Empat Model Manusia Saat Melihat Kawannya Apes

sumber: pixabay. Tampak, uwong gawe klambi anti racun. Nek lingkunganmu tercemar racun, berarti awkmu lan warga sekeliling sedang apes

Berita Surabaya – Hidup tak selamanya indah. bahkan, kadang yang indah-indah datang sekadar assalamualaikum dan walaikumsalam: numpang liwat thok!

Tapi yakinlah, apes pun tidak bakal selamanya. Kata HAMKA, selama-lamanya kemarau, akhirnya hujan jua. Selama-lamanya hujan, akhirnya kerontang belaka.

Jikalau ternyata masa apesmu lebih lama dari masa indahmu, ya tenang saja. Berarti memang kamu lagi apes. #tengtong

Nah, saat kita lagi apes, atau mendapat nasib buruk, kawan-kawan di sekitar pasti punya sikap berbeda. Ada yang sikapnya menyenangkan, tak jarang terdapat pula yang menjengkelkan.

Misal, pas kita lagi bokek ra nduwe duwit, kadang kala, konco sing nduwe duwit mlekik. Konco ngene iki jelas: nek ngising neng kali pasti nggowo pecut.

Berdasar observasi alakadarnya, saya mencatat ada empat model sikap manusia saat melihat kawannya lagi apes. Berikut:

  1. Kura-kura dalam perahu. Pura-pura goblok

Mungkin awakmu pernah curhat soal bokek neng koncomu. Tapi, awakmu gak ngomong langsung nek ape nyelang duit. Terus, koncomu iku, sing dicurhati, malah nyelimur ngalor-ngidul.

Intine, konco iki paham nek kita butuh bantuan. Tapi, amergo males nulung, dia pura-pura tidak tahu. Toh, dalihnya, kita tidak langsung ngomong kalau butuh bantuan.

Plis, Rek. Iki nok pulau jowo. Kadang kala, njawuk tulung iku tidak eksplisit. Tapi, nggawe majas-majas, curhat-curhat mendayu-dayu.

  1. Pahlawan kesiangan

Pernah tumbas motor atau mobil bekas, ngontrak rumah, atau beli ponsel utowo perabot? Lantas, ternyata harga yang kita beli di atas harga pasaran. Seratus persen, kita lagi apes!

Lantas, onok konco yang moro-moro ngomong: “Oalah, kok gak ngomong aku” atau “Nek onok aku, mesti koen gak ngetokno sak mono. Aku eruh harga sak pasarane,”

Parahnya, kalau diingat-ingat, kita sebenarnya sudah curhat pada mereka sebelum membeli atau membayar. Tapi waktu itu, mereka tidak menanggapi serius. Pas kita sudah njegur kali, mereka epok-epok ingin menolong.

Konco ngene iki biasane kudu dikaplok! Tapi nek kito ngaplok, apa bedanya kita sama mereka?!

  1. Kita apes, malah disyukur-syukurno!

Pernah merasakan yang demikian? Ingat-ingatlah, dulu, pas lagi kecil (mungkin juga hingga kita besar), kita pernah terjatuh karena terpeleset lantai licin. Lalu, kawan-kawan kita tertawa dan menganggap ini lucu. Dan bisa jadi, posisinya terbalik. Kawan lagi jatuh, kita yang tertawa.

Sungguh, Rek, karakter ini tidak bagus. Kikislah perangai ini dari hidupmu, saudaraku.

Koen tau tumon, konco sing nggojloki koncone pas koncone iku tukaran ambek bojone? Atau guyu gemuyu kekel pas kancane kelangan HP? Iku gak lucu, Rek.

Masio, di level tertentu, ada kelompok orang yang suka merayakan kesengsaraan anggota kelompoknya. Tapi, itu kelompok khusus, bahkan sangat khusus. Kelompok iku biasane isine wong koplak-koplak.

Kalau kita mengaku orang biyasa, pastilah kita sedih kalau lagi apes. Dan kalau mendengar ada yang nggojloki, rasanya bertambah beban di jiwa dan raga ini.

Mari berempati dengan keapesan orang lain.

  1. Teman yang pengertian

Selain tiga model manusia di atas, terdapat pula kawan yang benar-benar pengertian saat kita apes. Mereka suka menolong dan tabah. Contohlah orang seperti itu.

Sekarang, coba ingat-ingat, kamu pasti punya kawan seperti itu. Kalau tidak punya, berarti kamu tergolong manusia yang benar-benar apes kuadrat di jagat raya.

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here