Imej Muslimah Indonesia bagi Seorang Kristen Afrika dan Kemungkinan Penyebabnya

Sumber: Tribun

Dilihat dari judulnya, mungkin tulisan ini terdengar sangat subjektif dan tidak bisa digeneralisasi. Atau bisa juga dibenarkan dengan teori mikro makro yang dipopulerkan oleh Leo Marx, dimana imej yang dimaksudkan merupakan refleksi dari keadaan Indonesia pada periode waktu tertentu.

Di sisi lain, Bu Dewi, salah satu dosen Sosiologi yang telah tinggal dan mengajar lebih dari sepuluh tahun di Amerika Serikat, juga sering mengutarakan kebanggaannya terhadap perempuan muslim di Indonesia, “Dengan memakai rok panjang pun kita masih bisa mengayuh sepeda, dengan leluasa, (tanpa ada larangan)”. Hal ini dimaksudkan karena di negara tertentu, Islam dijadikan justifikasi untuk membatasi aktifitas-aktifitas perempuan, terutama di ranah publik. Kurang lebih mungkin bisa diilustrasikan dengan video protes perempuan Arab yang viral beberapa waktu lalu (bisa dilihat di (http://www.bbc.com/news/world-middle-east-38520492).

Dengan kata lain, perempuan muslim Indonesia memberikan kontribusi tersendiri dalam membangun imej Islam yang dengan kontekstualisasinya telah memberikan banyak priviledges bagi kaum hawa.

Singkat cerita, seorang mahasiswa Internasional yang berasal dari Burundi, salah satu negara di Afrika Tengah, berseloroh kepada saya tentang kekagumannya terhadap perempuan muslim Indonesia. Sebagai seorang Kristen yang taat, dia berpendapat bahwa perempuan muslim Indonesia cukup serius dalam menerapkan ajaran agama dan nilai-nilai moral yang universal.

Jika ditanya lebih lanjut kenapa demikian, hal sederhana yang dijadikan underlying argumennya adalah pakaian yang dikenakan oleh perempuan muslim Indonesia. Di lingkungan akademik tempat tinggal pria beranak satu ini, para perempuan muslim menggunakan pakaian yang dinilai sopan, tertutup dan terhormat. Pakaian tersebut juga dinilai cukup selaras dengan attitude mereka. Sebagai seorang yang cukup patriakal, dia beranggapan bahwa penampilan tersebut sangat ideal karena merepresentasikan perpanjangan sifat feminin yang dikodratkan bagi kaum hawa tanpa harus melebihi porsinya.

Alasan kekaguman kedua adalah kesadaran perempuan muslim Indonesia akan pentingnya pendidikan tinggi. Secara tidak langsung, pembahasan selanjutnya mau tidak mau menjadi sebuah perbandingan, tetapi tidak sampai menggunakan Comparative French School yang berakhir pada kesimpulan mana yang lebih powerful di antara ke dua entitas tersebut karena dalam konteks ini sesuatu hal yang terjadi atau yang telah berlangsung lama di tempat tertentu pastilah mempunyai maksud tertentu.

Pria jakung ini cukup heran dengan jumlah mahasiswa perempuan muslim yang ada di beberapa universitas di Indonesia. Menurut dia, komunitas muslim di Burundi cenderung tidak tertarik dengan pendidikan tinggi. Beberapa stereotype muslim di negara tersebut adalah pedagang kelas menengah, perempuan berniqab, poligami yang berdampak KDRT, dan bigamy.

Saya pribadi cukup tercengang dengan istilah yang terakhir karena patriarkal masih kental di budaya masyarakat tersebut. Bahkan seperti yang dituliskan oleh Ndikumana di laman AllAfrika, menyebutkan bahwa seorang perempuan muslim yang sedang hamil akan bermasalah dengan suaminya jika dia dilayani oleh dokter laki-laki meskipun jumlah dokter kandungan perempuan di negara tersebut sangat terbatas (http://allafrica.com/stories/201209110775.html).

Jumlah muslim yang terdaftar di perguruan tinggi Burundi sangat terbatas, karena mereka, terutama laki-laki,  terbiasa belajar berdagang di usia muda. Kesuksesan materi yang diperoleh ini menjadi bekal bagi laki-laki muslim untuk menikah di usia muda. Di sisi lain, beberapa perempuan, dengan bekal pendidikan dan latar belakang ekonomi tertentu, cenderung rela untuk dijadikan istri ke-sekian oleh pria muslim mapan secara ekonomi, dengan konsekuensi tidak mendapatkan jaminan atas hak-haknya sebagai istri karena jaminan tersebut hanya diperuntukkan untuk istri pertama yang dianggap sah di mata hukum negara Burundi.

Menurut saya, di Indonesia sendiri, perempuan muslim tengah asyik disuguhin hijab fashion untuk menunjang aktifitas mereka.  Alternatif fashion ini cukup populer di tengah-tengah gencarnya konsep seksi yang identik dengan pakaian minim dan terbuka yang diendorse oleh artis dari dalam maupun luar negri. Dengan varian dan harga yang bersaing, perempuan muslim Indonesia bisa dengan mudah mengakses berbagai macam pakaian seperti kerudung, gamis, outer, celana, rok, kaos kaki, sepatu, sendal dll untuk memenuhi kebutuhan primer pertama mereka (sandang, pangan, papan) sesuai dengan pemahaman ajaran Islam dan norma sosial masyarakat.

Selain itu, media sosial juga memberikan kemudahan para muslim untuk berdakwah dan saling mengingatkan satu sama lain, meskipun karena saking gampangnya repost, hoax pun dengan mudah menyebar. Posting foto yang dianggap teladan, mungkin karena pakaian yang dikenakan dianggap santun dan pas dengan quote dari hadist atau ayat Al-Qur’an yang dituliskan pun bisa dimasukkan dalam kategori berdakwah karena dinilai menyebar kebaikan dan akan menuai popularitasnya sendiri dengan ditandai oleh banyaknya like dan komen positif. Foto atau update status yang kurang selaras dengan nilai-nilai norma yang dijunjung tinggi oleh masyarakat Indonesia juga akan mudah menuai kontroversi yang ditandai oleh komen kontra dan report spam.

Poin yang terakhir adalah, karena pengetahuan yang mudah diakses di Indonesia, bahkan tidak ada aturan tertentu yang mengatur tentang patokan ilmu dan jenis kelamin. Masyarakat Indonesia yang mayoritas muslim, dewasa ini telah memahami bahwa pengetahuan tidak selalu didapatkan di bangku sekolah maupun bangku kuliah. Sederhananya, dengan berteman dengan orang-orang berwawasan luas, seperti ustadz atau professor misalnya, yang selanjutnya disebut intellektual, meski di dunia maya pun, seseorang akan mendapatkan manfaat pengetahuan.

Saat dunia maya maupun di dunia nyata sedang dihebohkan dengan isu-isu krusial seperti emansipasi perempuan, haram halalnya kontrasepsi, dan kewajiban muslimah, hukum selfie dalam Islam misalnya, beberapa intelektual dari berbagai sudut pandang dan latar belakang merasa mempunyai kewajiban untuk meluruskan pemahaman topik-topik tersebut dengan pendekatan ilmiah. Dialektik ini kemudian menjadi referensi dan pemahaman tersendiri bagi para pembaca, dalam hal ini perempuan muslim Indonesia, sebagai bekal untuk melangsungkan kehidupan yang lebih baik.

 

Baca Juga

Asyiknya Sekolah di S2 Pengkajian Amerika di UGM

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here