Dolly, dari Bekas “Markas” Esek-esek Sampai Sentra Wisata

Berita Surabaya – Saya masuk Surabaya, tercatat sebagai warga, per 2002. Sekalian, saya masuk sebagai siswa di sekolah kebanggaan warga Gembong dan sekitarnya: SMAN 7 Surabaya yang dirahmati Allahu ta’ala.

Sejak saat itu, sampai sekitar sedekade setelahnya, saya akrab dengan kata Dolly. Beberapa kali saya ke sana. Hanya lewat, memang. Atau hanya mengobrol dengan kolega di sana.

Tentu, saya tidak “tumbas” apapun. Takut dosa. Takut dimarahi tuhan.

Hingga sebelum 2014, tatkala Wali Kota paling “sipil” dan perempuan pertama ngotot menutup Dolly, kawasan merah ini sangat khas.

Bila malam tiba, dentum musik menggema menggelora. Aquarium manusia dengan nuansa remang, beberapa bernuansa jambon. Bila siang, gaung speaker kadang masih terdengar. Beradu dengan suara adzan masjid/mushola sekitar.

Lantas, 18 Juni 2014, setelah tahap demi tahap yang kompleks, Wali Kota bernama Bu Risma, akhirnya sukses menutup Dolly. Bagaimana melihat atau apa paramater suksesnya? Suasana yang sempat saya sebutkan tadi langsung ludes des, mandeg jegrek, krek!

Selamat, Bu!

Setelah Dolly ditutup, ada banyak upaya merubah citra mesumnya. Ekonomi kerakyatan digelorakan. Event positif digelar berkali-kali.

Dan, cukup berhasil, lho. Lihatlah, saat ini ada setidaknya 20 UMKM warga di sana. Ada banyak kegiatan asyik pula seperti, menggambar mural di kawasan-kawasan Dolly, hingga Dolly Saiki Fest 2017 yang dipenuhi beragam event asyik selama tiga bulan penuh. Salah satu event: Dolly Night Fun Run.

Dolly diproyeksikan menjadi salah satu jujukan wisata di Surabaya. Allahuakbar!

Mbok, mbois tenan.

Kawan saya di Dolly sempat bilang, penghasilan sebagian warga memang menurun daripada saat ada lokalisasi prostitusi. Maksudnya, warga yang jualan nasi, buka laundry, tempat parkir, dan usaha lain yang masih bertalian dengan denyut manusia-manusia lokalisasi prostitusi di sana dulu, tentu meraup sangat banyak rupiah.

Namun secara umum, hidup mereka jadi lebih tenang. Karena mungkin, ini soal barokah dan tidaknya rejeki dari kehidupan malam, yang meskipun tidak langsung, berhubungan pula dengan roda ekonomi prostitusi di sana.

Itu kata teman saya. Menurut saya sih: no comment saja, emang saya tahu apa!?

Yang jelas kethok di mata saya, suasana di Dolly sudah berubah. Wisma legendaris Barbara, yang punya enam lantai, dilengkapi elevator, saat ini lagi direnopasi.

Saat ini, ada pabrik sepatu/sandal di lantai bawah. Pas lagi direnopasi, sentra komputer dan internet di sebelah pabrik sepatu/sandal dipindah ke kantor Lurah untuk sementara.

Beberapa titik, di lokasi bekas wisma, dibangun taman dan lapangan futsal. Syahdu.

Kawasan itu masih seperti wilayah padat kota Surabaya yang dempet-berdempet. Namun, lebih syahdu.

Dulu, hingar-bingarnya bukan main. Semaraknya, masih melekat di kepala saya sampai sekarang.

Waktu terus berjalan, takdir menentukan jalan hidup manusia dan kota tempat tinggalnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here