Jelang Dies Natalis Unair Ke-62, Rektor: Saatnya Jadi Truly University

unair
Rektor Unair Prof. Dr. Moh. Nasih MT., CMA., Ak. Foto: Jawa Pos

Salah satu universitas terbaik di Indonesia, Universitas Airlangga (Unair), dalam beberapa pekan ke depan akan berulang tahun ke-62. Tepatnya pada 10 November mendatang.

Salah satu target Unair adalah menembus 500 besar kampus terbaik dunia. Bagaimana caranya? Apa yang masih kurang dari kampus tersebut? Kru SUROBOYO.id berkesempatan ngobrol dengan Rektor Unair Prof. Dr. Moh. Nasih MT., CMA., Ak. pada 6 Oktober lalu. Berikut ini petikan wawancaranya.

Apa yang kira-kira akan menjadi fokus pembenahan kampus ke depan, Pak?

Salah satu yang utama adalah alumni. Alumni perguruan tinggi punya peran strategis. Rasanya pincang kalau kemudian salah satu bagian dari keluarga besar universitas ini ada satu yang tidak terlibat atau berkontribusi secara langsung.

Padahal, untuk mengukur perguruan tinggi sangat gampang. Lihat saja alumninya. Jangan melihat mahasiswanya sekarang. Mereka mau demo mau apa nggak ada efeknya. Yang penting adalah melihat output-nya.

Alumninya kayak apa? Nah, baik buruknya perguruan tinggi sebenarnya ditentukan alumni.

Selain itu, apa yang membuat alumni berperan penting?

Jaringan. Kita itu terlalu sering malu atau sungkan mengaku alumni Unair. Padahal itu penting untuk membangun jaringan. Lihat saja UGM (Universitas Gadjah Mada), ITB (Institut Teknologi Bandung), dan UI (Universitas Indonesia). Alumni mereka memiliki jaringan kuat dan saling bantu. Dan mereka sangat solid.

Kalau alumni tidak memiliki kesadaran seperti mereka, kita ya akan cuma jadi penonton saja. Nggak kebagian apa-apa.

Lantas, apa upaya bapak untuk menggandeng alumni tersebut?

Pertama, kami akan membangun kesadaran dan kebanggaan sebagai alumni Unair. Salah satu caranya dengan membuat buku tentang 100 alumni Unair berprestasi. Kalau kita lihat, alumni kita itu memegang peran penting di negara ini.

Dulu, peran itu banyak diambil oleh Fakultas Kedokteran (FK). Tapi, Unair tidak hanya FK. Sekarang ada Fakultas Hukum (FH), FISIP, dan fakultas lain yang juga menonjol.

Nah, buku tersebut akan kita bagikan saat Dies Natalis. Dengan masuknya nama-nama besar di sana, alumni kita lainnya akan bangga. Selain itu, orang-orang tersebut kini diharapkan lebih ekspresif lagi dengan almamaternya. Wong sudah dibuatkan buku kok. Tidak bisa mengelak lagi bahwa mereka adalah alumni Unair.

Apakah begitu parah kesadaran alumni terhadap almamaternya?

Kita sering menjumpai, alumni itu dengan bangga mengaku sebagai lulusan Unair saat berada di acara kampusnya sendiri. Begitu keluar, mereka tidak terlalu aktif. Padahal itu sangat penting.

Kesannya kita jadi kalah bangga sama kampus lain. Bahkan, ada guyonan kalau kampus negeri di Surabaya itu ya Ubaya (Universitas Surabaya) bukan Unair.

Membenahi alumni adalah membenahi sektor eksternal kampus. Bagaimana dengan sisi internal?

Kami terus mendorong perbaikan kualitas. Kita harus menjadi the truly university alias universitas sebenar-benarnya. Unair tidak bisa hanya sekadar berorientasi agar lulusannya cepat diterima kerja. Sebab, itu akan membuat Unair tak lebih sebagai balai latihan kerja.

Begitu juga sebaliknya. Kita tak bisa hanya sekadar terfokus pada penelitian. Sebab, kita bukan LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia). Unair harus mengintegrasikan itu semua.

Kita harus memiliki kemampuan riset yang bagus, tingkat serapan lulusan yang tinggi, tapi pada saat yang sama juga sebagai agen pembelajaran dan inovator yang luar biasa. Kampus yang sebenarnya harus bisa mengintegrasikan elemen-elemen tersebut.

Kalau itu yang terjadi, kita akan jadi the truly university. Masak Malaysia saja yang the truly Asia?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here