Film Remaja dan Distorsi Makna di Dalamnya

film remaja

Tulisan ini tidak ada ambu-ambu Surabaya secara langsung. Sehingga, mungkin tidak layak dimasukkan di website yang mengusung semangat kesurabayaan. Tapi ini penting karena arek Suroboyo pasti juga menonton film remaja.

Kawan saya yang kabarnya ikut mengelola SUROBOYO.id bernama Rio F. Rachman bilang, bila berbicara tentang film Indonesia dan remaja, pastilah berkaitan dengan Surabaya.

Terlebih, sambungnya, kalau film remaja tersebut merepresentasikan remaja yang “seolah-olah” Indonesia banget. Padahal, hanya dicuplik dengan setting Jakarta.

Saya akan bercerita tentang tiga film remaja Nayato Fio Nuala. Yakni, Virgin 2: Bukan Film Porno (2009), 18+: True Love Never Dies (2010), dan Not for Sale: Keperawanan Tidak Untuk Dijual (2010).

Nayato adalah sineas yang konsisten berkarya di film remaja. Tepatnya, genre film yang partikular membahas tentang keseharian remaja dan problematikanya, dengan segmentasi penonton remaja.

Yang menjadi benang merah dari karya Nayato adalah adegan-adegan yang menampilkan seksualitas, eksploitasi perempuan, dan pergaulan bebas. Sehingga, kerap dikatakan sebagian orang kurang berkualitas.

Walau demikian, filmnya selalu ada di bioskop mainstream Indonesia dan diminati masyarakat.

Contohnya, 18+ (2010) yang dicatat meraup 512.973 orang penonton, dan termasuk dalam 10 film box office pada tahun 2010.

Gak semua remaja alay

Persoalannya, muncul beberapa kesenjangan antara teks yang direpresentasikan di media berupa film dan apa yang sebenarnya terjadi dalam kelompok remaja.

Dalam film, remaja muncul dalam stigma negatif yang berkaitan dengan isu pergaulan bebas.

Sedangkan dalam kehidupan remaja yang sebenarnya di masyarakat – dilihat dari diskusi dan artikel bahasan dalam majalah remaja – muncul beragam sisi dari kelompok remaja, yang secara kontras justru lebih banyak ditampilkan dari sisi positifnya.

Jadi, tidak semua remaja alay koyok di film.

Bila diperluas, tidak semua remaja lebay koyok di sinetron. Problemnya kemudian, alay dan lebay di media massa itu disesap habis-habis kedunia nyata.

Kasarannya, gambar di film diimitasi kedunia nyata.Makin rumitlah sudah hidup ini.

Dualisme makna perawan

Tidak hanya kepengurusan tim sepak bola yang ada dualismenya. Keperawanan juga mengalami “penggandaan” makna. Misalnya, dalam film Nayato, perawan direpresentasikan dalam figur perempuan yang lugu dan naif, sebagai simbol dari budaya kuno konservatif.

Oleh karena itu, visualisasi perempuan perawan dimunculkan pula dengan stereotipikal perempuan klasik, dengan rambut panjang dan hitam dan gestur selalu menunduk serta berbicara lirih.

Keluguan dimunculkan dalam visual seragam sekolah dan minimnya pengetahuan mengenai pergaulan bebas serta wawasan mengenai ekspresi seksual. Utamanya, terkait interaksi dengan laki-laki.

Dalam wacana pergaulan bebas, terjadi pergeseran nilai pada keperawanan, dari bernilai sosial tinggi (sebagai tanda kesucian perempuan) menjadi bernilai ekonomi tinggi (sebagai nilai jual yang menarik bagi laki-laki).

Sudut pandang patriarkis ini menempatkan remaja (terutama perempuan) dengan segala interaksi, komunikasi dan relasi seksualnya sebagai hal yang eksotis, aneh dan terlarang.

Tapi, bukankah keperawanan atau perawan ting-ting, di dunia nyata tidak seperti itu?

Tidak sesederhana atau sekompleks itu. Saya tidak perlu menjelaskan makna keduanya dari perspektif norma sosial yang berlaku di sekitar masing-masing.

Saudara-saudara pasti lebih paham. Kan, lingkungan teman-teman sekalian?!

Intinya, apa yang disampaikan di media massa, dalam hal ini film, atau bisa diperluas keranah sinetron, bukan semata-mata representasi dari dunia nyata.

Sangat mungkin, telah terjadi distorsi di dalamnya. Jadi, berhati-hatilah bila menangkap pesan dari media.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here