Betapa Pengennya Duwe Ingon-ingonan

Ngeliat Poe, teman saya, yang nambah anjing peliharaan, membuncahkan iri. Saya juga pengen punya peliharaan 🙁

Dulu, sewaktu SD, saya pernah punya kucing, namanya Pussy. Dia kucing stray yang saya temukan bersama kakak saya di suatu minggu pagi saat kami jalan-jalan lintas kampung.

Ini hewan peliharaan pertama keluarga kami. Proses menjadikannya peliharaan pun sangat berat karena Ibu tidak terlalu suka kucing. Setelah melibatkan rajukan, rengekan, dan air mata, hati ibu luluh juga dan membolehkan Pussy tinggal di dalam rumah.

Sayang, riwayat Pussy sebagai kesayangan kami, tidak lama. Dia yang selalu kami bawa ke mana-mana saat pergi ke luar kota, hilang saat kami singgah di Jombang. Sungguh, saya menangisinya hingga berbulan-bulan.

Setelah Pussy, sempat ada beberapa kucing stray yang datang dan pergi. Tapi, kami tidak menganggapnya serius.

Hingga, Bapak membawa pulang seekor burung beo. Kami tidak memberinya nama. Panggilannya, si Beo saja. Dia Beo yang tidak cukup membeo. Karena kata yang mampu ia ucapkan hanyalah “assalammualaikum” dan “nyilih kumpo” (pinjam pompa).

Bapak memang punya pompa angin untuk sepeda. Dan, biasanya, pagi-pagi selalu ada saja tetangga yang meminjam.

“Assalammualaikum, pak, nyilih kumpo,nggih.” Begitu ucapan yang biasanya terdengar. Nah, si Beo rupanya hanya mampu meniru “assalammualaikum” dan “nyilih kumpo” saja. Hahahaha..

Ah, seandainya Bapak tidak lupa menggantungkan kurungan si Beo ke dalam rumah, mungkin ia tetap berkicau hingga saya lulus kuliah. Ia, Beo yang tidak membeo itu, dicuri orang.

Lagi-lagi saya sedih. Sebab, biasanya setiap pagi saya niruin kicauan si Beo dengan siulan saya.

Setelah Beo, Bapak rupanya masih ingin ingon-ingon kukila (burung). Maka, di suatu pagi, saya kaget saat tiba-tiba Bapak asik menyuapi seekor burung hantu berwajah garang dengan keratan daging.

“Dikasih teman,” kata Bapak.

Setelah saya hitung-hitung, rentang waktu si burung hantu menjadi keluarga kami tak sampai setahun. Bapak sengaja melepaskan dia pergi. “Nggak kuat kasih makannya. Daging mahal.”

Kukila lama-lama menjadi obsesi Bapak. Gagal mengasuh burung hantu, beliau beralih ke burung dara. Ini peliharaan kami yang cukup serius. Sebab, Bapak sampai membangun kandang khusus di lantai dua rumah kami.

Selama bertahun-tahun rumah kami riuh rendah dengan suara dekukur.

Saat pindah ke Jakarta, sejujurnya saya merindukan keriuhan suara burung-burung dekukur peliharaan Bapak. Lebih tepatnya, saya rindu punya binatang peliharaan.

Saya rindu suara gaduh mereka. Saya rindu drama kejar-kejaran memandikan mereka. Memberi makan. Membelai. Bercengkrama. 🙁

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here