CATATAN GENDER: Feminisme dan Kekuasaan Perempuan

sumber: pixabay

Ide penyetaraan perempuan dan laki-laki dalam segala aspek kehidupan atau yang disebut dengan feminisme bukanlah hal baru. Gagasan ini sebenarnya sudah lama ada dan diperjuangkan oleh perempuan maupun laki-laki sejak tahun 1550an, sebelum istilah feminisme digunakan untuk menyebut segala usaha untuk menentang partriarkat (Gamble: 2006, p. 3). Istilah feminisme baru dikenal pada tahun 60an dandalam perkembangannya, feminisme banyak menghadapi rintangan baik dari sistem partriarkat yang telah lama mendominasi maupun dari pihak perempuan itu sendiri. Kurangnya sosialisasi tentang dasar pemikiran feminisme, maraknya aktifitas-aktifitas ekstrim yang menjadikan feminisme sebagai konsep dasar aktifitas tersebut, serta propaganda dari para pihak kontra feminismememberikan kontribusi terhadap stereotip feminisme dalam rekognisi masyarakat. Feminisme sering diartikan sebagai kebencian terhadap laki-laki, anti laki-laki, lesbian, dll. Dalam pemikiran feminisme, perempuan adalah sama unggulnya dengan laki-laki, dan dalam praktiknya sangat tergantung terhadap pemahaman individu, bagaimana mereka memaknai dan menerapkan dasar pemikiran ini.

Dalam perkembangannya, aliran feminisme terpecah dan memenuhi spektrum dari feminisme radikal atau ekstrim sampai dengan feminisme moderat. Di Amerika Serikat sendiri, aliran feminisme terbesar adalah antara lain feminisme liberal, radikal, Marxist-sosialis dan untuk aliran-aliran lainnya merupakan perpecahan dari ketiga aliran besar ini. Di kehidupan masyarakat modern seperti sekarang ini, dengan keaktifan para perempuan di ranah publik, yang sebelumnya didominasi oleh laki-laki, secara tidak langsung merupakan perwujudan pemikiran dasar feminisme. Seiring berjalannya waktu, perjuangan panjang feminisme menuaikan hasil dengan kemunculan perempuan di sektor publik yang sangat krusial seperti politik, pemerintahan, hukum, ilmu pengetahuan dll, mereka bersinergi membentuk pemahaman dan diskursus baru mengenai perempuan. Pada ahir tahun 1970an, isu perempuan sudah mulai masuk dalam agenda pembangunan, tetapi hal ini masih merupakan permulaan dari kesekian rute panjang perjuangan penyetaraan gender.

Naomi Wolf dalam buku Genderquake atau gegar gender menuliskan bahwa perempuan setelah tahun 1991 mulai mengalami perubahan untuk selamanya. Di Amerika Serikat, kasus-kasus pelecehan seksual terhadap perempuan seperti yang dialami oleh Anita Hill, para perempuan anggota Korps Angkatan Laut Amerika dan Konvensi Tailhook serta pelecehan seksual yang dilakukan oleh Bob Packwood sepanjang tahun 1991-1992 menjadi titik balik dari usaha 52 perempuan untuk mendapatkan posisi di Kongres dan Senat.

Terpilihnya Bill Clinton, seorang pro-feminist menjadi presiden Amerika Serikat di tahun 1992 menandai berakhirnya rejim patriarkat Reagan dan Bush di Amerika Serikat, dan menjadi momen saat pemerintah memerhatikan isu-isu perempuan dalam program kerjanya. Tidak hanya di Amerika Serikat, pemerintah di Negara Inggris, Australia, Norwegia dan Irlandia juga mulai mengangkat isu-isu perempuan dan memberikan kesempatan bagi para perempuan untuk berkecimpung di dunia pemerintahan yang sebelumnya didominasi oleh laki-laki.Secara politik, suara perempuan sebagai warga Negara mulai terwakili oleh kehadiran wakil-wakil perempuan di ranah pemerintahan sehinga kebijakan-kebijakan yang akan dibuat diharapkan akan bisa mengutamakan kepentingan perempuan yang sebelumnya kurang begitu diperhitungkan. Di kalangan masyarakat, organisasi-organisasi perempuan juga mulai tumbuh dengan baik dan para perempuan pekerja professional mulai menggunakan kekuasaan mereka dengan cara-cara baru  dan membuktikan potensi struktur kekuasaan perempuan yang sedang tumbuh.

