Iklan Susu Formula yang (Seharusnya) Menampar Kita

“Sandalku mana?,” tanya seorang bocah laki-laki (bukan) kepada dirinya sendiri. “Trus aku pulangnya gimana?,” lanjutnya.

Pertanyaan sekaligus kebingungan bocah itu ditangkap bocah laki-laki lainnya. Setelah berbisik kepada ayahnya, dia lalu menghampiri bocah yang kehilangan sandalnya.

“Ini pakai sandalku saja,” kata bocah yang sebelumnya berbisik pada ayahnya itu.

“Trus kamu pulangnya gimana?,” tanya bocah yang kehilangan sandal.

“Aku pulangnya tebang (baca : terbang),” jawabnya.

Berada dalam gendongan (punggung) ayahnya bocah itu merentangkan kedua tangannya seolah-olah terbang seperti burung seusai memberikan sandalnya.

Mulanya kita pasti tertawa melihat adegan di depan masjid selepas shalat itu (saya menduganya selepas turun dari shalat taraweh). Atau minimal tersenyum. Sebab, dialog dan gestur dua bocah itu layaknya anak-anak pada umumnya : lucu dan menggemaskan.

Dua sampai tiga kali menontonnya kita pasti akan tetap tertawa. Dan saya pun tetap tertawa saat (kebetulan) menontonnya lagi.

Tapi, saat sudah menontonnya lebih dari dua kali, (seharusnya) kita tertampar dengan adegan iklan susu formula itu.

Awalnya tentu kita seperti diingatkan tentang arti kebaikkan. Tentang arti berbagi. Juga tolong-menolong. Nilai yang sepertinya saat ini mulai banyak yang meninggalkannya. Lebih-lebih kita yang merasa sudah dewasa ini.

Kita yang sok dewasa ini malah seringkali dengan entengnya melempar caci maki. Menyebarkan dan menyuburkan kebencian. Memusuhi yang berbeda.

Dan, kita yang merasa dewasa ini seringkali abai dengan sekeliling kita.

Karenanya (seharusnya) kita malu sekaligua tertampar dengan dua bocah (di iklan susu formula) itu. Terlebih lagi kita yang merasa Islam. Mendaku muslim. Sebab, apa yang dialami bocah (di iklan itu) lazim terjadi di masjid dan musola.

Paling umum saat shalat jumat dan shalat id. Entah shalat idul fitri maupun idul adha. Atau ketika shalat taraweh yang jamaahnya banyak.

Anda boleh menyangkal. Boleh membantah. Tapi, sudah buanyak cerita jamaah yang turun dari shalat kehilangan sandalnya.

Dan sampai saat ini, saya masih saja kesulitan menemukan jawaban tepat kenapa kejadian itu (kehilangan sandal) bisa dan bahkan sering terjadi di masjid. Sebab, sulit sekali melogikannya. Sulit sekali menalarnya.

Betapa tidak? Sebab, di tempat yang suci, di rumah Tuhan, orang berani-beraninya mencuri. Bagaimana tidak? Lha wong shalat itu lho mencegah perbuatan keji dan mungkar.

Dan bukankah mencuri di masjid sekaligus sehabis shalat masuk dalam penjelasan itu.

Konyolnya lagi, kita yang sok merasa dewasa ini juga seringkali khawatir kehilangan sandal di rumah Tuhan. Karena kekhawatiran itu sampai ada tempat penitipan sandal di teras masjid.

Bahkan, saking khawatirnya beberapa diantara kita yang merasa dewasa ini sampai membungkus sandalnya dengan plastik atau koran dan meletakkannya di samping atau bawah sajadah.

Atau mungkin Anda bisa membantu menjawabnya.

Sebab, selama ini saya baru menemukan jawaban guyonannya. Guyonan ini adalah lelucon yang hidup secara turun-menurun di kampung halaman saya.

Soal kehilangan sandal di masjid ini, di kampung saya ada guyonan kalau semua itu salah yang khotbah. Sebab, dalam khotbahnya para khotib sering menyeruhkan kepada jamaah agar mengambil yang baik-baik dan meninggalkan yang buruk-buruk.

Jadilah, saat pulang dari masjid, mereka yang tadinya berangkat dengan sandal juelek, akan meninggalkan sandalnya itu dan memilih pulang dengan sandal yang bagus.

Atau setidaknya lebih bagus dari sandalnya sebelumnya.

Oya, sebelum menutup tulisan ini, saya menyakini dan sangat yakin yang mengambil sandal bocah di iklan itu adalah orang dewasa.

BACA JUGA:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here