Emosi Jiwaku, Wadah Ekspresi Pecinta Persebaya

Halaman muka website

Berita Surabaya Meskipun sudah lama klub kebanggaan kota pahlawan Persebaya tidak berlaga di lapangan hijau, bukan berarti penggemarnya (Bonek, Red) berdiam diri. Sebaliknya, mereka justru kerap menginisiasi kegiatan positif. Termasuk, membuat wadah berekspresi untuk menyalurkan hasrat cinta pada klub tersebut.

Salah satu wadah ekspresi itu adalah portal berita emosijiwaku.com. Emosi Jiwa (EJ) adalah portal berita terpercaya dan terkini tentang Persebaya dan Bonek. EJ berada di bawah manajemen CV. Brandigi Media Komunikasi. Semua berita dan opini di website EJ berasal dari Bonek dan orang-orang yang mencintai Persebaya.

Konon, Emosi Jiwa digawangi oleh tiga orang potensial yang juga kreator website MakNews.id. Yakni, Iwan Iwe, Enrile Fahmi Fahreza, dan Bimantoro. Mereka merilis website ini pada akhir 2015.

EJ tidak hanya bersisi berita dan opini. Namun juga, komik strip dan toko online. “Konten yang ada adalah dari Bonek untuk Bonek. Meski memang, tulisan atau berita yang masuk akan melalui proses penyuntingan,” kata Iwan Iwe saat diwawancara tempo hari.

Tidak melulu soal Bonek, EJ juga kerap memberitakan kondisi persepakbolaan tanah air yang lagi hangat. Misalnya, saat terjadi kisruh antara supporter Persegres Gresik United vs PS TNI di Stadion Petrokimia Gresik pada 22 Mei lalu. Waktu itu, korban paling banyak berasal dari kubu pendukung Persegres Gresik.

“Masyarakat banyak mengecam perilaku pendukung PS TNI yang menggunakan kekerasan. Netizen pun tak ketinggalan mengkritik anggota TNI yang terlibat dalam kekerasan itu. Banyak yang kemudian menyerukan agar tentara dan polisi kembali ke barak dan tidak mengikuti kompetisi sepak bola. Kritikan tersebut seolah menyindir keberadaan dua klub yang berasal dari TNI dan kepolisian, yaitu PS TNI dan Bhayangkara Surabaya United”

Paragraf di atas bisa dijumpai di EJ yang kebetulan melengkapi reportase itu dengan kartun. Tanggal pemuatannya, 23 Mei 2016. Persoalan lain yang sempat kena sorot adalah soal kekerasan aparat pada pendukung sepakbola. Tulisan yang dilansir pada 16 Mei 2016 tersebut juga dilengkapi kartun.

“Tewasnya Muhammad Fahreza, suporter Persija di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) menambah daftar panjang kematian suporter sepak bola di Indonesia. Menurut kabar yang beredar, Fahreza tewas karena dianiaya petugas keamanan.

Remaja berusia 16 tahun itu tewas akibat dipukuli saat memasuki stadion untuk menyaksikan laga Persija melawan Persela di ajang TSC, Jumat 13 Mei 2016.

Kekerasan-kekerasan yang mengakibatkan nyawa suporter sering menghiasi berita-berita sepak bola kita. Dan sepertinya kita tak pernah belajar untuk mengatasi masalah tersebut.

Lihatlah bagaimana pihak berwenang di kota Liverpool, Inggris, menggelar pengadilan untuk mengusut pihak-pihak yang menyebabkan 96 suporter Liverpool tewas dan 766 terluka dalam tragedi Hillsborough. Meski, peristiwa itu terjadi 27 tahun lalu, tepatnya 15 April 1989, pengadilan tetap digelar. Di pengadilan terbukti jika pihak kepolisian South Yorkshire (SYP) lalai sehingga menyebabkan peristiwa itu terjadi.

Bagaimana dengan di Indonesia? Apakah ada pengusutan atas tindak kekerasan yang dilakukan petugas keamanan kepada suporter?” (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here