CATATAN GENDER: Pergeseran Makna Sex/Gender Dalam Konteks Sosial Budaya

sumber: pixabay

Sex dan gender adalah dua hal yang berbeda, tetapi keduanya sering disama artikan. Secara umum sex atau jenis kelamin adalah istilah yang digunakan untuk mengidentifikasi perbedaan perempuan dan laki-laki dari segi anatomi biologis, sehingga dalam pengkajiannya lebih menekankan pada perkembangan aspek biologis dan komposisi kimia dalam tubuh seorang perempuan dan laki-laki. Perbedaan biologi dan komposisi kimia antara perempuan dan laki-laki antara lain, jika perempuan memiliki alat reproduksi seperti rahim, vagina, saluran untuk melahirkan dan menyusui. Sedangkan laki-laki memiliki penis, kala menjing, dan memproduksi sperma. Dilihat dari sini,sex adalah permanen, tidak dapat berubah karena menurut ketentuan biologis atau yang sering disebut dengan ketentuan Tuhan atau kodrat.

Lain halnya dengan gender yang berarti sifat yang melekat pada perempuan dan laki-laki yang dibentuk secara sosial dan kultural. Gender lebih sering dipakai dalam  aspek non biologis sehingga dalam pengkajiannya lebih menekankan pada perkembangan sisi feminitas dan maskulinitas seseorang. Perempuan biasanya dikenal sebagai sosok yang lemah lembut, cantik, emosional atau keibuan, sedangkan laki-laki dianggap sebagai seorang yang kuat, rasional, jantan dan perkasa. Sifat-sifat yang disematkan kepada kedua jenis kelamin ini cukup bertentangan dan karena merupakan bentukan sosial dan kultural, sifat-sifat yang dimaksudkan sebenarnya bisa ditukar.

Beberapa pemikir mengembangkan definisi gender menurut perspektif mereka masing-masing, antara lain: menurut Hilary M. Lips, seorang professor psikologis dan direktur gender studies di Ranford University dalam bukunya yang berjudul Gender: The Basics, mengartikan gender sebagai harapan dan peranan untuk perempuan dan laki-laki yang termediasi oleh budaya (Lips, 2014:2).Menurut Elaine Showalter, seorang feminist, gender adalah perbedaan perempuan dan laki-laki yang dilihat dari konstruksi sosial budaya. Pun dalam pemikiran feminisme radikal, sistem sex/gender yang mewujudkan tradisi patriarkat adalah merupakan dasar dari penindasan perempuan. Ahimsa-Putramembagi istilah gender menjadi beberapa pengertian, antara lain: gender sebagai istilah asing dengan makna tertentu, gender sebagai suatu fenomena sosial budaya, gender merupakan kesadaran sosial, gender sebagai suatu persoalan sosial budaya, gender merupakan konsep analisa dan gender sebagai sebuah perspektif untuk memandang kenyataan.

Perubahan sifat antara perempuan dan laki-laki, atau perubahan gender, dapat terjadi dari waktu ke waktu dan dari tempat ke tempat bahkan dari kelas ke kelas (Coplan: 1987). Misalnya, pada masa sebelum kedatangan bangsa kulit putih ke tanah Amerika, mayoritas suku asli Amerika atau Indian mengembangkan budaya matriarkat yang menempatkan perempuan lebih tinggi daripada laki-laki dalam tatanan masyarakat. Dalam kurun waktu yang sama pula, di wilayah Eropa, mayoritas orang kulit putih melestarikan budaya patriarkat yang menempatkan laki-laki dalam posisi di atas perempuan dalam segala aspek kehidupan masyarakat. Orang-orang kulit putih yang mendatangi tanah Amerika membawa budaya mereka dan interaksi dengan orang-orang Indian memungkinkan pertukaran atau pengadopsian tradisi dari salah satu budaya yang dominan.[1] Perbedaan peran gender juga terlihat pada masa perbudakan kulit hitam di Amerika Serikat. Dalam ras kulit putih, laki-laki adalah seorang pencari nafkah bagi keluarga, dan sebaliknya, dalam kontruksi masyarakat kulit hitam, para perempuanlah yang lebih banyak menjadi tulang punggung keluarga.

