CATATAN GURU: Dilema K13 pada Jenjang Sekolah Dasar

sumber: Pixabay

 

Pada tahun 2014, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah memberhentikan Kurikulum 2013 karena dinilai masih kurang sempurna. Pemberhentian itu diatur dalam Peraturan Menteri nomor 159 tahun 2014 tentang evaluasi Kurikulum 2013 yang dikeluarkan tanggal 14 Oktober 2014. Pemerintah melakukan evaluasi dan perbaikan K-13 sampai benar-benar siap digunakan di semua jenjang pendidikan.

Setelahnya, pada awal tahun 2016, kurikulum 2013 dinyatakan sudah selesai revisi dan akan disosialisasikan sebelum bulan Juli 2016. Dengan selesainya revisi kurikulum 2013 ini, pelaksanaan akan berlangsung secara bertahap. Artinya, dalam pelaksanaan tahun pelajaran 2016/2017, masih akan terjadi dualisme implementasi kurikulum, yaitu, KTSP 2006 dan K13.

Sebagaimana kita ketahui bahwa dalam Kurikulum 2013, penekanan pada sekolah dasar diarahkan dalam aspek keterampilan siswa. Secara teori, apa yang diinginkan dalam kurikulum 2013 memang sangat bagus. Akan tetapi, dalam pelaksanaan kurikulum ini, masih sangat banyak pendukung-pendukung yang belum memadai dan dipersiapkan dengan matang.

Pengetahuan Dangkal

Dalam penerapan kurikulum 2013, semua mata pelajaran diaduk menjadi satu tema dalam konsep tematik. Tidak muncul nama satu mata pelajaranpun dalam kurikulum 2013. Penyampaian materi semua mata pelajaran dilakukan secara menyeluruh dalam satu tema. Guru memang harus benar-benar menguasai cara menyampaikan materi. Yang semula terpilah dalam mata pelajaran tertentu, berubah ke tema-tema yang sudah ditentukan.

Dampak yang terjadi dari pembelajaran tematik seperti ini sudah pastinya membuat pembelajaran terkesan sepenggal-sepenggal. Dari satu mata pelajaran, melompat ke mata pelajaran lain. Siswa seakan tidak merasakan perubahan mata pelajaran tersebut.

Sehingga, materi yang diajarkan dalam kurikulum 2013 menjadi dangkal. Suatu contoh, pada materi di kurikulum sebelumnya yang membahas tentang FPB dan KPK dalam mata pelajaran matematika. Materi ini bisa dikupas tuntas dalam satu Kompetensi Dasar sehingga tujuan pembelajaran pada FPB dan KPK benar-benar tercapai. Akan tetapi, pada pelaksanaan pembelajaran tematik dalam kurikulum 2013, materi ini hanya sekilas dikenal oleh anak. Muaranya, anak tidak menguasai secara mendalam materi tersebut. Bisa dibayangkan jika pada semua materi, hanya disampaikan secara- sekilas-sekilas. Sudah pasti pengetahuan anak pada sebuah materi akan terasa “nanggung”.

Format Penilaian Kompleks

Selain dari sisi materi yang diterima siswa, kita juga bisa melihat teknik penilaian dalam kurikulum 2013 yang sangat kompleks mulai dari penilaian sikap, penilaian produk, dan lain sebagainya. Penilaian ini harus dilakukan oleh guru ketika proses pembelajaran berlangsung. Hal ini pastinya menuntut guru untuk melihat satu-persatu apa yang dilakukan oleh siswa, agar nilai dapat benar-benar valid.

Hal yang diharapkan memang bagus, tapi apakah akan efektif dan bisa dilakukan oleh semua guru se-Indonesia? Pertanyaan ini pastinya sudah sering diutarakan oleh banyak pihak, termasuk guru itu sendiri. Dengan sistem penilaian semacam ini, yang banyak terjadi adalah praktik “mengaji” atau mengarang biji (nilai).

Guru cenderung lebih memilih cara praktis dalam menilai siswa yang mereka ajar. Yang terpenting bagi mereka adalah apa yang akan dijadikan laporan pembelajaran bisa ditulis dalam sebuah rekapitulasi hasil laporan penilaian. Meskipun mungkin, tanpa melihat proses yang dilakukan.

Mengacu pada permasalahan-permasalahan tersebut, pastinya pemerintah harus mengubah atau paling tidak memudahkan pelaksanaan kurikulum 2013. Jika yang ingin dicapai adalah keterampilan sebagai hasil yang paling banyak diharapkan pada sekolah dasar, akan lebih baik jika dalam segi penilaian juga tidak terlalu dipusingkan dengan format-format penilaian yang menyulitkan.

Selain itu, dalam tuntutan ilmu, pemerintah juga harus menerima risiko yang terjadi jika dalam aspek pengetahuan, akan mengalami penurunan karena yang ditekankan pada kurikulum 2013 adalah aspek keterampilan. Jangan sampai pemerintah melaksanakan kurikulum 2013, tetapi dalam pelaksanaan ujian atau kompetisi yang diadakan oleh dinas, malah cenderung pada aspek pengetahuan. Komitmen dan konsistensi pemerintah dalam kesuksesan kurikulum 2013 sangat dibutuhkan.

 

* Pernah dimuat di Qureta.com, 8 November 2016. Materi pada buku Coretan Guru Desa

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here