Ngaso #17: Hikmah Menikah

Dugaan Cak Ri CS bahwa saat kembali dari naik haji Wak Kopleh akan makin kementhus dan suka ceramah terbukti. Betapa tidak, pas disambangi sehari setelah dia pulang, Wak Kopleh langsung nyerocos dan ndalil. Kali ini, dia mengangkat topik: Hikmah Menikah.

Sejatinya Cak Ri dan kawan-kawan sekadar ingin minta masing-masing dua butir kurma dan dua teguk air zam-zam. Sebagai syarat belaka, bahwa kawan mereka baru pulang dari tanah suci. Lhah dalah, mereka dapat tambahan berupa kultum: kuliah dua puluh tujuh menit. Alamak, kalah jum’atan!

“Ada riwayat kitab yang bilang kalau menikah itu menyelamatkan sebagian agama. Lima puluh persen agamamu! Tapi tolong, jangan tafsirkan itu secara tekstual. Karena jatuhnya nanti tidak adil. Berarti, Tuhan cuma melebihkan orang yang tidak jomblo. Padahal, ada banyak orang bujang atau perawan yang keburu mampus sebelum dapat pasangan,” ungkapan ini jelas mulai membuat perasaan teman-temannya tidak enak. Terlebih, Saragun, yang jelas-jelas punya agama yang beda dengan Wak Kopleh.

“Pahamilah itu secara esensial. Esensinya , kalau kita habis menikah, kita akan tahu bagaimana rasanya mengalah pada istri untuk kemaslahatan yang lebih baik. Agama kita selamat kalau kita mengalah. Kalau tidak mengalah, agama kita tidak jadi selamat,” terus dia.

Melalui menikah pula, ujar lelaki yang ke Mekkah atas biaya sponsor tersebut, manusia akan diberi kesempatan untuk lebih berbakti pada orang tua. Baik kandung, maupun mertua. Di sanalah ujian tentang kasih sayang manusia pada orang tua diuji. Dia lebih memilih pasangannya, atau orang tuanya.

Dengan menikah, manusia juga bakal lebih bijak saat belanja. Tidak kalang kabut seperti pas bujang atau perawan. Kalau masih berantakan pula sistem belanjanya, berarti agamanya tidak jadi selamat.

“Simpelnya, menikah itu adalah sebuah mekanisme yang mempermudah kita untuk menyelamatkan agama. Tanpa menikah, agama kita juga bisa selamat. Tapi ya bukan berarti kita tidak perlu menikah. Karena bagaimana pun juga, pernikahan itu dianjurkan. Njomblo itu bid’ah!” tegas dia.

Mendengar kata yang terakhir itu, Cak Gonggong kontan bereaksi. “Jangan asal bilang bid’ah, Wak!” seru dia sambil makan kismis suguhan Haji Kopleh. “Ya, intinya kan Kanjeng Nabi nggak njomblo. Berarti, jomblo itu tidak diajarkan di masa itu alias tergolong bid’ah,” sergah Wak Kopleh sambil tersenyum.

“Gak usah pakai istilah itu, Wak. Sekarang ini isu bid’ah-bid’ah lagi ramai kembali. Siapa yang membuat ramai? Para manusia terlambat lahir. Saya pas lagi muda, akhir 80-an dan awal 90-an, sudah akrab dengan istilah ini.

Pas era reformasi, lenyap. Sekarang, timbul lagi. Gara-gara orang-orang yang terlambat belajar agama itu. Dikarenakan orang-orang tadi kesusu ndalil. Nggampangno perkoro!” Mas Jo yang memutuskan untuk meninggalkan warkopnya sebentar guna silaturahmi ke Wak Kopleh urun ngomong.

“Nah, ngomong-ngomong soal kesusu ndalil, mungkin ada baiknya Wak Kopleh jangan banyak khutbah dulu. Jangan mentang-mentang baru datang dari tanah Tuhan, merasa paling benar dan gampang berfatwa,” Saragun memberi saran.

“Sebenarnya saya nggak ceramah. Ini ngobrol biasa saja, kayak yang lazimnya kita lakukan di warkop Mas Jo. Mungkin kalian saja yang kesusu nganggap saya suka ndalil,” kata Wak Kopleh lalu tertawa ngakak. Kawan-kawannya saling pandang. Tidak tahu maksud lelakunya itu. (*)

BACA JUGA:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here