Campus Social Responsibility, Program “Save The Next Generation”

Wali Kota Tri Rismaharini saat memberikan penghargaan/apresiasi pada salah satu kakak asuh

Rek rek, sejak hari ini, tiap Selasa malam atau Rabu, www.suroboyo.id akan merilis artikel tentang inovasi yang telah dilakukan oleh Pemkot Surabaya. Semuanya telah dilaksanakan sejumlah Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD).

Semoga dengan dirilisnya tulisan-tulisan tersebut, kontrol masyarakat makin kuat. Sementara Pemkot bakal lebih istiqomah dalam membuat terobosan dan melakukan optimalisasi kegiatan. Termasuk, efisiensi dan efektifitas anggaran.

Jangan sampai boros, apalagi mubadzir. Aamiin.

 

——

BERITA SURABAYACampus Social Responsibility (CSR) merupakan program yang dijalankan Dinas Sosial (Dinsos) Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya bersama setidaknya 24 perguruan tinggi di Kota Pahlawan. Dalam kegiatan ini, kampus menerjunkan para mahasiswa melakukan pendampingan pada anak putus sekolah dan anak rentan putus sekolah. Tujuan utamanya, mengembalikan anak putus sekolah ke bangku pendidikan. Sedangkan anak rentan putus sekolah, dapat menguat motivasinya untuk terus melanjutkan pelajaran ke jenjang lebih tinggi.

Teknisnya, satu mahasiswa mendampingi satu orang adik asuh. Dengan demikian, efektifitas pendampingan bisa terjaga. Melalui langkah ini, terjadi transfer ilmu pengetahuan, baik akademik maupun non akademik, dari mahasiswa pada adik asuh.

Ada begitu banyak dampak positif atau manfaat dari program yang sudah memasuki tahun ketiga ini. Baik untuk masyarakat (anak dengan masalah sosial dan keluarganya), perguruan tinggi, mahasiswa, Pemkot, dan swasta. Di sini, Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKMB) dikategorikan sebagai pihak swasta. Pun demikian dengan perusahaan yang ikut membantu penggelontoran dana Corporate Social Resonsibility.

Dana dari pihak swasta biasanya digunakan untuk beasiswa pembelian perlengkapan sekolah. Selain dari swasta, kegiatan ini juga didanai Personal Corporate Responsibility (PSR) staf Dinsos dan APBD Pemkot. Dana APBD digunakan untuk kebutuhan rapat koordinasi, kegiatan kakak-adik asuh (di antaranya, outbond bareng untuk menguatkan keakraban), event pengukuhan mahasiswa dan kampus terbaik, dan lain sebagainya.

Manfaat kongkret yang diterima adik asuk dan keluarganya antara lain soal perubahan pola pikir. Yang dulunya kurang begitu peduli pada pendidikan, menjadi lebih yakin bahwa pendidikan merupakan jalan menuju masa depan yang gemilang. Menariknya, dalam proses pendampingan, kerap ditemukan problem lain dalam keluarga. Misalnya, soal administrasi kependudukan yang belum tertib (kelengkapan surat/identitas masih minim), biaya pendidikan yang menjadi momok, dan kebutuhan primer hidup seperti jaminan kesehatan yang tidak tercukupi.

Dengan adanya pendampingan, masalah keluarga itu dapat langsung dikomunikasikan pada Pemkot dan dicarikan solusinya. Yang jelas, akses informasi adik asuh dan keluarga terbuka lebar. Mereka pun berani memiliki harapan atau cita-cita yang besar. Kehidupan sosialnya jadi lebih baik.

Sedangkan bagi kampus, program ini merupakan sebuah sarana pengabdian masyarakat (salah satu Tri Dharma Perguruan Tinggi selain pendidikan dan penelitian). Kegiatan ini juga membuatnya dikenal lebih luas oleh warga Surabaya. Sedangkan dosen pendamping bakal dapat nilai sertifikasi mengajar. Khusus bagi kampus swasta, aktifitas ini dapat memberi credit poin dalam penilaian akreditasi.

Tak hanya itu,  mahasiswa di kampus tersebut memeroleh “laboratorium” hidup. Khususnya, di bidang sosial kemasyarakatan. Mahasiswa ditantang untuk menyelesaikan permasalahan dengan langsung turun ke lapangan. Melalui program ini, karakter mahasiswa dibentuk untuk lebih kreatif, inovatif, inspiratif, dan berempati pada orang lain. Secara akademik, kegiatan ini dapat dinilai sebagai elemen Kuliah Kerja Nyata (KKN).

