Belajar dari Jemaah Tabligh

sumber: Duta Masyarakat, 13 Januari 2017

Berikut, artikel Bung Rio F. Rachman yang tempo Jum’at (13/1) dimuat di Duta Masyarakat. Semoga membuat kita selalu saling menghargai satu sama lain.

———-

Belajar dari Jemaah Tabligh

Dalam sebuah tautan youtube, KH Yahya Zainul Ma’arif, atau yang biasa disapa Buya Yahya, menerangkan sekelumit tentang Jama’ah Tabligh (JT), gerakan dakwah yang pertama kali lahir dan tumbuh di daerah India. Salah satu ulama Ahlussunah Wa Jama’ah itu menyampaikan, secara umum, tidak ada yang salah dari upaya menebarkan kebenaran ala JT. Sekadar disclaimer, guna mengesampingkan debat kusir, apa yang diterangkan pada artikel ini mengangkat poin positif belaka. Karena silang sengkarut dan tuduhan terhadap JT, sering terdistorsi, sehingga tak bijak bila ditelaah dalam satu esai ringkas.

Di sisi lain, jangan hanya karena mereka suka pakai gamis, celana cingkrang, dan berjenggot panjang, sebagian umat Islam merasa berhak menyematkan stereotip. Diskriminasi yang bertolak dari cara berpakaian, termasuk salah satu yang jahat di dunia ini. Terlebih, pada musim isu teroris dan ISIS seperti sekarang. Bukankah pemakai cadar, celana cingkrang, jenggot panjang, dan gamis ala Timur Tengah atau Asia Tengah Selatan itu, tidak semuanya melakukan tindak kriminal? Kalaupun ada yang dianggap siap jadi “pengantin” bom bunuh diri, harus adil juga beranalogi begini: pemakai celana jeans dan kaos oblong pun ada yang jadi tukang rampok atau penggasak nyawa orang, tukang zina atau koruptor!

Adaptif

Bila diperhatikan, gerakan transnasional yang telah cukup lama lestari di Indonesia ini sanggup menyesuaikan diri dengan kultur nusantara. Kalau membaca sejarahnya, JT tercetus oleh ulama bermahzab Hanafi. Tapi toh, saat berada di Indonesia, penghayat Syeikh Maulana Muhammad Ilyas Al-Kandahlawy itu berkiblat pada mahzab Syafi’i, aliran terbesar di negeri khatulistiwa ini.

JT berfokus pada dakwah kebaikan tanpa jualan isu bid’ah dan khilafah. Mereka tidak usil dengan ritual orang lain yang selama ini sudah mengakar. Orang-orang itu membaur, dan terkesan tidak kaku, bahkan dalam beberapa kasus, keguyuban mereka mirip dengan nahdliyin. Tentu, asumsi ini tidak dapat digebyah-uyah. Namun paling tidak, contoh yang satu ini mungkin dapat menjadi gambaran. Meskipun kasuistik dan tidak akomodatif untuk mendeskripsikan JT secara keseluruhan.

Jadi, pada suatu ketika, seorang kawan JT menelepon, meminta tolong untuk membelikan tiket kapal rute Surabaya-Sampit enam lembar. Dia mengaku kepepet dan tidak sempat beli. Sementara saat itu, enam orang bergamis dan berjenggot lebat tersebut tengah ada di bus Terminal Magetan-Tanjung Perak Surabaya. Tatkala ditanya, atas nama siapa tiket itu mesti dibeli. “Terserah, atur saja. Selama ini, tidak ada pemeriksaan nama dengan KTP saat mau masuk feri Surabaya-Sampit (entah apakah sekarang aturannya lebih ketat atau tidak, saya tidak paham)” demikian jawaban salah satu di antara mereka yang sejak SD sudah bercita-cita studi di Pakistan itu.

Iseng-iseng, saya membeli tiket dengan semua memakai nama tokoh ahlul bait, yang luar biasa dikultuskan dan “dimaksumkan” kaum Syi’ah. Ali bin Abi Thalib, Fatimah, Hasan, Husein, Jafar Shodiq, dan Ali Zainal Abidin. Hampir saya mengganti nama terakhir dengan Ayatullah Ruhullah Khomeini. Saya urungkan dengan pertimbangan, kalau-kalau kawan JT ini ternyata ber-mood jelek dan tidak lagi suka bercanda. Kebetulan, saat itu rumor kesesatan Syi’ah dan upaya mereka menyusup ke negeri Sunni sedang bergelora. Sewaktu tiket-tiket saya serahkan padanya di pelabuhan, teman itu tertawa hingga kelihatan gigi. “Wah, bisa dikira orang Syi’ah kami ini,” ujarnya. “Kami ini beribadah ala NU. Saya berani diadu hafalan bermacam-macam sholawat yang biasa dipakai maulidan,” tambahnya masih dengan senyum.

Kongkret

JT melaksanakan amalan kongkret. Turun ke lapangan, mengajak orang sembahyang. Menceramahi umat yang berkenan diceramahi. Berdakwah dengan santun, dan melingkupi omongan-omongan dengan balutan sabda Tuhan.

Dalam “regulasi” yang mereka anut, umumnya mereka turun ke lapangan (keluar, khuruj) selama tiga/tujuh/empat puluh hari. Meski bilangan itu dapat “ditawar” dengan berbagai varian dan bermacam alasan logis. Dana yang dipakai? Duit mereka sendiri, atas keikhlasan keluarga. Tidak bergantung pada donatur, terlebih proposal kegiatan!

Sementara banyak gerakan lain yang sekadar jadi macan facebook dan youtube, halaqoh dengan undangan via poster, atau mengajak orang-orang terdekat bergabung untuk dicekoki sejarah politik Islam, JT hadir di tengah masyarakat secara langsung. Kadang tidur di masjid, bawa kompor sendiri buat memasak, sambil tentu saja, ikut meramaikan masjid  dengan ragam ibadah, sekaligus turut membersihkan rumah Tuhan itu.

Mereka datangi rumah orang. Secara terang-terangan, berkata kurang lebih demikian seusai mengucapkan salam dan berjumpa penghuninya, “Bapak, mari kita sholat jama’ah di masjid. Pahalanya jauh lebih besar dari pada sholat di rumah,”. Duh, betapa mental mereka begitu baja!

Biasanya, saban beberapa puluh menit jelang lima kali adzan dalam sehari. Kerap pula, diiringi ajakan kebaikan lain seperti bersedekah, berbaik hati pada tetangga, dan memperbanyak sholat sunah. Mereka tidak risih untuk face to face, bahkan saat ajakan itu ditolak. Orang-orang ini sepertinya meniru jejak Sayyidina Abu Hurairah. Yang hobinya ngobraki orang Madinah untuk datang ke masjid. Dengan mengetuk dari pintu ke pintu, atau mengundang langsung secara berhadapan.–

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here