Danem SD dan Tuntutan Mamah-mamah Muda Pada Anaknya

Susahnya jadi anak sekolah zaman sekarang. Nilai jelek, disalahkan. Nilai bagus, katanya kurang bagus lagi. Duh.

Berita Surabaya – Pagi ini, pas bersih-bersih di depan rumah saya liat ada mamah-mamah muda berkerumun. Penasaran, ya, saya nimbrung aja. Ternyata mereka lagi ngomongin danem sekolah dasar dari anak – anaknya yang masih SD.

“Wahh, anakku danemnya cuma 22.”

Saya mikir sebentar. Kalau nilai 22 untuk 3 mata pelajaran, berarti rata-rata kan 7 lebih. Lalu saya bilang, “Wah, sudah bagus kan ya?”

Sontak mereka jawab berjamaah, “Yo eleekk!”

Hah, saya kaget. Sampe-sampe memundurkan bahu saya saking kagetnya. Penasaran lagi, lalu saya tanya, “Lha trus sing apik piro?”

“Lha itu, si mbak Anu. Danemnya 28, Nilainya delapan, sepuluh, delapan. Apiikk polll iku!”

Lalu saya minggir dari kerumunan itu. Pulang sambil mikir.

Saya ini pengajar, tapi ga bisa disebut guru karena belum dan tidak pernah mengajar di sekolahan formal. Tapi saya menganut kepercayaan guru konvensional, di mana guru itu digugu lan ditiru.

Kamu boleh bilang saya kuno ato ketinggalan jaman. Tapi nilai 100 itu hanya untuk guru. Sekarang ini, siswa yg mencapai nilai sempurna, itu tidak hanya 1 ato 2, tapi banyak jumlahnya. Dan itu salah satu faktor yang membuat mereka meremehkan, bahkan cenderung melecehkan guru.

Lha yak opo gurune nduwe wibawa, nek dianggep podo pintere karo muride?

Murid yang menganggap dirinya sama pinternya ato bahkan lebih pinter dari gurunya willl loose their respect for the teachers.

Yang lebih membuat mata saya terbelalak adalah ada nilai 100 untuk bahasa. It’s really a “WOW”.

Saya ini guru, eh, pengajar bahasa. Dan bahasa adalah satu-satunya pelajaran di sekolah yang memiliki dimensi yang paaaliing luas….

Kamu bisa memberikan pelajaran (pesan) apa saja lewat bahasa. Mau berhitung, ilmu alam, ilmu sosial ato ilmu budi pekerti sekalipun. Kamu bisa sampaikan melalui pelajaran bahasa.

Bahkan, teman saya, yang seorang guru bahasa (Indonesia) pernah mengatakan: belajar bahasa itu sama seperti membaca kehidupan. Jadi tidak perlu takut untuk tes/ulangan bahasa.

Dan jika ada yang mendapat nilai 100 utk pelajaran bahasa, maka pastilah dia seorang ahli kehidupan yg sudah paham tentang kehidupan itu sendiri.

Saya yang pengajar bahasa, ketika tes kebahasaan saja ga pernah sampe ke nilai sempurna (embuh nek sing bodo aku).

Tapi, tes bahasa itu kan selalu tentang text atau wacana. Dan dalam wacana selalu muncul berbagai interpretasi yang beda terhadapnya.

Kalau interpretasi setiap pembaca dan penulis sama dan itu menghaslkan 100, maka manusia sudah ga beragam lagi donk

Dan bayangkan, kalau ada anak SD nilai bahasanya 100, maka pastilah dia seorang yang mahfum tentang kehidupan. Tapi mungkin juga saya salah.

Ahh, embuhlah. Pokok’e ngono lahh

Wes ngono sek ae. Aku arep nonton The Freedom Writer karo anak-anak didikku. Pas iki temane karo baca membaca.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here