Gerus Stigma dan Putus Rantai Penularan Lewat HOPE ODHA

Para petugas dan kader Puskesmas Dupak berfoto bareng Menteri Kesehatan pada 2013 silam

Berita Surabaya – HOPE (Humanity lOve People powEr) ODHA adalah layanan komprehensif berkesinambungan yang meliputi upaya promotif, preventif, kuratif, rehabilitatif terhadap persoalan Infeksi Menular Seksual (IMS) dan HIV di lingkup kerja Puskesmas Dupak. Dari namanya, tampak kalau program ini lebih fokus buat penanganan ODHA (orang dengan HIV/AIDS). Meski demikian, secara umum, kegiatan ini diharapkan menyentuh semua kalangan dan memberikan manfaat seluas-luasnya.

Orang yang belum terlalu kenal Surabaya mungkin bertanya, apa hubungan ODHA dengan Puskesmas Dupak? Seberapa penting persoalan ODHA bagi puskesmas tersebut? Berikut latar belakang atau penjelasannya.

Puskesmas Dupak berlokasi di Kelurahan Dupak, Surabaya Bagian Utara, Jawa timur. Luas wilayah kerjanya sekitar 1,45 km². Terdiri dari 5 Rukun Warga (RW) dan 75 Rukun Tetangga (RT). Di kawasan ini, awalnya, terdapat lokalisasi dengan ± 650 wanita penjaja sex (WPS). Kemudian di akhir tahun 2012, semua wanita penjaja sex (WPS) yang ada di lokalisasi, dipulangkan ke daerah masing-masing oleh pemerintah setempat. Selain terdapat lokalisasi, wilayah kerja Puskesmas Dupak merupakan daerah padat penduduk. Jumlah penduduk musiman di sana tinggi. Karakteristik perilaku kesehatan masyarakat pun beragam.

Adapun permasalahan utama yang mendasari tercetusnya gagasan HOPE ODHA adalah penemuan fakta-fakta sosial yang cukup memprihatinkan. Antara lain, ditemukannya wanita penjaja sex (WPS) dengan HIV positif (10 persen dari jumlah WPS yang mengikuti screening kesehatan), penggunaan kondom yang belum 100 persen di kalangan kelompok perilaku risiko tinggi, serta bukti bahwa kelompok perilaku risiko tinggi ternyata berhubungan langsung dengan penggunaan napza dan alkohol.

Selain itu, ditemukan para pengidap HIV positif dengan latar beragam. Yakni, empat orang ibu hamil yang bukan berasal dari kelompok risiko tinggi, sepuluh orang Ibu rumah tangga, dan tiga anak balita gizi buruk. Sedangkan angka kematian karena HIV tercatat satu orang Ibu dan seorang balita.

Kondisi menjadi lebih buruk karena di Kelurahan Dupak, belum ada fasilitas layanan kesehatan dan pengobatan HIV/AIDS. Sehingga, ODHA merasa kesulitan untuk mendapatkan penanganan yang tepat. Bahkan, banyak yang mengalami kesalahan diagnosa. Rendahnya pemahaman sebagian masyarakat terkait resiko penularan penyakit Infeksi Menular Seksual (IMS) dan HIV/AIDS pun terjadi sebagai akibat tingkat pendidikan yang minim. Situasi diperparah dengan tingginya stigma terhadap ODHA. Imbasnya, ODHA enggan untuk membuka status dan memeriksakan kondisinya.

Layanan ini digagas oleh Kepala Puskesmas Dupak dr. Nurul Lailah, M.Kes, beserta tokoh masyarakat dan elemen warga setempat. Ada banyak tahapan atau aktifitas simultan yang dikerjakan. Tahap yang dimaksud antara lain, memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang pencegahan dan pengendalian HIV/AIDS. Juga, memberikan edukasi tentang bahaya narkoba dan HIV ke anak usia sekolah melalui gerakan Aku Bangga Aku Tau HIV/AIDS (ABAT). Termasuk, memotivasi dan menyarankan Ibu hamil untuk melakukan pemeriksaan Infeksi Menular Seksual (IMS) dan HIV. Ibu yang memiliki balita dengan gizi buruk juga diajak untuk melakukan pemeriksaan HIV terhadap anaknya.

