeper train dari Bangalore ke Pune yang saya tumpangi tergolong kelas bisnis, tapi penampakannya seperti kelas ekonomi versi Indonesia. Di sini juga masih ada bus tingkat. Koyok di Indonesia jaman dulu, hehe. Saya pernah lihat di Bangalore, Pune, dan Mumbai. Di Mysore nggak ada mungkin karena bukan kota metropolitan.

Salah satu spot tempat yang layak diabadikan dalam perjalanan Dinda dan kawan-kawan.
Salah satu spot yang layak diabadikan dalam perjalanan Dinda dan kawan-kawan.

Bahkan dalam hal pelayanan publik saja, masih ada yang manual. Yaitu dengan mesin ketik. Hehe. Yang penting fungsinya.

Kalau mau ke suatu tempat, yang penting sampai. Nggak peduli kendaraannya seperti apa. Kalau mau makan, ya makan aja, nggak peduli mau duduk atau berdiri.

Di kantin kampus saya, ada tempat yang menyediakan meja dan kursi, dan juga ada yang meja saja. Biasanya, mahasiswa lokal saja sih yang bisa makan sambil berdiri. Tapi inilah hidup mereka.

Kalau menurut saya, ini salah satu efek dari beban populasi yang mereka tanggung. Bukan karena pemerintah India yang pelit. Kalau pelit, mereka tidak akan mengeluarkan ribuan beasiswa untuk negara-negara berkembang setiap tahunnya.

  1. Gap Antara Mahasiswa Lokal dan Foreigner.

Di kampus saya, ada sekitar 4.000 mahasiswa asing. Mulai dari Indonesia, Vietnam, Thailand, Laos, Maldives, Afghanistan, Iran, Tajikistan, Yaman, Mesir, Bangladesh, Guyana, dan Afrika (hampir semua Afrika. Mulai dari Ethiopia, Tanzania, Sudan, South Sudan, Kenya, Rwanda, sampai yang jarang kedengaran seperti Eritrea dan Komoro Island).

Sayangnya, sebagian besar mahasiswa asing di kampus mengelompok sendiri. Tidak berbaur dengan mahasiswa lokal. Istilahe, kurang guyub. Salah satu alasannya adalah karena bahasa.

Tidak semua mahasiswa lokal memang lancar berbahasa inggris. Namun menurut saya, itu juga karena mahasiswa asing terkesan eksklusif. Di samping itu, menurut mahasiswa lokal, gaya hidup mahasiswa asing berlebihan, suka party, dan blablabla (tidak semua mahasiswa asing juga seperti itu, contohnya saya yang anak rumahan ini, hehe).

Itulah kiranya yang membuat hubungan mahasiswa asing dan lokal kurang baik. Sejujurnya, saya tidak ingin seperti itu. Karena itu, saya berusaha tetap menjaga hubungan baik dengan teman-teman lokal di kelas saya.

Sejauh ini, mereka baik kok. Tetap memberi informasi, mengajak ngobrol, dan bercanda. Walau kalau mereka sesama orang lokal sudah kumpul, saya lebih milih pergi saja. Karena kalau sudah begitu, mereka pasti langsung switch ke bahasa mereka.

Daripada saya kayak alien, mending saya bilang saja ada urusan lain. Tapi sebenarnya itu normal kan? Coba kalau ada satu orang asing diantara empat orang Indonesia, kita pasti milih ngobrol dengan bahasa ibu kita, hehe.

Sudah ya, sejauh ini saya hanya bisa menemukan 3 poin minus. Sekali lagi, saya hanya ingin share pengalaman selama di sini. Pengalaman yang seperti ini, tidak akan saya dapat kalau Negara yang saya tumpangi adalah Negara maju seperti Amerika atau Inggris.

Jadi silakan kalau masih ada yang under-estimate dan semacamnya. Karena belajar itu fitrah manusia. Definisi belajar bukan hanya jurusannya.

Tapi pengalaman lainnya itu yang membuat saya bisa lebih menghargai lingkungan, orang-orang dengan identitasnya masing-masing, dan hidup saya sendiri. Ngono lho, Rek! Yak opo, onok seng pengen nyusul aku ta nang India?

Ciao!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here