CATATAN GENDER: Pregnant Man dan Peran Berdasarkan Perbedaan Gender di Masyarakat

sumber: Pixabay

Lesbian, gay, bisexual dan transgender merupakan isu yang cukup ramai diperbincangkan saat ini, terutama di Negara-negara konservatif dicetuskan oleh legalisasi perkawinan sesama jenis serentak di beberapa Negara bagian Amerika Serikat pada tahun 2015. Di Amerika Serikat, hukum yang mengatur hak-hak LGBT berkembang dan mengalami perubahan untuk kesekian kalinya hingga pada tanggal 26 Juni 2015 Pengadilan Tertinggi Amerika Serikat menjamin hak pernikahan sesama jenis di 50 negara bagian. Meskipun sudah ada hukum yang menjamin hak LGBT ini, masih belum ada jaminan bagi mereka untuk terhindar dari kejahatan kebencian (hate crime) yang dilakukan oleh orang-orang fanatik heteroseksual.

Seperti yang diberitakan akhir-akhir ini, Emma Green, seorang penulis berita di The Atlantic, memposting berita tentang kekerasan terhadap LGBT (12 Juni 2016) yang terjadi di club gay Orlando Florida. Omar Marteen, seorang pembenci LGBT, menembak masal para LGBT tepat di hari Pride Month atau hari peringatan kebanggaan LGBT di bulan Juni 2016. Dan kejadian ini ditengarai sebagai bentuk kejahatan kebencian terhadap LGBT yang tidak biasa dibandingkan dengan kejahatan kebencian LGBT yang terjadi di tahun-tahun sebelumnya.

LGBT sudah sejak lama menjadi topik yang tidak pernah berakhir diperbincangkan. Banyak dalih yang menyebutkan bahwa hal ini bertentangan dengan norma agama dan norma-norma lain yang dianggap baik serta sudah sejak lama diterapkan di masyarakat. Dengan legalisasi LGBT, pasangan sesama jenis bisa membangun rumah tangga dan mengesahkan perkawinan mereka di mata hukum. Dan hal ini menggeser nilai keluarga dalam masyarakat yang dulunya ditekankan fungsinya sebagai sarana bagi orang-orang untuk bereproduksi atau mempunyai keturunan secara sah. Selain agama dan reproduksi, para penentang LGBT juga menggunakan alasan anak untuk menegaskan argumennya. Seorang anak dianggap membutuhkan sosok seorang ayah dan sosok seorang ibu yang benar-benar menjadi teladan dari kedua jenis kelamin. Dengan hadirnya sosok perempuan dan laki-laki dalam keluarga dianggap akan bisa memberikan pendidikan yang normal bagi seorang anak, sehingga anak akan tumbuh sengan baik tanpa adanya penyimpangan perilaku.

Thomas Beatie, seorang advokat LGBT adalah contoh yang menarik dalam topik ini. Dia terlahir sebagai seorang perempuan bernama Tracy Lehuanani LaGondino, merupakan keturunan Eropa dan Asia dan tinggal dalam keluarga yang kurang harmonis. Setelah sempat menjadi finalis Miss Hawaii, dia kemudian bertransformasi menjadi laki-laki. Dia menjalani terapi hormon testotron di tahun 1997 saat dia menginjak usia 23 tahun dan kemudian menjalani operasi bagian atas untuk merekonstruksi bagian dada agar terlihat maskulin di tahun 2002. Sebelum menikah dengan perempuan secara sah di tahun 2003, Beatie telah mengubah identitasnya sebagai seorang laki-laki secara resmi, bahkan di berkas asuransi jiwa dan kesehatan, Beatie dituliskan sebagai laki-laki.

Istri pertama Beatie adalah Nancy, dia didiagnosa tidak bisa memiliki keturunan. Karena rekonstruksi organ reproduksi internal di Amerika Serikat tidak dilegalkan, dan Thomas Beatie masih ingin mempunyai keturunan biologi, pada tahun 2007 dia mulai menjalani inseminasi buatan agar bisa hamil, dan kehamilannya berhasil di tahun 2008. Perjuangannya untuk mendapatkan keturunan sangatlah tidak mudah, seperti yang diceritakan Beatie dalam suatu program TV, kedua pasangan ini mengalami kesulitan dalam mendapatkan pelayanan medis karena beberapa rumah sakit dan dokter enggan melayani pasien transgender karena alasan agama.