Sejarah perbedaan gender (gender difference) antara perempuan dan laki-laki terjadi melalui proses yang panjang dan dikarenakan oleh banyak hal yaitu dibentuk, disosialisasikan, diperkuat, bahkan dikonstruksikan secara sosial kultural melalui ajaran agama dan kenegaraan. Dalam proses sosialisasi yang panjang, gender akhirnya dianggap sebagai ketentuan Tuhan, seolah-olah bersifat biologis yang tidak bisa diubah lagi dan dipahami sebagai kodrat perempuan dan laki-laki. Diskursus gender ini lama-lama berevolusi dan mempengaruhi biologi perempuan dan laki-laki. Ilustrasinya adalah, karena laki-laki disematkan sifat kuat, maka laki-laki menjadi terlatih dan termotivasi untuk menjadi seperti apa yang diharapkan masyarakat, yaitu berfisik lebih kuat dan lebih besar. Dan sebaliknya perempuan dikonstruksikan menjadi lemah lembut, rapi dan melayani. Sosialisasi ini terjadi sejak bayi sehingga mempengaruhi perkembangan emosi, visi dan juga fisik perempuan dan laki-laki. Karena konstruksi berlangsung lama dan mapan, sifat-sifat ini kemudian dianggap sebagai ketentuan Tuhan. Peran gender ini pada masa-masa sebelumnya dianggap tidak menimbulkan masalah sehingga tidak digugat. Seiring dengan perkembangan pemikiraan, penerapan perbedaan gender dalam kehidupan masyarakat atau yang disebut peran gender (gender role) kemudian dinilai menimbulkan ketidakadilan, dan dalam sistem patriarkat pihak yang dirugikan adalah kaum perempuan.

Dalam kehidupan masyarakat, masing-masing gender memiliki peran yang berbeda. Dengan sifat maskulin, laki-laki ditempatkan di ranah publik, sedangkan perempuan ditempatkan di ranah domestik. Peran gender adalah ide kultural yang menetapkan peran perempuan dan laki-laki sekaligus menetapkan bagaimana keduanya berinteraksi satu sama lain. Peran ini akan selalu mengalami perubahan mengikuti perubahan sosial masyarakat yang dinamis. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh George Murdock, seorang antropolog, yang menunjukkan bahwa peran gender di semua budaya adalah sama.Pada masyarakat tradisional, laki-laki konsisten dengan pekerjaan yang bersifat maskulin, seperti: pandai besi, membuat kapal, tukang kayu dll. Sedangkan perempuan lebih konsisten pada pekerjaan feminin seperti memasak, mencari kayu bakar, mencuci dll. Peran gender ini dibentuk sedemikian rupa dan dimaksudkan untuk menjaga kelangsungan kehidupan masyarakat.

Pertumbuhan dan mobilisasi penduduk serta revolusi industri sangat mendukung perubahan sosial. Keadaan ini juga diikuti oleh perubahan peran gender yang ada di masyarakat. Perempuan semakin menyadari bahwa ranah publik sangat berkembang pesat dan di saat yang sama mereka juga menyadari bahwa norma-norma yang ada di ranah domestik telah membatasi ruang gerak mereka untuk terlibat di ranah publik.Ekonomi global memberikan dukungan terhadap peningkatan taraf hidup dan martabat perempuan.

Perubahan sosial masyarakat lambat laun akan diikuti oleh perubahan budaya. Masyarakat akan mulai terbisa dengan munculnya banyak perempuan di ranah publik yang sebelumnya didominasi oleh laki-laki. Bahkan laki-laki juga akan terbuka untuk menggeluti wilayah domestik atau pekerjaan lainnya yang sebelumnya dianggap menjadi perpanjangan tangan dari sifat perempuan. Nilai dan norma tradisional mulai bergeser menjadi kontemporer karena menyesuaikan dengan situasi dan kondisi dan cenderung pragmatis untuk kepentingan bersama.

Tidak hanya ekonomi global yang memerlukan keterlibatan perempuan di ranah publik dan sebaliknya, pesatnya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi juga memicu perubahan gender secara ekstrim di masyarakat. Dengan dasar hak asasi manusia, orang-orang mulai bergerak menentukan peran gender mereka tanpa lagi mengindahkan jenis kelamin atau sex.

[1]Untuk pembahasan selanjutnya, sistem yang dimaksud adalah partriarkat, karena sistem ini cukup universal dan menimbulkan ketidakadilan terhadap kaum perempuan.

Baca Juga:

CATATAN GENDER: Pregnant Man dan Peran Berdasarkan Perbedaan Gender di Masyarakat

CATATAN GENDER: Feminisme dan Kekuasaan Perempuan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here