Dari sisi Pemkot, kegiatan ini menjadi jalan untuk mengefisienkan anggaran. Sebab, program ini bersifat partisipatoris dan kemitraan dengan pemangku kepentingan.

Bagi pihak swasta, gagasan ini menjadi alternatif untuk menyalurkan Corporate Social Responsibility di tempat dan waktu yang tepat. Mereka juga bakal lebih populer di mata publik. Pada bagian lain, program Dinsos ini menggandeng sejumlah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) terkait dan media massa. Dua komponen masyarakat tersebut memiliki daya jelajah tinggi dan banyak memberikan sumbangsih positif.

Problem kota besar

Persoalan anak putus sekolah sudah menjadi problem klasik di kota besar. Termasuk, Surabaya. Dengan luas wilayah 33.306, 30 Ha dan jumlah penduduk mencapai 3.110.187 orang, perkembangan kota bergerak pesat. Lokasi yang strategis dan pembangunan yang relatif merata menjadikannya primadona.

Banyak warga dari daerah lain yang tertarik mengadu nasib di sini. Harapannya, memeroleh pendapatan lebih tinggi dan fasilitas yang lebih lengkap. Masalahnya, sebagian dari mereka bermigrasi ke Surabaya tanpa tujuan pekerjaan dan keahlian yang mencukupi. Kalau sudah begini, jadilah mereka pengangguran dan kelompok masyarakat yang berpenghasilan minim.

Tatkala kebutuhan dasar dalam keluarga belum terpenuhi, pendidikan tidak lagi menjadi prioritas. Akibatnya, sekolah anak-anak kurang diperhatikan. Mereka rentan untuk putus sekolah. Bahkan, tidak sedikit yang sudah putus sekolah. Implikasi lain, tak sedikit anak-anak yang dieksploitasi. Termasuk, oleh orang tuanya sendiri. Anak disuruh bekerja dan diminta melupakan sektor pendidikan.

Berkaca dari fenomena ini, Dinsos merumuskan program yang bersifat sinergis dengan semua pemangku kepentingan. Tercetuslah ide menjalankan Campus Sosial Responsibility (CSR). Meski dari segi penamaan mengambil kata “Campus” sebagai sentral, pihak-pihak lain diajak ikut serta.

Bisa dibilang, “tokoh” utama program ini adalah para mahasiswa. Mereka dinilai sebagai eksponen masyarakat yang penuh semangat dengan idealisme memajukan kota. Dari segi usia, mereka tidak terpaut terlalu banyak dengan adik asuh atau anak-anak sasaran program. Mereka pas untuk menjadi role model.

Terdapat sejumlah tahap pelaksanaan program. Mulai dari pendataan (Dinsos bekerjasama dengan kecamatan, kelurahan, dan Dinas Pendidikn), sosialisasi, rekrutmen mahasiswa, integrasi data, gathering, bimbingan teknis proses pendampingan, proses pendampingan, monitoring evaluasi, dan penilaian CSR (terkait pemberian reward bagi mahasiswa dan kampus terbaik yang dipilih juri independen).

Mahasiswa tebar motivasi

Mahasiswa melakukan pendampingan dengan mengunjungi adik asuhnya minimal satu kali seminggu. Berapa lama? Sekitar satu tahun atau saat adik asuh dan keluarga sudah menunjukkan tren pola pikir positif tentang pentingnya sekolah. Seperti yang sempat disinggung di awal, fokus para mahasiswa adalah memberikan motivasi agar adik asuh mau kembali atau tetap sekolah. Termasuk, mengontrol kegiatan akademiknya.

Sebelum melaksanakan pendampingan, ada sejumlah langkah pendahuluan yang harus ditempuh mahasiswa. Antara lain, lolos rekrutmen dari pihak kampus, melengkapi diri dengan ID Card dari Dinsos dan Surat Tugas dari kampus, mempelajari screening form calon adik asuh, melakukan home visit dan mendapat persetujuan dari pihak keluarga adik asuh. Untuk memudahkan pendampingan, mahasiswa dan adik asuh, mesti memiliki jenis kelamin dan agama yang sama.

Menariknya, mahasiswa diberi kebebasan untuk mengunjungi anak di rumah, sekolah atau lingkungan lain. Para pemburu gelar sarjana itu juga boleh melakukan koordinasi dengan pihak lain seperti keluarga, tokoh masyarakat, Dinsos atau instansi terkait lain.