Program ini juga dilengkapi dengan pemberian konseling pada ODHA dan keluarga, pengobatan profilaksis cotrimoxazole dan pengobatan infeksi tumpangan ringan, serta layanan pengobatan Anti Retro Viral (ARV). Bersama masyarakat, pihak puskesmas juga memberikan layanan paliatif kepada ODHA stadium lanjut, dukungan psikososial secara intensif, dan pemahaman cara pencegahan penularan HIV ke masyarakat. Termasuk, pemberian pemahaman kepada masyarakat untuk dapat menerima keberadaan ODHA serta melakukan kerjasama dengan tokoh agama (modin perempuan) untuk pemulasaraan jenazah ODHA.

Mudah Diakses

HOPE ODHA bertujuan untuk memberikan layanan kesehatan yang mudah diakses dan pendampingan, terutama pada ODHA perempuan. Selain itu, kegiatan ini juga bertujuan untuk menurunkan jumlah kasus baru HIV, menurunkan angka kematian akibat HIV, meningkatkan kualitas hidup ODHA serta menghilangkan diskriminasi.

Upaya yang dilakukan antara lain, mendekatkan pelayanan pengobatan Anti Retro Viral (ARV). Puskesmas Dupak tercatat sebagai tempat layanan kesehatan yang mampu dan berinisiatif mengajukan diri sebagai satellite ARV. Di sini, terdapat layanan konseling ODHA dan pasangan/keluarga inti. Tak ketinggalan, melakukan pemberdayaan perempuan ODHA tanpa ditinggalkan oleh pasangan dan keluarga. Dengan demikian, mereka akan merasa lebih percaya diri secara psikologis. Manfaatnya, memandirikan ODHA secara sosial dan ekonomi.

Pada bagian lain, melalui HOPE ODHA, komunikasi dan support antara sesama ODHA (peer education) dilakukan melalui pertemuan rutin beserta keluarga masing-masing. Sekaligus, memberdayakan perempuan di masyarakat untuk berperan menjadi kader terlatih, untuk membantu ODHA mengakses layanan. Cara ini sukses menjadikan perempuan di Dupak lebih peduli dan memiliki empati. Sehingga pada suatu titik, mereka menjadi kader yang mensosialisaikan program ini pada masyarakat umum. Termasuk, memberi gambaran pada warga setempat agar tidak serta-merta memberi stempel negatif pada penderita.   Pendekatan ini telah mampu menangani persoalan ODHA serta mampu mencegah penularan secara signifikan. Tak terkecuali, kepada bayi dan anak-anak.

Puskesmas Dupak mengoptimalkan segala potensi yang ada. Baik di internal, maupun eksternal. Artinya, terdapat koordinasi dan sinergi dengan segala pihak. Dalam pelaksanaannya, inisiatif ini berkiblat pada langkah-langkah humanis. ODHA diperlakukan secara manusiawi. Tidak membedakan latar belakang bagaimana pasien tertular HIV serta tidak ada unsur pembedaan suku, agama, ras, antar golongan (SARA).

Para petugas diwajibkan bertutur kata dengan santun, memberikan pemahaman kepada ODHA bahwa HIV bukanlah penyakit kotor/kutukan dan meyakinkan mereka bahwa status HIV bukanlah akhir dari segalanya. Rasa cinta kasih juga menjadi sesuatu yang dikedepankan. Empati ini mesti diberikan oleh semua pihak (keluarga, tenaga kesehatan dan masyarakat).

Pada prinsipnya, people power adalah kunci dari program ini. Bentuknya bisa berupa koordinasi dan penguatan kekompakan tim, dari ODHA, keluarganya, serta masyarakat, dalam aspek inisiatif pelayanan kesehatan, pendampingan, dan kegiatan positif lainn. Semua ini demi memberikan kenyamanan dan memupuk rasa persaudaraan antar warga Surabaya secara umum. (*)

(dikutip dari buku “Inovasi Pelayanan Publik Kota Surabaya 2014-2015” yang dibuat oleh Bagian Organisasi dan Tata Laksana Pemkot Surabaya, 2016)

BACA JUGA

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here