Selama kehamilan, Beatie menjadi terkenal dengan julukan “Pregnant Man”. Penampilan layaknya laki-laki pada umumnya, maskulin, berjenggot,bertelanjang dada dan memegangi perut buncitnya sontak menyita perhatian publik dan dia sempat diundang oleh beberapa media ternama seperti Oprah Winfrey Show danmajalah, terutama majalah LGBTAdvocate, surat kabar dan media lainnya dan semenjak saat itu namanya mulai dikenal banyak orang. Dalam wawancara, Beatie dan sang istri mengaku sangat bahagia bisa memiliki keturunan, Beatie berkaca-kaca mengungkapkan kebahagiaanya setelah melihat hasil USG yang menyatakan bahwa bayi mereka sehat.

Saat dia melahirkan ketiga anaknya, media lagi-lagi digemparkan dengan topik “Man Gives Birth”.Setelah perceraian dengan sang istri, Beatie mendapatkan hak asuh anak. Dalam acara Oprah Where Are They Now, Beatie menceritakan bahwa bagi anak-anakya, Beatie adalah ibu dan bapak bagi anak-anaknya, tetapi Beatie sendiri menganggap dirinya dalah bapak yang melahirkan mereka. “….[menyebut nama anak-anaknya] mereka memanggil saya daddy, nama saya sekarang daddy, bukan lagi Thomas”. Istilah Pregnant Man dan Man Gives Birth adalah untuk pertama kalinya dalam sejarah kaum laki-laki.Kehadiran Beatie di media tidak serta merta menuai dukungan, banyak pihak yang kontra terhadap usahanya ini terutama dari masyarakat patriarkat dan para fanatik heteroseksual.Perwujudan kontra akan fenomena ini ditunjukkan oleh beredarnya beberapa meme yang menirukan pose Betie dalam majalah Advocate. Tidak hanya meme, beberapa reviewer juga meuliskan ketidak setujuan mereka dan kemudian mepostingkannya di media.

Beatie menjalani hari-harinya sebagai single parent, berkerja dan mengurus anak-anaknya seorang diri setelah perceraiannya dengan Nancy. Tidak jauh beda dengan single parent lainnya, mereka akan merangkap menjadi ibu sekaligus bapak untuk seluruh anggota keluarganya. Ketidak hadiran salah satu sosok anggota keluarga membuat mereka merangkap peran gender kedua jenis kelamin. Sebagai ibu, mereka akan mengasuh dan juga memberikan pendidikan dasar anak-anaknya. Sebagai seorang bapak, mereka juga berkerja mencari uang atau sebagai breadwinner untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.

Selain Thomas Beatie, Ryan Sallans juga memiliki versi dan membagikan fenomena LGBT tersendiri. Dia adalah seorang transgender yang terlahir sebagai seorang perempuan di keluarga harmonis. Transformasi gender yang dilakukan tidak jauh dari Beatie, Sallans juga menjalani terapi hormon testoteron, rekonstruksi dada dan juga alat kelamin. Dalam pernikahannya dengan seorang wanita, si penulis buku The Second Son ini masih belajar mendalami perannya sebagai seorang suami. Dalam kesehariannya yang diselingi sebagai pembicara LGBT, Sallans lebih cenderung mengurus rumah tangga. Dalam interview untuk artikel The Huffington Post, Sallans bercerita bahwa:

