Ketemu Pemred Kompas, Tuh Bisa FPI Nggak Pakai Otot

Juru Bicara FPI Munarman (kiri) saat berbincang dengan Pemimpin Redaksi Kompas Budiman Tanuredjo, Kamis 16 Juni. Foto: Beritaislam.net

Berita Surabaya – Mata Minke melotot. Dia berdiri berkacak pinggang di depan karibnya Jean Marais yang juga siap membentak. Veteran perang Aceh itu terus mendesak sahabatnya Minke agar menulis artikel-artikelnya yang mencerahkan di koran SN/D dalam bahasa Melayu.

Bukan perkara Marais tak paham bahasa Belanda tapi dia menganggap Melayu adalah bahasa yang paling banyak digunakan masyarakat Hindia saat itu- di akhir abad 19.

Minke yang merupakan jelmaan Tirto Adi Suryo itu berkukuh menolak. Menurutnya, Melayu hanya akan menurunkan cita rasa tulisannya. Lulusan sekolah favorit HBS Surabaya tersebut merasa keren dengan kemampuan bahasa belandanya.

Dan selama ini memang bejibun pujian datang karena kecakapannya itu. Minke percaya Melayu adalah bahasa miskin, low taste, dangdut.

Debat tak berpenghujung itu nyaris pecah menjadi pertengkaran hebat dan memberaikan pertalian persahabatan keduanya. Padahal mereka adalah karib bertahun lamanya. Untung Maysaroh putri mungil Marais berhasil menengahi lalu akhirnya mendamaikan.

Itulah satu fragmen yang tersaji dalam roman Anak Semua Bangsa karya Eyang Pram. Membaca berita soal audiensi antara FPI (Front Pembela Islam) dan Grup Kompas Gramedia terkait framing berita tentang razia warung Bu Saeni di Serang, Banten beberapa hari lalu saya jadi teringat lagi fragmen itu.

Pokok masalahnya berbeda. Namun esensinya sama. Ketidakpuasan terhadap suatu pemberitaan yang dianggap merugikan satu kelompok masyarakat tertentu. Dan kelompok tertentu itu ingin menggugat.

Agak berbeda dengan Minke kontra Marais. Awalnya, setelah tahu FPI mengirimkan surat untuk meminta audiensi dengan Kompas saya sudah membayangkan fragmen yang lebih panas dibandingkan Minke vs Marais bakal terjadi.

Tentu tanpa alasan pikiran saya mengarah ke sana. Mengingat rekam jejak FPI selama ini.

Polisi juga pasti berpikiran seperti saya. Makanya mereka sudah bersiaga penuh di kantor Kompas Palmerah, Jakarta Selatan sebelum rombongan FPI tiba. Eh jangankan datang serombongan, ormas yang khas dengan pakaian putih-putih itu hanya datang belasan.

Begitu masuk ke ruangan pertemuan mereka dengan ramah mengucap salam. Kemudian mendapatkan jawaban hangat sang tuan rumah.

Ah polisi mending pulang saja kalau begini.

Audiensi dimulai dengan perkenalan dari kedua pihak. Masih tetap gayeng. Bahkan forum itu menjadi seperti temu kangen antara Munarman dan Pemred Kompas Budiman Tanuredjo. Beberapa kali keduanya mengenang masa-masa lalu yang sepertinya akrab sekali.

Melalui kultwit dan video yang diunggah FPI di Youtube, tim yang dipimpin Munarman terlihat membawa banyak data yang mendukung opini mereka bahwa framing pemberitaan Kompas Group jelas-jelas memojokkan sebagian umat Islam. “Setidaknya kami-kami ini,” tegas Munarman.

Menurutnya tim FPI telah melakukan riset selama 11-15 Juni dan meemukan lebih dari 350 berita tentang razia warung Bu Saeni yang dianggap tidak imbang. Misalnya jika dibandingkan dengan Nyepi atau ibadah Minggu di Jayapura.

Bahkan pemberitaan tersebut dianggap sebagai biang keladi pencabutan sejumlah perda syariat di Indonesia.

Pihak Kompas tentu punya argumem sendiri. Seperti tidak ada niat mengarahkan pemberitaan untuk menyakiti umat muslim. Bahkan Kompas TV adalah satu-satunya televisi yang menayangkan siaran langsung salat tarawih langsung dari Mekkah.

Ada pula argumen yang menjelaskan tentang perbedaan berita dengan efek berita. Intinya semua berjalan begitu saja tanpa ada seting-setingan.

Setelah sama-sama berargumen kedua pihak kembali geguyonan lagi. Memang ada tambahan tausiyah pendek dari Ustad Al Khotot. Semuanya tetap disampaikan dalam suasana hangat. Tidak ada bentrok-betrok. Ngotot boleh tapi nggak usah pakai otot.

Sebenarnya saya menginginkan perdebatan yang lebih sengit daripada itu.

Lha wong kedua belah pihak sama-sama dalam kondisi tenang tanpa emosi, juga tanpa niat untuk saling menyakiti satu sama lain. Sangat dewasa. Saya membayangkan seperti acara Indonesia Liers Club yang super seru itu.

Tapi tak apa. Ini adalah awal yang baik bagi FPI yang citranya sudah kadung identik dengan ngotot dan otot. Ternyata mereka bisa juga kritis tapi tenang. Ngotot tapi ilmiah. Pake riset juga. Mudah-mudahan lain kali lebih seru. Dengan siapapun lawan debatnya.

Jadilah seperti Minke dan Marais. Seperti Munarman dan Budiman Tanuredjo.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here