e-Health, Memudahkan Layanan Kesehatan dan Ramah Lingkungan

Tampilan depan laman e-health

Berita Surabaya – Komitmen untuk senantiasa memberikan pelayanan publik terbaik mendorong Pemerintah Kota (Pemkot) untuk senantiasa menciptakan terobosan. Salah satunya, dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi gua mempercepat pelayanan kesehatan melalui e-Health. Yaitu, aplikasi yang memudahkan warga untuk mempersingkat antrean di puskemas maupun rumah sakit. E-health digagas oleh Pemerintah Kota Surabaya melalui sinergi antar semua Puskesmas, Rumah sakit, Dinas Kesehatan, Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil, dan Dinas Komunikasi dan Informatika selaku leading sector di bidang pengembangan dan pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK).

Melalui penggunaan e-Health, pemohon tidak perlu datang langsung ke loket pelayanan. Melainkan, cukup mendaftar di rumah bagi yang mempunyai koneksi internet maupun di e-Kios yang tersedia di seluruh kantor Kelurahan/Kecamatan dan puskemas Kota Surabaya. Jelas, langkah ini lebih efisien. Di samping, lebih ramah lingkungan karena pengurangan penggunaan kertas. Pemohon tidak perlu datang langsung ke loket, sehingga pemrosesan berkas pun menjadi lebih cepat.

Inovasi ini bertolak dari sejumlah permasalahan yang sudah dirumuskan terlebih dahulu. Misalnya, soal volume antrean di puskesmas maupun rumah sakit yang selalu padat setiap hari kerja. Jumlah pasien puskesmas rata-rata perhari adalah 100 s/d 300 pasien. Sedangkan jumlah pasien rumah sakit rata-rata perhari adalah 500 s/d 1.000 pasien.

E-Health adalah solusi bagi permasalahan volume antrean pasien yang senantiasa terjadi setiap hari kerja. Selama ini warga harus berbaris bahkan sebelum dimulainya jam kerja di puskesmas maupun rumah sakit. Tak jarang warga meletakkan barang-barangnya seperti helm sebagai penanda urutan antrian mereka.

Melalui e-Health, warga tidak perlu repot mengantre terlalu dini di puskesmas maupun rumah sakit. Cukup terhubung dengan koneksi internet dan mengakses aplikasi tersebut, dia bisa mendaftar ke puskesmas maupun rumah sakit dan bisa datang berobat sesuai jam yang tertera di nomor antrian.

Hal tersebut tentunya lebih efisien. Terutama, untuk kalangan ekonomi lemah, buta huruf, penyandang cacat, dan manula yang memiliki akses terbatas di aspek kesehatan dan informasi. Warga yang tergolong kelompok tersebut tinggal mendatangi kantor Kecamatan/Kelurahan terdekat, kemudian menghubungi petugas yang memang sudah disiagakan. Petugas tersebut akan membantu warga yang ingin melakukan registrasi melalui aplikasi e-Health. Terlebih, di kantor Kecamatan/Kelurahan saat ini sudah memiliki e-Kios yang terkoneksi internet dan terhubung langsung pada aplikasi e-Health.

Secara umum, pasca penggunaan aplikasi ini, volume antrean berkurang hingga sepertiga. Kecepatan pelayanan registrasi pun bertambah. Apabila menggunakan metode konvensional, memerlukan waktu rata-rata 90 detik, sedangkan dengan menggunakan e-Health bisa dipangkas menjadi 30 detik. Pasien yang bisa ditangani menjadi lebih banyak hingga bertambah sepertiga bagian dari sebelumnya. Ini merupakan imbas kecepatan pelayanan. Rujukan pasien menjadi lebih cepat karena bisa dilakukan secara online. Record data pasien menjadi lebih cepat. Validasi data pasien menjadi lebih akurat.

Meskipun memanfaatkan TIK, e-Health tetap menggunakan pendekatan humanis. Aplikasi ini memiliki 3 bahasa untuk berkomunikasi dengan warga yang memanfaatkan layanannya. Baik melalui teks maupun audio. Yakni, Bahasa Indonesia, Bahasa Jawa (Surabaya), dan Bahasa Madura.

Keputusan untuk menggunakan 3 bahasa tersebut dilatarbelakangi fakta bahwa Surabaya didominasi penduduk dari suku Jawa dan Madura. Selain itu, langkah ini diambil untuk lebih mendekatkan e-Health kepada warga. Sebab, tiga bahasa tadi terdengar familiar dengan masyarakat kota yang berulangtahun tiap Mei ini.

Efek Positif

Inisiatif yang dijalankan Pemkot dengan kerjasama lintas Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) ini memiliki banyak dampak positif. Misalnya, terkait kepercayaan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan di kota Surabaya. Warga menjadi yakin bila Pemkot tidak melulu mengurusi hal teknis terkait pengobatan. Lini administrasi dan pelayanan juga terus dioptimalkan.

Bertolak dari sini, warga pun aktif membantu pemerintah dengan berkontribusi baik ide pemikiran maupun tenaga, menuju pelayanan kesehatan yang ideal. Sebab, kran kritik dan saran untuk eksekutif terus terbuka lebar. Selain itu, melalui inisiatif ini, dapat diperoleh database kesehatan penduduk Surabaya. Informasi ini, dapat diintegrasikan dengan data lainnya untuk merumuskan kebijakan yang lebih komprehensif menuju Surabaya yang semakin baik.

Untuk menjamin keberlanjutan aplikasi ini, Pemkot Surabaya membuat payung hukum yang dituangkan dalam Peraturan Walikota. Di sisi lain, Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi pada awal Januari 2015 lalu sempat berkunjung ke Surabaya untuk menggali informasi dan mencoba aplikasi ini. Responnya, mengapresiasi program ini.

Sekadar catatan, untuk merancang sistem dan membangun aplikasi e-Health dibutuhkan integrasi antar Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) yang solid. Pembangunan aplikasi ini menghapuskan ego sektoral di kalangan SKPD karena dibutuhkan koordinasi dan pembagian data yang dimiliki oleh masing-masing SKPD. Kerjasama dan rasa saling percaya adalah kunci untuk mengimplementasikan aplikasi ini secara optimal. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here