Seiring dengan eksistensi perempuan dalam ranah kekuasaan, media pun ikut serta menghargai, mendukung dan menyanjung pencapaian mereka. Perempuan juga mulai banyak yang menggeluti wilayah ini.Stereotip dan pencitraan perempuan yang dulunya digambarkan sebagai mahluk yang lemah, obyek visual dan seksual serta terpimpin mulai bergeser dengan adanya femomena baru ini. Hal ini juga sekaligus membantah gagasan tradisional tentang perempuan yang dianggap tidak cakap dalam beraktifitas di ranah publik.

Dalam ranah media, Oprah Winfrey juga ikut andil dalam menyuguhkan media dalam kemasan yang berbeda dari biasanya. Dengan penonton yang mayoritas ibu-ibu rumah tangga, tayangan Oprah hadir memberikan sajian dengan konten inspiratif dan edukatif bagi para penontonya. Sebagai produk budaya populer yang merefleksi dan mempengaruhi masyarakat, tayangan ini memberikan gambaran dan menjadi jendela dunia luar dan mengungkap sisi lain dari kenyataan yang biasanya cenderung tidak terlihat oleh masyarakat. Dan yang menariknya lagi, Oprah yang seorang feminist, dapat menyebarkan ideologinya melalui pengemasan sajiannya.

Acara-acara semacam ini berperan melebihi upaya komunitas feminisme. Dengan fasilitas media, ditayangkan berulang-ulang dan menjadi bagian dari budaya Televisi, tayangan ini  meningkatkan kesadaran berpolitik kaum perempuan, menaikkan rasa percaya diri; bahwa ‘perempuan biasa’ pun dapat berbuat sesuatu yang unik bagi lembaga-lembaga budaya; mereka menghargai pendapat perempuan dari berbagai kelas, semua ras, semua tingkat pendidikan, bersikap seakan seluruh punya makna, menekankan bahwa isu-isu keperempuanan memiliki arti penting dalam kehidupan masyarakat (Wolf, trans.:1997, p.13).

Pencapaian perempuan yang luar biasa baru-baru ini adalah prestasiHillary Clinton menjadi kandidat Presiden Amerika Serikat pengganti Barrack Obama. Asam garam yang telah dilakoninya selama menyelami dunia politik sudah tidak diragukan lagi sebagai bekal utama yang membuatnya unggul dibandingkan rival sengitnya, seorang yang nyentrik dengan gagasan yang seksis dan rasis, Donald Trump.Dan apabila dia berhasil memenangkan pemilihan presiden, dia akan tercatat sebagai presiden perempuan pertama di Amerika Serikat.

Seperti halnya perjuangan eksistensi Hillary di ranah politik, eksistensi para perempuan di ranah publik lainnya pun tidak serta merta berjalan mulus. Amerika Serikat yang dikenal sebagai Negara egaliter pun masih memegang teguh tradisi patriarkat dan nilai-nilai tradisional keluarga. Para perempuan yang menduduki jabatan krusial di perusahaan swasta ternama di Amerika Serikat masih mendapatkan gaji yang lebih rendah daripada seorang laki-laki untuk posisi yang sama. Tetapi meskipun demikian, keberadaan mereka sudah cukup membuktikan bahwa untuk menjadi perempuan tidak serta merta harus melakoni peran feminin seperti mengurus anak, memasak dan pekerjaan rumah tangga lainnya, perempuan dengan sifat femininnya juga mampu berperan memimpin, bahkan mempunyai cara kepemimpinan yang berbeda dan tidak kalah bijaksana dibanding dengan laki-laki. (*)

Baca Juga:

CATATAN GENDER: Pergeseran Makna Sex/Gender Dalam Konteks Sosial Budaya

CATATAN GENDER: Pregnant Man dan Peran Berdasarkan Perbedaan Gender di Masyarakat

1 COMMENT

  1. Tulisan yang sangat menginspirasi.

    FYI, mohon maaf sebelumnya bila kurang berkenan. Bila sekiranya tertarik untuk membukukan tulisan-tulisan di blog ini, kami bisa bantu dr mulai proses pengumpulan tulisan, layout, desain kaver buku, pengajuan ISBN (bila diperlukan), cetak, dengan oplag minimal sekalipun (5 eks).
    Untuk informasi selanjutnya silakan hubungi kami: https://heryamedia.wordpress.com/

    Untuk informasi selanjutnya bisa hub kami:
    E. heryamedia@gmail.com
    WA 0877-67866622

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here