Selain dapat arahan di ranah pendidikan, adik asuh dan keluarganya mendapat faedah lain. Misalnya, mendapat akses untuk banyak program kesehatan. Termasuk, sunat massal dan pengobatan gratis. Juga, kemudahan pengurusan administrasi kependudukan keluarga seperti akta kelahiran, surat nikah, dan kartu susunan keluarga. Tak terkecuali, pelatihan keterampilan (soft skill) yang melibatkan adik asuh dan anggota keluarganya.

Banyak Pembelajaran

Dalam pelaksanaannya, terdapat ragam kendala yang menjadi penghalang. Tapi toh, semua dapat dilewati dengan baik. Asalkan, sejak awal, terpatri niat kuat yang didasari ketulusan dan keseriusan. Dari sini, pembelajaran tentang sikap pantang menyerah bisa disesap.

Kendala yang sempat mengintai antara lain berupa dukungan yang tidak maksimal dari orang tua adik asuh. Selain itu, lingkungan di sekitar (contohnya, tetangga dan tempat bermain anak) kadang tidak mendukung dan kurang kondusif. Perkembangan mental anak pun labil. Lingkungan yang masih menjadikan “ritual” minum minuman keras, judi, dan bermain play station sampai larut malam sebagai hal lumrah, pasti berefek negatif bagi adik asuh. Bocah cenderung malas sekolah. Di sini, mahasiswa ditantang untuk kreatif dan telaten dalam menjalankan tugasnya.

Harus diakui, sebagian mahasiswa belum memiliki banyak pengalaman berinteraksi langsung dengan kondisi seperti ini. Terlebih, kakak asuh masih memiliki agenda kuliah di kampus. Kelihaian mengatur waktu menjadi hal yang tak kalah penting. Pemantauan atau monitoring dan evaluasi rutin dilaksanakan. Terdapat pertemuan rutin setiap bulan antara Dinsos dan mahasiswa. Saat itu, dilaksanakan sharing dan pengumpulan laporan perkembangan adik asuh. Disediakan pula fasilitas pelaporan online di website Campus Social Responsibility. Pihak kampus dan dosen pun turut memberikan evaluasi dan pemantauan.

Guna membuat program lebih dinamis, diadakan kompetisi penilaian pendampingan di akhir tahun.  Sejumlah kategori reward diberikan. Untuk Mahasiswa Pendamping Terbaik, disediakan kategori Caring, High Productivity, dan Innovator. Sedangkan bagi Perguruan Tinggi Terbaik, disediakan kategori Proactive, The Best Coach, dan Innovative Campus.

Secara formal, kegiatan ini memiliki dokumen perencanaan jangka pendek dan jangka panjang. Gol jangka pendeknya adalah mengembalikan anak putus sekolah ke sekolah.  Sedangkan gol jangka panjangnya adalah tindak lanjut memasuki dunia kerja ketika anak sudah menyelesaikan wajib belajar 12 tahun.

Salah satu aturan main dalam kegiatan ini adalah pendampingan dilakukan sampai adik asuh lulus wajib belajar 12 tahun. Tentu, yang bersangkutan tidak didampingi oleh satu mahasiswa saja. Tatkala mahasiswa sudah lulus, atau kala dia dianggap sudah saatnya digantikan oleh yang lain, “tongkat estafet” mesti bergulir untuk mahasiswa lain.

Jadi, MoU antara Dinsos dan perguruan tinggi diperpanjang saban tahun. Pada awal pelaksanaan kegiatan ini, atau tepatnya di 2014, sebagai pilot project, sasaran yang diambil hanya berasal dari 11 kecamatan. Melihat keberhasilan pada tahun tersebut, program ini direplikasi untuk diterapkan di seluruh kecamatan (31) pada 2015.

Banyak nilai-nilai moral yang dapat dipetik dan diasah. Antara lain, gotong royong, tidak individualis, komitmen, empati, kesadaran bermasyarakat, partisipasi, dan pengorbanan. Semua itu dilakukan untuk mencapai kesejahteraan dan keadilan sosial.

(dikutip dari buku “Inovasi Pelayanan Publik Kota Surabaya 2014-2015” yang dibuat oleh Bagian Organisasi dan Tata Laksana Pemkot Surabaya, 2016)

 

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here