Kasus Guru Samhudi: Orang Tua dan Sekolah Belum Satu Persepsi Soal Pendidikan

Guru SD Raden Rahmat, Balong Bendo, Sidoarjo, Samhudi usai sidang. Dia mendapat dukungan dari ratusan guru. Foto: Facebook.

SIDOARJO – Guru Samhudi menjadi guru kesekian yang diperkarakan orang tuanya gara-gara memberi hukuman buat muridnya. Guru olahraga SD Raden Rahmat, Balong Bendo, tersebut dilaporkan ke Polres Sidoarjo dengan tuduhan penganiayaan kepada muridnya.

Pada 28 Juni lalu, Samhudi menjalani sidang kasus tersebut di Pengadilan Negeri Sidoarjo. Itu merupakan sidang ketujuh. Namun, sidang ditunda karena jaksa penuntut umum (JPU) belum siap membacakan tuntutannya. Dalam sidang tersebut, ratusan guru ikut mendukung Samhudi.

Kasus itu bermula pada 8 Februari lalu. Saat itu, murid-murid di SD Raden Rahmat sedang menjalankan ibadah rutin Salat Dhuha. Alif, sebuat saja demikian, tidak mengikuti rekan-rekannya. Menurut Samhudi, seperti dikutip dari Jawa Pos, Alif justru duduk-duduk di pinggir sungai.

Samhudi lantas memintanya untuk bergabung bersama rekan-rekannya. Dia menepuk pundaknya. Tapi, kepada orang tuanya Alif mengatakan bahwa dirinya dicubit. Tak terima, orang tua Alif yang berprofesi sebagai tentara melaporkannya ke kepolisian dengan tuduhan penganiayaan.

Sejumlah mediasi sempat dilakukan. Namun, gagal. Sebab, tuntutan pihak keluarga Alif cukup berat. Mereka meminta agar Samhudi dinonaktifkan dari sekolah tempat dia bekerja.

Direktur Program Pendidikan Profesi Guru (PPPG) Universitas Neger Surabaya (Unesa) Prof. Dr. Ismet Basuki, M.Pd mengatakan bahwa kasus tersebut sejatinya bisa dihindari. “Jika orang tua, sekolah, dan guru satu persepsi soal apa itu pendidikan,” katanya kepada SUROBOYO.id, 30 Juni.

Di sekolah, siswa menjalani pendidikan. Guru mendidik mereka. Mulai dari segi spiritual, sosial, hingga perilaku.

Orang tua, kata dia, harus sadar bahwa tindakan guru kepada siswa adalah dalam rangka mendidik mereka. Sama sekali tidak ada maksud untuk mencelakakan anak-anaknya. “Guru hanya ingin agar siswanya disiplin,” katanya.

Namun, Ismet juga meminta guru untuk tidak berlebihan. Ismet yang juga Direktur Pasca Sarjana Unesa tersebut tidak sepakat dengan tindakan fisik dalam rangka menghukum siswa. Bahkan sekadar berupa mencubit. “Hukuman harus tetap bersifat edukasi,” katanya.

Para orang tua, kata Ismet, juga tidak boleh reaktif. Jika ada insiden terhadap buah hati mereka, orang tua harus konfirmasi ke sekolah. Jika orang tua terus menerus menekan guru, para pahlawan tanpa tanda jasa tersebut bisa bersikap apatis dan akhirnya enggan mendidik anaknya.

“Nanti jadi muncul anggapan. Wes jarno ae. Anake tentara engkok onok opo-opo,” katanya. “Tentu kita tidak ingin begitu. Guru juga berusaha tidak berlebihan, orang tua juga harus berkomunikasi ke sekolah,” katanya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here