“[…] istri saya adalah pencari nafkah utama dalam keluarga, jadi peran kami sangat berkebalikan dengan peran orang tua saya, sepanjang pengamatan saya di masa kecil. Saya berkerja di luar rumah, tetapi pekerjaan saya tidak tetap, sehingga saya banyak melakukan aktifitas di dalam rumah seperti mencuci, mengasuh anak (kami memiliki empat bayi kucing), mencoba menyiapkan makan malam (istri saya lebih jago memasak daripada saya). Kami merasakan keseimbangan hidup dalam peran kami masing-masing, urusan keuangan bergantung pada istri dan urusan rumah tangga menjadi tanggung jawab saya. Saya adalah tukang kayu yang handal, saya telah mempermak rumah dan beberapa furniture di rumah kami, dan hal ini adalah salah satu bukti bahwa saya mampu menjaga stereotip laki-laki […]”

Meskipun tidak bisa digeneralisi untuk semua kalangan transgender yang bertransfromasi menjadi laki-laki, baik Beatie maupun Sallans, keduanya masih mencoba mendalami dan mewujudkan peran seorang laki-laki untuk bersifat maskulin, dan dalam waktu yang bersamaan mereka masih mampu melakoni sifat feminin serta berperan sesuai jenis kelamin asli mereka. Penampilan maskulin mereka merupakan wadah untuk mewujudkan peran yang mereka mampu kontribusikan terhadap masyarakat dan kehidupan mereka. Transfromasi penampilan fisik mereka adalah upaya agar gender yang ada dalam diri mereka dan yang mereka perankan bisa diterima di masyarakat.

Perbedaan gender atau perbedaan sifat dan perilaku di antara perempuan dan laki-laki telah melahirkan perbedaan peran gender dalam masyarakat. Sebagai kontruksi sosial dan budaya, peran gender ini telah lama dipertahankan karena awalnya dianggap tidak menimbuklan masalah. Tetapi seiring berjalannya waktu dan berkembangnya pemikiran, norma ini dinilai cenderung merugikan pihak perempuan dalam konteks tradisi patriarkat. Para pemikir pro feminist kemudian mencoba mensosialisasikan kesadaran ini dan memperjuangkan hak kesetaraan gender. Hasil dari perjuangan panjang feminisme ini bisa dilihat dan dirasakan setelah tahun 1990-an di mana pada saat itu para perempuan mulai muncul di ranah publik bahkan menempati posisi yang krusial dalam tatanan ranah tersebut. Hal ini membuktikan bahwa perempuan dalam keadaan fisik feminin sekalipun tetap mampu untuk melakoni peran maskulin yang dulunya hanya dikhususkan untuk laki-laki, seperti memimpin dan mengambil keputusan.

LGBT juga memberikan kontribusi tersendiri dalam pergeseran makna sex/gender. Legalisiasi pernikahan sesama jenis di 50 negara bagian Amerika Serikat, menjadi pencetus para LGBT di Negara-negara lain untuk memperjuangkan eksistensi mereka. Para transgender bertransformasi menjadi seorang berjenis kelamin yang berbeda dengan jenis kelamin sebelumnya memberikan bukti bahwa gender adalah elastis dan sebenarnya tidak berdasarkan pada fisik jenis kelamin belaka. Dalam situasi dan kondisi tertentu, misalnya seorang perempuan single parent, tanpa usaha untuk merubah penampilan layaknya laki-laki, pun akan mampu untuk melakoni peran laki-laki menjadi bapak pencari nafkah sekaligus ibu yang mengurus anak-anaknya. Meskipun hasilnya mungkin tidak akan semaksimal layaknya keluarga pada umumnya, tetapi norma tentang gender role berdasarkan jenis kelamin atau sex telah bisa dibantah oleh dengan fenomena-fenomena ini. Hal ini sejalan dengan statemen bahwa peran gender bisa ditukar. Terexposenya fenomena ini oleh media, menjadikan wawasan ini menjadi semakin dipahami banyak orang, sehingga perempuan dan laki-laki tidak lagi harus menyesuaikan jenis kelaminnya untuk menjalani hidup mereka karena peran gender tidak bisa dijadikan tolak ukur keproduktifan dan kualitas hidup seseorang.

 

Baca Juga:

CATATAN GENDER: Pergeseran Makna Sex/Gender Dalam Konteks Sosial Budaya

CATATAN GENDER: Feminisme dan Kekuasaan Perempuan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here