Diabetes Wes Gak Isok Digawe Guyon, Rek!

diabetes
Photo ILD 2017​-4 (ki-ka) ; dr. Grace Judio Kahl, MSc, MH, CHt sebagai Pakar Kesehatan, Ibu Dyah Erti Mustikawati, MPH. sebagai Kasubdit Diabetes Melitus dan Gangguan Metabolik Mewakili Direktur P2PTM Kementerian Kesehatan RI, Bapak Agus Sri Wardoyo, SKM, MM selaku Ketua DPD PERSAGI Jawa Timur, Ibu Yunita Chandrawati sebagai Brand Manager Diabetasol dalam acara Press Conference Kampanye Indonesia Lawan Diabetes 2017.

Berita Surabaya – Rek, Rek. Ngerti nggak.  Berdasarkan data Riskesdas tahun 2013, Diabetes merupakan pembunuh nomor 3 di Indonesia setelah penyakit jantung yang menduduki peringkat pertama dan stroke yang menduduki peringkat ke-2.

Statistik prevalensi penderita Diabetes di Indonesia berdasarkan kelompok usia menunjukkan bahwa 2 dari 100 penderita, berusia antara 25-34 tahun. Sementara 48% penderita Diabetes berasal dari kalangan usia 35-44 tahun dan kebanyakan dari mereka, awalnya tidak menyadari bahwa dirinya menderita Diabetes.

Fakta ini menunjukkan bahwa Diabetes sudah mulai menyerang golongan masyarakat usia produktif dan tingkat pemahaman akan gejala dan bahaya Diabetes, masih sangat rendah. Waduh!

Tapi, Rek. Santai. Tetap ada solusinya. Yaitu, mengubah gaya hidup. Caranya dengan hidup lebih sehat dengan pengaturan pola makan, olahraga yang sesuai untuk Diabetisi dan keseimbangan jiwa.

Salah satu topik yang sangat umum namun belum banyak dipahami masyarakat adalah, adiksi terhadap karbohidrat sederhana yang mudah memacu kadar gula dalam darah. Pada negara-negara berkembang, konsumsi karbohidrat berkisar 70-80 persen dari total kalori.

Ini dapat dipahami, sebab sumber makanan yang mengandung karbohidrat, harganya lebih terjangkau, dibandingkan sumber makanan yang mengandung protein dan lemak.

“Jenis karbohidrat sederhana, mudah dipecah karena struktur kimianya yang sederhana. Pemecahan ini dapat berlangsung dalam waktu singkat, dan cepat diserap tubuh. Akibatnya kadar gula darah dapat dengan naik dengan segera, hanya beberapa saat setelah mengkonsumsinya. Cognitive Behaviour Therapy dengan Traffic Light Rules merupakan salah satu teknik untuk memutuskan rantai adiksi akan karbohidrat sederhana,” jelas Dr. Grace Judio, pakar kesehatan. 

Cognitive Behaviour Therapy dengan Traffic Light Rules, merupakan pengelompokkan makanan berdasarkan Indeks Glikemi.

“Harapannya, kampanye Gerakan Indonesia Lawan Diabetes, bisa memberikan dukungan berupa edukasi kepada masarakat dan juga bisa menerima dukungan dari masyarakat, agar upaya untuk meminimalisir jumlah penderita Diabetes di Indonesia, bisa menjadi upaya bersama dan bisa terealisir,” ungkap Yunita Chandrawati, Brand Manager Diabetasol.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here