Grahadi dan Memori Seorang (Mantan) Demonstran

grahadi
Foto: pandasurya.wordpress.com

Jaman masih jadi mahasiswa antara tahun 2002-2007, salah satu hobi saya adalah ikut demo. Iya demo yang itu, teriak teriak di pinggir jalan bawa spanduk dan kadang-kadang bakar ban juga. Salah satu lokasi favorit pendemo jaman itu adalah taman depan gedung Grahadi.

Saya dulu pernah tanya sama seorang senior, kenapa sih kalau kita demo selalu di depan gedung Grahadi? Jawaban senior itu agak absurd menurut saya, katanya: karena Grahadi adalah representasi pemerintah pusat.

Saya waktu itu cuma ter oh oh saja, kok gitu sih? Lha kan tapinya Grahadi itu selalu kosong, hanya gedung tua warisan jaman londo, kalau dipikir-pikir mesakno arek Suroboyo iki.

Orang kalau di Jakarta, ga suka sama kebijakan presiden ya demonya depan Istana, ga suka sama DPR ya demo depan gedung DPR.

Nah, mahasiswa Suroboyo hanya punya Grahadi.

Mungkin selain ‘representasi pusat’ Grahadi itu juga punya lokasi yang strategis dan sudah banyak wartawan yang ngepos dekat situ. Jadi kalau demo di Grahadi ada kemungkinan diliput entah masuk koran atau tv lokal (jaman semono durung usum SUROBOYO.id) jadi aspirasi bisa juga sampai ke pusat.

Ada satu kejadian unik waktu demo dekat-dekat pilpres 2004. Waktu itu ramai penolakan capres perempuan. Nah, sebagai jarene aktifis pro hak-hak kaum perempuan maka saya ikut saja ketika diajak demo sama mbak-mbak senior.

Bukan karena kami pro-Meg (sebutan pendukung ibu capres waktu itu) tapi ya kami ga terimo kenapa perempuan dipulosoro kalau mau jadi pemimpin. Padahal kan NKRI ini bukan negara agomo, tapi demokrasi.

Kiro-kiro ngono lah.

Lah demo yang isunya fenomenal gini lha kok ternyata kami kurang massa. Mungkin karna wayahe UAS opo libur semester sehingga teman-teman tidak tertarik ikut demo.

Jadilah kami berangkat aksi walau hanya 6 orang. Dan dengan massa sebanyak itu, jumlah wartawan yang meliput berkali lipat dengan kami yang bawa spanduk ala ala, mungkin ada 20 orang.

Benar saja, besoknya pas kebetulan saya ke studio TVRI untuk jadi penggembira acara dialog seputar pilpres juga, ada seorang wartawan TVRI yang sambat, “Jancuk, aku wingi liputan demo lha kok sing demo mek arek limo opo enem. Jek akehan wartawan sing ngliput.”

Haha dalam hati saya cekikikan, ga eruh dek’e nek pelakune ono nang mburine…

Tapi rek yo, kalau ditanya lapo sih aku seneng melu demo. Mungkin karena bawaan lahir, karena saya ini sudah demo sejak masih orok. Saya demo ga mau lama-lama dirahim ibu saya, makanya saya lahir sebelum genap sembilan bulan atau prematur.

Saya juga pernah demo waktu SD, waktu itu saya menolak dicacar (sebutan orang ndeso untuk vaksinasi). Jadi saya komporin teman-teman untuk keluar kelas pas petugas pencacar datang.

Selain faktor gawan bayi, keberanian demo juga datang dari teks agama yang kira kira bunyinya: kurang lengkap iman seseorang jika melihat ketidakadilan lalu ia diam saja. Kalau mampu, ubahlah dengan tanganmu (kekuasaan), atau dengan lidahmu (suarakan) atau tolak dalam hatimu, dan nggrundel dalam hati adalah selemah lemahnya iman.

Jadi demo itu ya bisa jadi relijius, Rek. Mungkin jaman kami dulu membela kepemimpinan perempuan itu tabu, tapi kan seiring waktu ternyata aspirasi kami ga salah salah banget. Buktinya arek Suroboyo sekarang punya walikota perempuan yang ciamik soro.

Karena demo itu pada dasarnya bentuk keberpihakan, boso enggrese stand up, atau berpihak pada sesuatu. Makane jangan keliru nerjemahin stand up comedy dengan komedi ngadeg, tapi lawakan yang berpihak.

Seperti lirik lagu yang bilang Stand Up for Love itu ya maksude saya berpihak atau memilih cinta.

Jadi ya sebenernya orasi itu ya ga jauh beda dengan open mic ala komika yang lagi ngetren sekarang.

Dadi yo, Rek, kalau kalian jomblo dan naksir someone tapi gak wani omong, coba takar lagi imanmu. Hehehe. (Azmi, mantan demonstran yang ketemu jodoh di lokasi demo 😀 ).

BACA JUGA:

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here